Tuesday, November 27, 2007

Perempuan Minahasa


Hari ini, kebetulan "kita" membaca posting seorang teman tentang "perempuan Minahasa" di suatu forum diskusi. Perempuan Minahasa yang terkenal "kehebatannya" di belantara Batam. Menjadi seorang perempuan Minahasa adalah suatu kebanggaan bagi seorang kita. Why not? Walaupun mengalami pelecehan sejak "journey" pertama meninggalkan Minahasa, kebanggaan itu selalu muncul saat melihat pembatasan pada perempuan-perempuan suku lainnya. Bertahun-tahun lalu, seorang "agamawan" menjadi pembimbing menikmati keindahan suatu daerah di luar Minahasa yang kita tempuh dengan pesawat (lihat posting sebelumnya). Di akhir perjalanan, keluarlah pengakuan dari "Sang Agamawan" bahwa pertama melihat kita dan kawan-kawan yang terlintas di pikirannya adalah 3 perempuan Minahasa yang akan menambah stok di balik "pagar seng putih". Mungkinkah pikiran "agamawan" itu adalah refleksi pikiran seorang laki-laki Minahasa yang gamang? Kita tidak tahu. Tapi waktu dan perjalanan lain semakin menambah daftar "pikiran pertama". Kata-kata seperti: oh dari Manado ya! bisa main kartu dong! Yang lebih ekstrim adalah ajakan clubing atau jalan-jalan yang langsung disampaikan saat tahu berhadapan dengan seorang perempuan Minahasa. Ha..ha..ha...., kita sampai hafal dengan gaya rayuan yang dimulai dengan: "pacar saya dulu dari Manado lho!" Emang nggak ada yang lain!
Perempuan Minahasa selalu menjadi pemimpin dalam Maengket (lihat gambar atas), suatu tarian syukur Minahasa. Tarian perang kabasaran pun akan sah-sah saja ditarikan oleh seorang Keke (gambar bawah). Seorang Lumimuut melahirkan Toar dan anak-anak Toar dengan petunjuk seorang Karema (perempuan juga!). Sangat tidak salah dilahirkan sebagai perempuan Minahasa, yang salah adalah semakin mempertegas label "for sale" yang terus dilakukan sebagian perempuan-perempuan itu.












No comments: