Hari terakhir sebelum Natal, kita melangkahkan kaki keluar rumah dengan tujuan sebuah kota di seberang sana. Menghabiskan waktu selama beberapa bulan di kota kecil ini, kaki pun semakin gatal berjalan ke kota setiap ada kesempatan. Dua hari sebelumnya kita dan beberapa teman bela-belain memanfaatkan tiket "kemana suka" untuk berkelana ke Den Haag dan tanpa sadar bertindak selayaknya "rusa masuk kota" sibuk bergaya di hampir semua bangunan megah.
Dengan ke"pede"an seorang kita, sampailah kita di Tilburg setelah sebelumnya perjalanan terhambat dengan jadwal kereta yang berubah. Berbeda dengan perjalanan ke Den Haag yang berombongan dan sempat bolak balik karena terlalu banyak "kepala", perjalanan kali ini lebih ringkas karena hanya diputuskan oleh 1 kepala. Berbekal hasil searching di internet dan "alstublieft", kita pun menemukan alamat dimaksud dan bertemu dengan seorang Pastor yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Manado. Percakapan dan kegiatan yang menarik pun kita lewati di sini. Di akhir perbincangan, kita yang mengagumi tempat itu dikejutkan dengan perkataan Sang Pastor bahwa tahun depan lokasi tempat tinggalnya harus dikosongkan. Suatu ironi membayangkan bangunan yang kita taksir berusia 3 digit tahun itu akan beralih fungsi.
Di atas kereta pulang, lamunan kita dipadati dengan bangunan-bangunan sejenis yang dengan rajinnya kita catch dan banyak diantaranya telah beralih fungsi dan kalaupun tidak telah "mendua fungsi" sebagai objek wisata. Teringat juga akan ucapan seorang Ketua Sinode yang beberapa kali kita dengar dalam kesempatan yang berbeda: No Child Left Behind. Jauh di sana, di tanah tempat kita dilahirkan, hampir setiap Jemaat berlomba "mempermegah" bangunan yang sudah ada. Biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung itu sampai menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta sebulan. Sebaliknya biaya untuk mendapatkan buku ajar Anak Sekolah Minggu yang berharga hanya beberapa puluh ribu untuk 3 bulan sangat susah untuk dikeluarkan.
Kita begitu mengagumi keindahan bangunan Gereja Eropa. Bagaimana bangunan itu dibentuk dengan cita rasa yang tinggi. Keindahan yang penuh warna lewat tarikan kuas, kelokan ukiran dan pahatan indah beberapa nama besar seniman dunia. Hari itu kita baru sadar, kita tidak menemukan sebuah ruangan di hampir semua bangunan itu. Apakah mereka melupakan suatu ruang kecil bagi sang "pemilik masa depan" (meminjam istilah Gibran)? Hal yang sama yang kita temukan di Gereja kita. No child left behind, semoga kata itu tidak hanya sekedar slogan dan mampu dimaknai oleh pengambil keputusan. Sang pemilik masa depan jauh lebih berharga dari sebuah bangunan, setinggi dan seindah apapun bangunan itu.
Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya
bukalah pintunya, lihat di dalamnya
Gereja adalah orangnya.....
Wednesday, December 26, 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)