Hari terakhir sebelum Natal, kita melangkahkan kaki keluar rumah dengan tujuan sebuah kota di seberang sana. Menghabiskan waktu selama beberapa bulan di kota kecil ini, kaki pun semakin gatal berjalan ke kota setiap ada kesempatan. Dua hari sebelumnya kita dan beberapa teman bela-belain memanfaatkan tiket "kemana suka" untuk berkelana ke Den Haag dan tanpa sadar bertindak selayaknya "rusa masuk kota" sibuk bergaya di hampir semua bangunan megah.
Dengan ke"pede"an seorang kita, sampailah kita di Tilburg setelah sebelumnya perjalanan terhambat dengan jadwal kereta yang berubah. Berbeda dengan perjalanan ke Den Haag yang berombongan dan sempat bolak balik karena terlalu banyak "kepala", perjalanan kali ini lebih ringkas karena hanya diputuskan oleh 1 kepala. Berbekal hasil searching di internet dan "alstublieft", kita pun menemukan alamat dimaksud dan bertemu dengan seorang Pastor yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Manado. Percakapan dan kegiatan yang menarik pun kita lewati di sini. Di akhir perbincangan, kita yang mengagumi tempat itu dikejutkan dengan perkataan Sang Pastor bahwa tahun depan lokasi tempat tinggalnya harus dikosongkan. Suatu ironi membayangkan bangunan yang kita taksir berusia 3 digit tahun itu akan beralih fungsi.
Di atas kereta pulang, lamunan kita dipadati dengan bangunan-bangunan sejenis yang dengan rajinnya kita catch dan banyak diantaranya telah beralih fungsi dan kalaupun tidak telah "mendua fungsi" sebagai objek wisata. Teringat juga akan ucapan seorang Ketua Sinode yang beberapa kali kita dengar dalam kesempatan yang berbeda: No Child Left Behind. Jauh di sana, di tanah tempat kita dilahirkan, hampir setiap Jemaat berlomba "mempermegah" bangunan yang sudah ada. Biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung itu sampai menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta sebulan. Sebaliknya biaya untuk mendapatkan buku ajar Anak Sekolah Minggu yang berharga hanya beberapa puluh ribu untuk 3 bulan sangat susah untuk dikeluarkan.
Kita begitu mengagumi keindahan bangunan Gereja Eropa. Bagaimana bangunan itu dibentuk dengan cita rasa yang tinggi. Keindahan yang penuh warna lewat tarikan kuas, kelokan ukiran dan pahatan indah beberapa nama besar seniman dunia. Hari itu kita baru sadar, kita tidak menemukan sebuah ruangan di hampir semua bangunan itu. Apakah mereka melupakan suatu ruang kecil bagi sang "pemilik masa depan" (meminjam istilah Gibran)? Hal yang sama yang kita temukan di Gereja kita. No child left behind, semoga kata itu tidak hanya sekedar slogan dan mampu dimaknai oleh pengambil keputusan. Sang pemilik masa depan jauh lebih berharga dari sebuah bangunan, setinggi dan seindah apapun bangunan itu.
Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya
bukalah pintunya, lihat di dalamnya
Gereja adalah orangnya.....
Wednesday, December 26, 2007
Thursday, December 20, 2007
Christmas Cookies
Tak ada Natal tanpa kukis mentega! Tradisi yang telah mengakar dalam hidup kita selama ini mendatangkan kerepotan tersendiri. Kata orang, persiapan Natal di Manado telah dimulai sejak Januari, sesuatu yang kita akan sangkal 2 tahun terakhir ini karena persiapan Natal kita sudah dimulai Desember tahun sebelumnya! Sejak 2 tahun lalu kita mengikuti arisan tabungan yang dimulai pertengahan Desember dan akan berakhir pada pertengahan Desember tahun sesudahnya. Sebelumnya arisan tabungan yang kita ikuti dimulai Januari, tapi kita tidak tahu kenapa arisan yang satu ini dimulai Desember. Ha..ha...ha.... Anyway, sejak menginjakkan kaki di sini, kita juga sudah begitu repotnya mencari margarine yang bisa menggantikan blue bland margarine. Segala merk sudah kita coba (termasuk merk yang sama) dan beberapa diantaranya berakhir di tong sampah. Ini kita lakukan untuk persiapan my Christmas cookies. Tapi sampai h-5 sang margarine belum juga ditemukan. Yang kita temukan adalah jenis mentega yang begitu murahnya disini, sealiknya begitu mahalnya di sana sehingga katanya kelezatan kukis mentega diukur di banyaknya penggunaan mentega ini. Di sana kita hanya sanggup mencampurkan 1 kaleng mentega itu dengan sekilo blue band. Kita sampai bela-belain mencari ke kota seberang, tidak juga kita temukan. Dengan berat hati akhirnya kita mencomot satu merk mentega. Hal yang sama juga terjadi bagi sebuah nenas. Kita telah mencoba beberapa nenas, sampai satu hari kita melihat nenas yang hanya sebesar apel dengan warna yang sama dengan nenas kota yang terkenal manisnya. Kita pun membelinya dengan harga yang setara sekilo lebih apel (bayangkan di sana untuk sebiji apel setara dengan 1 nenas kota yang besar). Dengan bersemangat kita memulai eksperimen, dan jadilah selai nenas dari 2 nenas kecil. Saat mengambil gambar di atas, kita tersenyum kecut. 2 nenas Afrika itu hanya menghasilkan semangkok kecil (diameter 8cm) selai. Kita coba mengira-ngira, kemungkinan hanya bisa untuk 25 biji nastar. He..he...he...., hari ini kita berencana merealisasikan nastar itu dengan menggunakan cengkih yang kita bawa langsung dari sana.
Let it snow
Kemarin pagi, pesan ym seorang teman mengagetkan kita: "buka jendelamu, dan lihat pemandangan di luar!" Pancaran sinar matahari yang berusaha menembus kabut terlihat masih malu walau jarum pendek telah menunjuk ke angka 8. Wow, akhirnya warna putih itu muncul juga! Putih yang sejak menginjakkan kaki ke sini sudah kita impi-impikan. Akankah tahun ini kita bisa merasakan "White Christmas?" Awal November lalu, seorang teman bertanya apa yang paling kita harapkan di sini, dan tanpa berpikir kita menjawab, White Christmas. Alunan Jim Reevees yang sejak kecil menghiasi Natal kita, I'm dreaming of a white Christmas.....
Tanggapan sang teman melenyapkan binar di mata kita, "s
udah beberapa tahun kami tidak merasakan White Christmas di sini". Saat berkumpul di Minggu Advent ketiga, teman-teman dengan antusias berharap the first snow turun saat itu juga, tapi sepasang suami isteri yang jauh-jauh menjenguk kami sebaliknya berharap kalopun akan turun sebaiknya mereka sudah balik di rumah mereka. Kita hanya tertawa, juga teman-teman yang sangat mengharapkan merasakan salju kami yang pertama.
Tawa kami itu kembali terbayang, saat kita merasakan mengayuh sepeda pada suhu di bawah nol. Sang salju memang masih malu-malu turun, tapi cukup menggoyahkan dan menghapus tawa di wajah kita. Walaupun dengan sedikit menahan perih di ujung jari, kita tetap mengambil beberapa gambar yang harus diambil tanpa penutup tangan. Alunan Jim Reevees kembali terdengar: let it snow, let it snow, let it snow......
Oh the weather outside is frightful
But the fire is so delightful
And since we've no place to go
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!
It doesn't show signs of stopping
And I've bought some corn for popping
The lights are turned way down low
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!
When we finally kiss goodnight
How I'll hate going out in the storm!
But if you'll really hold me tight
All the way home I'll be warm
The fire is slowly dying
And, my dear, we're still goodbying
But as long as you love me so
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow
Oh the weather outside is frightful
But the fire is so delightful
And since we've no place to go
Let It Snow! Let It Snow! Let It Snow!
Tuesday, December 18, 2007
Hallelujah: Antara Nikita dan Bon Jovi
Beberapa hari yang lalu, kita menyempatkan ke kota sebelah khusus menjemput titipan dari kampung. Termasuk di dalamnya sebuah cd Nikita. Rindu juga mendengarkan suara si anak kecil yang sekarang telah beranjak dewasa itu. Suaranya yang dulu terdengar begitu kanak-kanak menyanyikan "di doa ibuku", telah berganti dengan riuhnya gejolak remaja di "King of Majesty". Sebelumnya kita telah bosan dengan sendunya Ari, seraknya Once, bisikan Glenn dan sangat merindukan alunan: "....namun ada cinta yang tak pernah berakhir, cinta yang kudapat dariMu, tlah teruji lalui rentangan sang waktu........" Sayangnya ternyata di cd itu nggak ada alunan tersebut. Untunglah tanpa sengaja, saat membalik youtube, ternyata alunan itu ada. Dan tanpa sengaja juga jari ini menemukan sebaris judul lagu yang membuat mata kita membelalak! Jon singing Hallelujah! Dengan tidak sabar, kursor kita arahkan ke alamat itu dan mengalunkan suara (yang menurut kita) indah itu. Tak terasa 7 kali sudah video itu kita putar balik, belum terasa puas juga, dan banyak kata yang belum bisa kita tangkap. Seperti sang penyanyi yang terpaku saat pertama kali mendengar karya Leonard Cohen ini di tahun 1991, kita juga terpaku menatap keseriusannya mendendangkan melodi demi melodi. Kebetulan lagi kita mendapatkan foto sang penyanyi saat mendendangkan Hallelujah dengan penuh perasaan.
I heard there was a secret chord
that David played and it pleased the Lord
but you don't really care for music do ya
Well it goes like this the fourth the fifth
the minor fall and the major liftthe baffled king composing hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Well your faith was strong but you needed proof
you saw her bathing on the roof
her beauty and the moonlight overthrew you
she tied you to a kitchen chair
she broke your throne and she cut your hair
and from your lips she drew the hallelujah.
Hallelujah,hallelujah, hallelujah, hallelujah
Baby I've been here before
I've seen this room and I've walked this floor
You know, I used to live alone before I knew you
And I've seen your flag on the marble arch
and love is not a victory marchit's a cold and it's a broken hallelujah
Hallelujah,hallelujah, hallelujah, hallelujah
Well there was a time when you let me know
what's really going on below
but now you never show that to me do you
but remember when I moved in you
and the holy dove was moving too
and every breath we drew was hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Well maybe there's a God above
but all I've ever learned from love
was how to shoot somebody who outdrew you
And it's not a cry that you hear at night
it's not somebody who's seen the light
it's a cold and it's a broken hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Hallelujah, hallelujah, hallelujah, hallelujah
Hallelujah
Saturday, December 15, 2007
Christmas in Manado


Membayangkan Ibukota Propinsi Sulawesi Utara ini semakin terasa menyesak apalagi di Desember ini. Masih teringat Desember tahun lalu, ketika kita berlomba-lomba dengan sang waktu menikmati Desember di sana. Gema Natal yang telah dimulai sejak tanggal 1 Desember terasa begitu cepat berlalu. Desember sebelumnya juga begitu padat dengan usaha membantu memperindah Pohon Natal di Lapangan Tikala, sampai bersama seorang teman, kita pun memanjat sang pohon yang terbuat dari besi untuk menggantung hiasan Natal yang telah disiapkan. Pengalaman yang cukup mendebarkan karena kita hanya bermodal nekad dan sedikit kecakapan memanjat pohon di masa kecil, jauh di tahun-tahun lampau.
Desember ini, walaupun kesibukan itu tidak lagi kita nikmati, dengan antusiasnya kita menikmati cerita dari teman. Termasuk rencana-rencana dan keindahan yang disiapkan untuk Natal tahun ini. Dengan bangganya juga seorang teman bela-belain mengirimkan foto terbaru karya mereka, sebuah Pohon Natal yang disiapkan di tengah Taman Kesatuan Bangsa yang sedang berbenah. Kita hanya bisa terpaku menatap pohon ini, sambil membayangkan meriahnya acara yang akan digelar di sana yang tidak bisa kita ikuti. Thanks to Ferry buat kiriman fotonya.
Blue Christmas in Paris
Pertama menginjakkan kaki di Paris, teman yang menjemput dengan semangatnya langsung berjanji akan membawa kita untuk menginjakkan kaki di Paris zero point. Katanya kalo menginjakkan kaki di zero point, kita pasti kembali lagi ke Paris. Sesuatu yang kita tertawakan karena mimpi aja nggak akan berani, untuk menginjakkan kaki ke Paris kedua kalinya. Selain itu dibesarkan dengan penuh logika, susah bagi seorang kita untuk percaya yang menurut kita tidak masuk logika. Makanya waktu diantar ke Notre Dame, kita dengan cueknya melewatkan titik nol itu sambil menertawakan orang yang bergantian berdiri dan di foto di atas titik itu. Ketiga kalinya ke Notre Dame, teman itu dengan memaksa menyuruh kita berdiri dan difoto di zero point. Dengan masih tertawa, berdirilah kita di atas titik itu, untuk menghormati pendapat sang teman. Saat mengantarkan kita ke bandara, sang teman juga dengan optimisnya berujar bahwa kami akan bertemu lagi di Paris karena kita sudah menginjakkan kaki di zero point.
