Tak ada Natal tanpa kukis mentega! Tradisi yang telah mengakar dalam hidup kita selama ini mendatangkan kerepotan tersendiri. Kata orang, persiapan Natal di Manado telah dimulai sejak Januari, sesuatu yang kita akan sangkal 2 tahun terakhir ini karena persiapan Natal kita sudah dimulai Desember tahun sebelumnya! Sejak 2 tahun lalu kita mengikuti arisan tabungan yang dimulai pertengahan Desember dan akan berakhir pada pertengahan Desember tahun sesudahnya. Sebelumnya arisan tabungan yang kita ikuti dimulai Januari, tapi kita tidak tahu kenapa arisan yang satu ini dimulai Desember. Ha..ha...ha.... Anyway, sejak menginjakkan kaki di sini, kita juga sudah begitu repotnya mencari margarine yang bisa menggantikan blue bland margarine. Segala merk sudah kita coba (termasuk merk yang sama) dan beberapa diantaranya berakhir di tong sampah. Ini kita lakukan untuk persiapan my Christmas cookies. Tapi sampai h-5 sang margarine belum juga ditemukan. Yang kita temukan adalah jenis mentega yang begitu murahnya disini, sealiknya begitu mahalnya di sana sehingga katanya kelezatan kukis mentega diukur di banyaknya penggunaan mentega ini. Di sana kita hanya sanggup mencampurkan 1 kaleng mentega itu dengan sekilo blue band. Kita sampai bela-belain mencari ke kota seberang, tidak juga kita temukan. Dengan berat hati akhirnya kita mencomot satu merk mentega. Hal yang sama juga terjadi bagi sebuah nenas. Kita telah mencoba beberapa nenas, sampai satu hari kita melihat nenas yang hanya sebesar apel dengan warna yang sama dengan nenas kota yang terkenal manisnya. Kita pun membelinya dengan harga yang setara sekilo lebih apel (bayangkan di sana untuk sebiji apel setara dengan 1 nenas kota yang besar). Dengan bersemangat kita memulai eksperimen, dan jadilah selai nenas dari 2 nenas kecil. Saat mengambil gambar di atas, kita tersenyum kecut. 2 nenas Afrika itu hanya menghasilkan semangkok kecil (diameter 8cm) selai. Kita coba mengira-ngira, kemungkinan hanya bisa untuk 25 biji nastar. He..he...he...., hari ini kita berencana merealisasikan nastar itu dengan menggunakan cengkih yang kita bawa langsung dari sana.
Thursday, December 20, 2007
Let it snow
Kemarin pagi, pesan ym seorang teman mengagetkan kita: "buka jendelamu, dan lihat pemandangan di luar!" Pancaran sinar matahari yang berusaha menembus kabut terlihat masih malu walau jarum pendek telah menunjuk ke angka 8. Wow, akhirnya warna putih itu muncul juga! Putih yang sejak menginjakkan kaki ke sini sudah kita impi-impikan. Akankah tahun ini kita bisa merasakan "White Christmas?" Awal November lalu, seorang teman bertanya apa yang paling kita harapkan di sini, dan tanpa berpikir kita menjawab, White Christmas. Alunan Jim Reevees yang sejak kecil menghiasi Natal kita, I'm dreaming of a white Christmas.....
Tanggapan sang teman melenyapkan binar di mata kita, "s
udah beberapa tahun kami tidak merasakan White Christmas di sini". Saat berkumpul di Minggu Advent ketiga, teman-teman dengan antusias berharap the first snow turun saat itu juga, tapi sepasang suami isteri yang jauh-jauh menjenguk kami sebaliknya berharap kalopun akan turun sebaiknya mereka sudah balik di rumah mereka. Kita hanya tertawa, juga teman-teman yang sangat mengharapkan merasakan salju kami yang pertama.
Tawa kami itu kembali terbayang, saat kita merasakan mengayuh sepeda pada suhu di bawah nol. Sang salju memang masih malu-malu turun, tapi cukup menggoyahkan dan menghapus tawa di wajah kita. Walaupun dengan sedikit menahan perih di ujung jari, kita tetap mengambil beberapa gambar yang harus diambil tanpa penutup tangan. Alunan Jim Reevees kembali terdengar: let it snow, let it snow, let it snow......
Oh the weather outside is frightful
But the fire is so delightful
And since we've no place to go
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!
It doesn't show signs of stopping
And I've bought some corn for popping
The lights are turned way down low
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!
When we finally kiss goodnight
How I'll hate going out in the storm!
But if you'll really hold me tight
All the way home I'll be warm
The fire is slowly dying
And, my dear, we're still goodbying
But as long as you love me so
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow
Oh the weather outside is frightful
But the fire is so delightful
And since we've no place to go
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!
Tuesday, December 18, 2007
Hallelujah: Antara Nikita dan Bon Jovi
Beberapa hari yang lalu, kita menyempatkan ke kota sebelah khusus menjemput titipan dari kampung. Termasuk di dalamnya sebuah cd Nikita. Rindu juga mendengarkan suara si anak kecil yang sekarang telah beranjak dewasa itu. Suaranya yang dulu terdengar begitu kanak-kanak menyanyikan "di doa ibuku", telah berganti dengan riuhnya gejolak remaja di "King of Majesty". Sebelumnya kita telah bosan dengan sendunya Ari, seraknya Once, bisikan Glenn dan sangat merindukan alunan: "....namun ada cinta yang tak pernah berakhir, cinta yang kudapat dariMu, tlah teruji lalui rentangan sang waktu........" Sayangnya ternyata di cd itu nggak ada alunan tersebut. Untunglah tanpa sengaja, saat membalik youtube, ternyata alunan itu ada. Dan tanpa sengaja juga jari ini menemukan sebaris judul lagu yang membuat mata kita membelalak! Jon singing Hallelujah! Dengan tidak sabar, kursor kita arahkan ke alamat itu dan mengalunkan suara (yang menurut kita) indah itu. Tak terasa 7 kali sudah video itu kita putar balik, belum terasa puas juga, dan banyak kata yang belum bisa kita tangkap. Seperti sang penyanyi yang terpaku saat pertama kali mendengar karya Leonard Cohen ini di tahun 1991, kita juga terpaku menatap keseriusannya mendendangkan melodi demi melodi. Kebetulan lagi kita mendapatkan foto sang penyanyi saat mendendangkan Hallelujah dengan penuh perasaan.
I heard there was a secret chord
that David played and it pleased the Lord
but you don't really care for music do ya
Well it goes like this the fourth the fifth
the minor fall and the major liftthe baffled king composing hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Well your faith was strong but you needed proof
you saw her bathing on the roof
her beauty and the moonlight overthrew you
she tied you to a kitchen chair
she broke your throne and she cut your hair
and from your lips she drew the hallelujah.
Hallelujah,hallelujah, hallelujah, hallelujah
Baby I've been here before
I've seen this room and I've walked this floor
You know, I used to live alone before I knew you
And I've seen your flag on the marble arch
and love is not a victory marchit's a cold and it's a broken hallelujah
Hallelujah,hallelujah, hallelujah, hallelujah
Well there was a time when you let me know
what's really going on below
but now you never show that to me do you
but remember when I moved in you
and the holy dove was moving too
and every breath we drew was hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Well maybe there's a God above
but all I've ever learned from love
was how to shoot somebody who outdrew you
And it's not a cry that you hear at night
it's not somebody who's seen the light
it's a cold and it's a broken hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Hallelujah
Subscribe to:
Comments (Atom)