Nggak tahu kenapa, aku kok kayaknya suka banget membandingkan tampang orang (off course anak buahnya Adam) yang secourse samaku. Yang satu tampangnya kayak bayi banget, he..he..he..., sampe mikir ini anak umur berapa sih? Kok kayak anak SD yang tersesat di tengah kumpulan orang dewasa. Sebaliknya yang satu, ha..ha..ha..., nggak bisa dilukiskan deh. Sudah mukanya nggak kelihatan (ketutup kumis sama jenggot), matanya menyeramkan, pokoknya nggak ada bagus2xnya. Lucu aja setiap melihat si bayi dengan lancarnya berargumen sama si dosen dengan tampang yang menggemaskan, dan di lain waktu si seram berargumen dengan Engels yang rada parah masih ditambah mata yang melotot.
He..he..., tulisan ini mungkin nggak akan ada kalo hari ini aku nggak berpapasan sama si seram (ternyata doi anak Haarweg juga) yang dengan jaket kulit hitam panjang, rambut sepinggang yang diikat, dengan santainya bergandengan tangan dengan sepasang suami isteri dan dengan bahasa yang tidak kumengerti menunjukkan cara membuang botol di depan asrama. Rada menyesal juga C770-ku nggak kubawa (lagian apa berani aku mengambil foto mereka:D). Surpriseku berlanjut ketika tanpa sengaja aku mendengar alasan dia mo cepat pulang dari praktikum untuk bersama dengan orang tuanya yang lagi berkunjung (dan tinggal di kamar dia!).
Ada rasa malu juga, secara waktu kuliah dulu kayaknya aku kok paling nggak mau (baca: malu banget) jalan sama orang tua. Dan selama 5 tahun menetap di perumahan kampus, hanya di hari wisudalah orang tuaku melihat tempat tinggalku.
Pelajaran hari ini: (sekali lagi!!!) jangan men"judge" orang dari tampangnya.
Friday, October 3, 2008
Wednesday, October 1, 2008
malas
Menciptakan paling gampang tapi memelihara itu yang sulit. Sebaris komentar teman langsung dengan tepatnya mengenai sasaran. He..he..., langsung ingat pada blog ini, secara sudah lama banget nggak pernah diisi. Seperti halnya multiply-ku yang semakin "kurang agresif", bulan-bulan ini rasanya begitu malas meluangkan waktu untuk sekedar merangkai kata.
Anyway, beberapa bulan ini mungkin bulan yang termalas dalam hidup kita. Nggak tahu mo bahas apa, nggak tahu mo masukin foto apa, nggak tahu mo bikin apa.
Kalo mo dipikir-pikir banyak hal-hal indah yang kita alami di bulan-bulan ini, terhitung sejak kita terakhir menulis rangkaian posting. Contohnya, pavilion yang mogok lagi (malah sampe 2 kali mogok!) dan lebih parah dari "pemogokannya" yang pertama. Thanks to Iben yang akhirnya merombak total isi pavilionku dan menjadikan pavilionku teman tersetia di Haarweg 203.
Contoh berikutnya adalah perjalanan kita selama summer holiday yang kalo pake istilah makanan: sampe eneg! Sampai-sampai nyesal juga kok bisa2xnya planning liburan se-kemaruk gitu. Bayangin, dari kota kecil ini kita terbang ke Rome, berfoto di Pisa, menyicipi kelezatan pizza Venice, disambung kebosanan menatap Mozart2x palsu (to tell the truth I don't like Wina because of this Mozart: you can found his face in everythings; t-shirt, chocalate, plastic bag, cookies and even people wear his custom and ask an euro to take their picture! OMG!), mengunjungi kampungnya gubernur California yang indah dengan pemandangan gunung dan jam gadangnya, terbang bersama anak buahnya Nicky Lauda ke kota mode dunia dan diakhiri dengan meng"catch" serdadu Amerika yang nggak tahu berbahasa Inggris di kepingan tembok Berlin. Lebih parah lagi, karena kekurangpahaman akan kemampuan badan (baca: kemaruk dengan tiket murah); masih sempat-sempatnya berpose di samping "ariel" dan menonton pergantian penjaga di istana Stockholm. Yang terjadi adalah kemalasan merangkai kata karena nggak tahu apalagi yang bisa dirangkaikan.
Btw, inilah salah satu keberuntungan kita dan teman-teman bisa dengan gampangnya menelusuri satu negara ke negara lainnya dengan berbekal izin tinggal schengen. Sayangnya rencana menatap putihnya deretan pegunungan Alpen belum sempat terwujud.
Kok jadi malas merangkai kata.
Lanjut................