Hanya berselang 6 bulan kemudian, kita kembali merasakan ramainya berjejer di jalur metro bawah tanah Paris. Kenikmatan crepes yang selalu membayang kembali lagi kita rasakan. Menelusuri Champs Elysees di malam yang dingin menggigit hanya untuk menyaksikan kelap kelip lampu yang khusus dipasang menyambut Natal. Satu jam yang kita janjikan kepada seseorang ternyata molor menjadi lebih dari 6 jam karena tangan yang begitu gatalnya mengabadikan moment indah ini. Hasilnya adalah komplain berkepanjangan ketika kita mengetuk pintu kamar saat jarum pendek berada di antara angka 11 dan 12. Hehehehe, Paris menjelang Natal terlalu indah utk dilewatkan berkutat dengan persiapan ujian seseorang. Lagian ujian kok milih dekat Natal; dengan tingkat stres yg tinggi ditambah membayangkan harus back to Manado around that special day; bisa2x kehabisan tiket. Untuk alasan menemani ini kita tidak sempat ke Notre Dame untuk sekali lagi menginjakkan kaki di zero point itu. Paris, keindahannya di Desember ini semakin menobatkan kota ini sebagai the best tourism city in the world.
Thursday, December 6, 2007
Sinterklaas dag

Kesibukan di minggu ini membuat kita sedikit melupakan Hari Sinterklaas. Padahal sejak 1 November, seorang teman 1 koridor telah memulai dengan membagikan Sinterklaas chocolade letter. Saat pulang ke tempat tinggal sehabis latihan poco-poco tadi malam, sayup-sayup kita mendengar lonceng Gereja. Dengan semangat 45, kita memacu sepeda sekencang-kencangnya mencoba mendekati sumber lonceng itu. Di benak kita terbayang iring-iringan Sinterklaas yang selama ini selalu kita nikmati di hari-hari ini di suatu tempat ribuan kilometer dari sini. Untungnya lonceng itu terus berdentang. Semakin mendekati sumber lonceng, adrenalin yang sempat terpacu perlahan-lahan menurun. Tidak ada tanda-tanda rombongan Sinterklaas. Yang ada adalah rombongan jemaat yang berbondong-bondong menuju ke Gereja. Terdiam, kita menghentikan sepeda di depan Gereja itu. Gereja yang tiap hari kita lewati hampir 2 bulan ini. Gereja pertama yang kita temui di negeri ini yang berarsitektur modern, berbeda dengan Gereja-Gereja lainnya yang biasanya berusia ratusan tahun. Kita teringat tulisan dan ucapan beberapa orang tentang kosongnya Gereja di Eropa. Tadi malam, dengan pandangan terpesona, kita menatap sendiri jejeran mobil yang memenuhi halaman Gereja yang luas, barisan mobil memanjang di samping kiri-kanan jalan depan Gereja. Beberapa orang yang tergesa-gesa berjalan menuju Gereja, tua dan muda bahkan anak kecil. Tadi malam, Rabu malam bukan Minggu malam, kita menikmati makna lain dari Hari Sinterklaas. Di tempat yang ribuan km jauhnya dari sini, dimana rindu selalu kita bisikkan untuk tempat itu, hari-hari ini adalah hari yang paling menakutkan bagi anak kecil dan hari hura-hura bagi anak muda. Dalam sehari, kita akan berpapasan dengan rombongan anak muda, dengan seorang berpakaian Sinterklaas lengkap dengan tongkatnya serta beberapa orang lagi menghitamkan tubuh dan wajahnya. Rombongan yang bisa sampai beberapa mobil akan berkeliling kota dengan suara musik Natal yang sekeras-kerasnya, bergelantungan di atas mobil, memacetkan lalulintas, dan terutama berteriak memanggil anak yang akan dikunjungi. Tidak sedikit dari rombongan itu baru selesai melaksanakan tugasnya di atas jam 12 malam dan setelah itu berhura-hura.
Foto di samping ini kita ambil karena punya cerita lucu. Salah satu anak sangat penakut, sebaliknya yang satu tidak. Waktu kita tawarkan memakai pakaian Sinterklaas, dua-duanya sangat antusias, dan menikmati peran mereka membagikan berkat pada teman-teman mereka di Panti Asuhan. Saat akan pulang dari salah satu PA, kebetulan bertemu dengan rombongan Sinterklaas lainnya. Jadilah yang satu menghibur yang satu yang menangis ketakutan. Ada kesan tersendiri juga, karena ini kali yang pertama bagi salah satu anak tanpa didampingi orang terdekat. Sesuatu yang sempat mencemaskan kita. Sekali lagi selamat Hari Sinterklaas (walaupun sudah terlambat).
Tuesday, November 27, 2007
Perempuan Minahasa (2)
Perempuan Minahasa bisa diibaratkan seperti diamond. Diamond adalah arang dengan susunan atom karbon yang berbeda. Seperti diamond yang nilainya ditentukan oleh kelenturan jari-jari pemotongnya, demikian juga nilai seorang perempuan Minahasa ditentukan oleh lingkungan sekitarnya. Jangan salahkan perempuan-perempuan Minahasa yang memenuhi pub-pub di Batam, Papua, Jakarta atau dimanapun mereka dibutuhkan, jika yang menjadi bukti kesuksesan bagi sebagian orang Minahasa hanyalah seberapa banyak duit yang dikirim ke kampung, seberapa besar sumbangan yang dibacakan tiap Minggu di Gereja dan seberapa besar rumah yang dibangun. Mengubah arang menjadi diamond yang coba dilakukan para ilmuwan tidaklah segampang mengubah image "for sale" perempuan Minahasa. Dibutuhkan suhu, tekanan, kepadatan yang spesifik (yang sampai saat ini tidak bisa didapat) untuk merubah arang menjadi diamond, sedangkan yang dibutuhkan untuk merubah image perempuan Minahasa hanyalah kemauan lingkungan sekitarnya (baca: sebagian orang Minahasa) untuk mau berubah.
kita yang masih prihatin.
Perempuan Minahasa
Hari ini, kebetulan "kita" membaca posting seorang teman tentang "perempuan Minahasa" di suatu forum diskusi. Perempuan Minahasa yang terkenal "kehebatannya" di belantara Batam. Menjadi seorang perempuan Minahasa adalah suatu kebanggaan bagi seorang kita. Why not? Walaupun mengalami pelecehan sejak "journey" pertama meninggalkan Minahasa, kebanggaan itu selalu muncul saat melihat pembatasan pada perempuan-perempuan suku lainnya. Bertahun-tahun lalu, seorang "agamawan" menjadi pembimbing menikmati keindahan suatu daerah di luar Minahasa yang kita tempuh dengan pesawat (lihat posting sebelumnya). Di akhir perjalanan, keluarlah pengakuan dari "Sang Agamawan" bahwa pertama melihat kita dan kawan-kawan yang terlin
tas di pikirannya adalah 3 perempuan Minahasa yang akan menambah stok di balik "pagar seng putih". Mungkinkah pikiran "agamawan" itu adalah refleksi pikiran seorang laki-laki Minahasa yang gamang? Kita tidak tahu. Tapi waktu dan perjalanan lain semakin menambah daftar "pikiran pertama". Kata-kata seperti: oh dari Manado ya! bisa main kartu dong! Yang lebih ekstrim adalah ajakan clubing atau jalan-jalan yang langsung disampaikan saat tahu berhadapan dengan seorang perempuan Minahasa. Ha..ha..ha...., kita sampai hafal dengan gaya rayuan yang dimulai dengan: "pacar saya dulu dari Manado lho!" Emang nggak ada yang lain!
Perempuan Minahasa selalu menjadi pemimpin dalam Maengket (lihat gambar atas), suatu tarian syukur Minahasa. Tarian perang kabasaran pun akan sah-sah saja ditarikan oleh seorang Keke (gambar bawah). Seorang Lumimuut melahirkan Toar dan anak-anak Toar dengan petunjuk seorang Karema (perempuan juga!). Sangat tidak salah dilahirkan sebagai perempuan Minahasa, yang salah adalah semakin mempertegas label "for sale" yang terus dilakukan sebagian perempuan-perempuan itu.
Sunday, November 25, 2007
kita-blessingJourney

kita-blessingJourney, adalah kata yang akhirnya "kita" pilih menjadi nama blog ini. Sebenarnya maunya pake myJourney doang, tapi nggak keterima sama pemilik blogger, terus udah mo ketinggalan penjelasan si Dodo (yang begitu baiknya jadi pengajar kita-kita). Tiba-tiba kata "blessing" lewat di kepala dan dengan cepatnya jari-jari ini mengetikkan kata tersebut dan secepat itu pula diterima sama si blogger.
Nggak tahu kenapa, cuman kebetulan ato memang harus begitu "myJourney" become "kita-blessingJourney". Malam ini, terbayang lagi perjalanan pertama meninggalkan tanah Toar Lumimuut, bertahun lampau. My journey become a "blessing in disguise" journey. Gangguan pesawat (yang sampe 3 kali turun naik sebelum take off) menyebabkan "kita" berkenalan dengan seorang "agamawan" yang akhirnya mengajak "kita" keliling daerah baru, dan dari beliaulah kata "blessing in disguise" ini tercetus (ceritanya nanti di lain waktu). Kenikmatan menjelajah ini kemudian memacu adrenalinku untuk mengembangkan sayap lebih lagi, mencoba belantara Jakarta yang katanya ganas, apalagi bagi seorang "kita".
Jakarta? Ternyata tidak sesulit tanah kelahiran "kita"! Selama menghirup asap Jakarta, tanyakan pada "kita" transportasi jenis apa yang belum pernah "kita" naiki. Bus adalah pilihan utama dan ojek sepeda adalah pilihan terakhir. Ha...ha..ha..., masih juga terbayang nongkrong di belakang tukang ojek sepeda, terjebak di tengah kemacetan Beos saat jam pulang kantor. Ojek motor? Why not! Tahun lalu, di tengah kemacetan Jakarta, "kita" menerobos Sudirman di belakang tukang ojek motor, sambil dengan seerat-eratnya memegang tas yang berisi duit cash 40 juta. Nggak kebayang kalo saat itu diprit Polisi.
Tahun lalu, seorang anak berusia 6 tahun dengan mata terbelalak kaget bertanya pada "kita": "tidak punya pasport? umur segitu?" Aneh bagi seorang anak kecil berumur 6 tahun yang punya pasport sendiri melihat seseorang yang sangat jauh di atas umurnya belum pernah memegang yang namanya pasport. Tapi bukan sesuatu yang aneh bagi "kita" yang bermimpi pun tidak untuk bisa menginjakkan kaki di yang namanya luar negeri. Mimpi yang berwujud hanya sebulan dari percakapan itu. Sekali menginjakkan kaki di negeri tetangga yang tidak serumit Jakarta dan kali berikutnya harus bertanggung jawab pada suatu rombongan berjumlah lebih dari 80 orang, diikuti rombongan kecil lainnya.
Tahun ini, anak kecil yang sama yang telah bertambah umurnya kembali menatap "kita" dengan mata terbelalak kaget, "2 tahun tinggal di sana? Ruci!" Sama dengan "kita", dia juga merindukan saat-saat indah menikmati dinginnya Eropa, lezatnya "crepes" di Trocadero dan nikmatnya es krim di sepanjang Volendam, yang pernah sama-sama kami jelajahi.
Saat menulis posting ini (mulanya sih cuman buat penuhin blog, karena udah "ditagih" sama gurunya, sabar MasBoi!), di pelupuk mata menari-nari my blessing journey. Blessing journey dari sudut Minahasa, berkali-kali membelah ombak (sampai-sampai "kita" tahu tempat terbaik di dek kapal selama 5 hari perjalanan) dan awan, terkurunglah "kita" di sini, dalam ruang kecil di lantai 2 sebuah asrama. kita-blessingJourney masih akan panjang. Pemilihan foto untuk catatan ini didasari beberapa hal, my first journey from Minahasa (kita menganggap itu maju ke medan laga makanya "kita" wakili dengan gambar teman-teman yang pake baju Kabasaran, tarian perang Minahasa, thanks to Denny cs) pada catatan di atas adalah menuju Maluku (kebetulan ada Nyong Ambon yang mau "kita" ambil gambarnya). Enjoy my blog.
Saturday, November 24, 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)