Menginjakkan kaki di zero point Paris yang ada di depan Basilika Notre Dame bagi seorang kita bukanlah penggenapan sebuah mimpi masa lalu. Alasannya? Simple: karena kita tidak pernah bermimpi menginjakkan kaki di kota pusat mode dunia itu. Walaupun sudah mengenal Paris dari cerita Om dan Tante yang pernah menghabiskan waktu di sana selama beberapa tahun, bagi kita Paris adalah sesuatu yang sulit digapai sehingga bermimpi pun tidak. Paris adalah wangi parfum yang dengan curi-curi kita pakai dari lemari pakaian Mama (ole2x-nya Tante), tanpa sekalipun terpikir kalau dari harumnya akan ketahuan *_^. Paris adalah foto gaun indah yang dipajang Majalah Femina di paruh terakhir tahun berjalan sebagai inspirasi tahun mendatang, yang coba kita tiru dari potongan-potongan pola yang sesekali disisipkan di majalah tersebut, sambil membayangkan diri seindah modelnya. Dan Paris adalah Menara Eiffel yang menjulang tinggi penuh keindahan, yang kita tatap di halaman-halaman Bobo, Kawanku dan bahkan Hai, ketika wartawan majalah-majalah tersebut menceritakan perjalanan mereka.
Maka tahun 2007 menjadi tahun penuh keindahan ketika Air France Perancis membawa kaki kita melangkah turun di Charles de Gaulle. Paris ternyata bukan sekedar harumnya sebotol kecil chanel yang tersimpan di memori masa kecil. Paris bukan sekedar keindahan gaun-gaun haute couture yang tidak berhasil kita tiru dengan butterfly tua punya Mama. Dan Paris bukan sekedar keindahan menatap Menara Eiffel dari Trocadero sambil menggigit crepes isi pisang coklat, yang meminjam istilah Gracia, "tak tergantikan". Paris adalah seribu keharuman yang kita hirup di sepanjang Champs- Elysees yang meruap dari toko-toko parfum dan siluet laki-laki perempuan yang keluar masuk dari pintu-pintu toko fashion dunia. Paris adalah siluet keindahan ready to wear yang dipakai perempuan-perempuan bertubuh langsing (katanya, rahasia mereka ada di super black chocolate yang rutin dikonsumsi setiap selesai makan) yang dengan langkah lincah di atas high heels berselewiran di jam sibuk menyusup di antara ketatnya jam metro bawah tanah. Paris adalah puncak Notre Dame dan Sacre Coeur yang menyimpan sejuta keindahan didalamnya, bersama lantunan doa yang selalu terucap dari bibir-bibir para pengembara dan cahaya lilin yang mereka pasang untuk orang-orang yang mereka kasihi.
Perjalanan itu juga menyadarkan kita, bahwa Paris adalah mimpi yang dirajut sebagian orang yang tinggal dan hidup di sana. Mereka adalah sekumpulan pedagang berkulit hitam, yang menjajakan dagangan mereka sambil kucing-kucingan dengan petugas Polisi. Beberapa dari mereka (menurut suatu tayangan behind the story suatu saluran televisi NL) adalah pemuda-pemuda Afrika yang memimpikan berlaga di kerasnya liga di hampir seluruh negara Eropa. Mimpi menjadi Roger Milla, Kanu, Abedi Pele, Eto'o bahkan Toure, menghempaskan mereka di gemuruh Kota Paris, mencoba bertahan dengan apapun yang tersisa.
Mereka ada di wajah-wajah "kaum terpinggirkan" (meminjam istilah mereka sendiri, merujuk pada LGBT*) dari Indonesia, yang menjadi penjaga beberapa toko khusus Indonesia di belakang Champs-Elysees. Mereka yang dengan ramahnya menawarkan tas, dompet, parfume dan segala yang ber-branded "Paris" pada sekumpulan orang Indonesia yang setia berkunjung ke Paris. Ketika kita bertanya kenapa mereka ada, jawabannya cukup mengagetkan: karena toko-toko itu membutuhkan penjaga yang bisa merayu dan berbicara Bahasa Indonesia untuk menjaring orang "kaya" Indonesia yang setiap tahunnya beberapa kali mengunjungi Paris cuman untuk berbelanja. Saat ini tiap kali melihat tayangan artis tidak top Indonesia yang mengkoleksi hermes lengkap, selengkap-lengkapnya, bayangan wajah-wajah penjaga-penjaga toko itu pun kembali terbayang.
Mereka ada di wajah-wajah kaum yang disebut gipsi, yang mungkin sejak ribuan tahun lalu menjadi pengelana tanpa tempat tinggal. "do you speak English?" biasanya adalah kata sakti yang mereka tanyakan sebelum meminta bantuan uang ke anda. Sebagian dari mereka menjual kemampuan meramalnya di lorong-lorong penghubung metro bawah tanah, tetapi sebagian dari mereka memanfaatkan kelihaian tangannya untuk mengambil apapun yang bisa diambil dari orang lain, di tengah keramaian metro Paris di jam-jam sibuk.
Mereka ada di wajah-wajah para pelukis di sepanjang Place du
Tertre, yang berkumpul di depan museum seni Salvador Dali sambil memimpikan menggantikan maestro asal Spanyol itu, menawarkan melukis wajah anda. Atau sekedar mencoba meniru karya seorang Vincent van
Gogh yang pernah menggambarkan Paris dengan begitu indahnya di 2 tahun hidupnya di kota ini. Untuk "Dali wanna be" ini, ingatan kita langsung ke sepanjang Jalan Asemka dan sepanjang jalan Melawai, Jakarta yang dipenuhi pelukis potretdengan harga yang jauh berbeda dibanding sudut Place du Tertre ini.
Mereka ada di wajah-wajah penjual souvenir di hampir setiap sudut Kota Paris. Jalanan menuju Sacre Couer dipenuhi wajah mereka, menawarkan keindahan Paris pada segala bentuk souvenir yang anda ingin bagikan sebagai bukti anda pernah menginjakkan kaki di pusat mode dunia ini. Sebagian besar mereka adalah para pencari kebebasan dari negara-negara yang (lagi-lagi, menurut mereka) tidak sebebas Eropa. Mereka gampang dikenali dari logat Perancis yang sama sekali tidak terdengar dengusan hidungnya, ketidakpahaman akan bahasa Inggris, dan kelihaian berbicara dalam bahasa mereka ketika berkomunikasi dengan sesamanya.
Dan hari ini, bersama jutaan umat dunia, kita pun mencoba menundukkan kepala. Pray for Paris. Kata-kata di wall yang di forward seorang teman facebook; "we were all humans until, race disconnected us, religion separated us, politics divided us, and wealth classified us"; seakan melengkapi lantunan suara Jon Bon Jovi dan Richie Sambora yang meng"cover version" lagu legendaris John Lennon, yang kita putar hari ini :
Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today...
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace...
You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...
You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one .....
Dan apapun itu, kita akan selalu memimpikan Paris. Memimpikan menembus Paris di suatu subuh dari atas Eurolines, sambil harap-harap cemas, semoga kursi di samping kita tetap kosong sampai tiba di terminal akhir. Memimpikan menyusuri lorong-lorong penghubung metro bawah tanah yang begitu ramai dengan pencinta seni yang mengais euro dengan gayanya masing-masing. Memimpikan menikmati Blue Christmas di sepanjang Arch de Triomphe sambil merapatkan syal yang melindungi dada di tengah dinginnya Desember di suatu malam yang hampir lelap. Memimpikan menikmati Choucroute garnie, di belakang Sacre Coeur yang hanya dijual di musim dingin (ha3x, bayangkan betapa kami ditertawakanpenjaga restoran ketika meminta makanan ini disuatu summer), yang mengingatkan kita pada brenebon kaki babi. Memimpikan menatap Eiffel yang berkedap-kedip di jam 11 malam sambil menggigit crepes yang masih hangat. Dan yang pasti, memimpikan menemukan lagi armani bag seharga 10% dari harga aslinya di suatu toko di sudut Val d'Europe,menggantikan tas yang sama yang sudah lebih dari 7 tahun menemani hari-hari kita.
Catatan:
*LGBT merujuk pada Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender
Foto-foto dapat di klik di sini :
Paris in December
dan di sini :Sacre Coeur
Saturday, November 14, 2015
Subscribe to:
Comments (Atom)