Kemarin, Idul Fitri 1529, beberapa teman mengajak untuk siaran Swara Wageningen dari Haarweg 203. Rencananya siaran sambil persiapan masak untuk Lebarannya teman2x (yang katanya tanggal 1 Oktober). Eh, mendadak Lebarannya dimajukan jadi 30 Oktober mana pengumumannya udah malam banget. Terpaksalah rencana masak berubah total menjadi makan2x dan parahnya kita justru sudah mengundang teman2x sekoridor untuk makan pas persiapan masak lebaran. Untunglah persiapan buru-buru mampu memuaskan perut lebih dari 20 orang, termasuk 6 corridor mate-kita (4 Dutch and 2 Chinese). Makan-makan yang sukses disambung dengan siaran Swara Wageningen yang makin parah aja. Dasar, yang namanya orang PeDe Wageningen memang begitu, sudah dibilangin : nggak takut pendengar berkurang kalo siaran (seperti kasus Natal 2007), eh malah pada makin pede dengan lagu-lagunya Opick, Rhoma Irama, Dhea Ananda, dll yang sempat-sempatnya didownload si ahli peta PD Wageningen dan Jeng Bapenas.
Kayaknya malasnya datang lagi ni, udah ya, mo makan malam dulu. Tot ziens.
Anyway, beberapa bulan ini mungkin bulan yang termalas dalam hidup kita. Nggak tahu mo bahas apa, nggak tahu mo masukin foto apa, nggak tahu mo bikin apa.
Kalo mo dipikir-pikir banyak hal-hal indah yang kita alami di bulan-bulan ini, terhitung sejak kita terakhir menulis rangkaian posting. Contohnya, pavilion yang mogok lagi (malah sampe 2 kali mogok!) dan lebih parah dari "pemogokannya" yang pertama. Thanks to Iben yang akhirnya merombak total isi pavilionku dan menjadikan pavilionku teman tersetia di Haarweg 203.
Contoh berikutnya adalah perjalanan kita selama summer holiday yang kalo pake istilah makanan: sampe eneg! Sampai-sampai nyesal juga kok bisa2xnya planning liburan se-kemaruk gitu. Bayangin, dari kota kecil ini kita terbang ke Rome, berfoto di Pisa, menyicipi kelezatan pizza Venice, disambung kebosanan menatap Mozart2x palsu (to tell the truth I don't like Wina because of this Mozart: you can found his face in everythings; t-shirt, chocalate, plastic bag, cookies and even people wear his custom and ask an euro to take their picture! OMG!), mengunjungi kampungnya gubernur California yang indah dengan pemandangan gunung dan jam gadangnya, terbang bersama anak buahnya Nicky Lauda ke kota mode dunia dan diakhiri dengan meng"catch" serdadu Amerika yang nggak tahu berbahasa Inggris di kepingan tembok Berlin. Lebih parah lagi, karena kekurangpahaman akan kemampuan badan (baca: kemaruk dengan tiket murah); masih sempat-sempatnya berpose di samping "ariel" dan menonton pergantian penjaga di istana Stockholm. Yang terjadi adalah kemalasan merangkai kata karena nggak tahu apalagi yang bisa dirangkaikan.
Btw, inilah salah satu keberuntungan kita dan teman-teman bisa dengan gampangnya menelusuri satu negara ke negara lainnya dengan berbekal izin tinggal schengen. Sayangnya rencana menatap putihnya deretan pegunungan Alpen belum sempat terwujud.
Kok jadi malas merangkai kata.
Lanjut................
Kemarin, Idul Fitri 1529, beberapa teman mengajak untuk siaran Swara Wageningen dari Haarweg 203. Rencananya siaran sambil persiapan masak untuk Lebarannya teman2x (yang katanya tanggal 1 Oktober). Eh, mendadak Lebarannya dimajukan jadi 30 Oktober mana pengumumannya udah malam banget. Terpaksalah rencana masak berubah total menjadi makan2x dan parahnya kita justru sudah mengundang teman2x sekoridor untuk makan pas persiapan masak lebaran. Untunglah persiapan buru-buru mampu memuaskan perut lebih dari 20 orang, termasuk 6 corridor mate-kita (4 Dutch and 2 Chinese). Makan-makan yang sukses disambung dengan siaran Swara Wageningen yang makin parah aja. Dasar, yang namanya orang PeDe Wageningen memang begitu, sudah dibilangin : nggak takut pendengar berkurang kalo siaran (seperti kasus Natal 2007), eh malah pada makin pede dengan lagu-lagunya Opick, Rhoma Irama, Dhea Ananda, dll yang sempat-sempatnya didownload si ahli peta PD Wageningen dan Jeng Bapenas.
Kayaknya malasnya datang lagi ni, udah ya, mo makan malam dulu. Tot ziens.
Subscribe to:
Comments (Atom)