Hari ini, saat membersihkan diri di bawah pancuran air bersuhu 30 derajat Celcius, kita terkejut melihat segaris bayangan di lengan kiri tempat kita melingkarkan sang penunjuk waktu. Ada apa ini, ada apa ini (cited from kita friend, 2008)? Sejak 5 Mei lalu, kita memutuskan mem"pensiun"kan sementara beberapa jaket kita dengan memasukkan ke mesin cuci dan melipatnya di pojok lemari. Sejak hari itu juga, selapis kaos lengan pendek, jeans selutut (tanpa lapisan lain) menjadi seragam kita setiap meninggalkan Haarweg 203. Perubahan suhu yang sangat drastis kita rasakan minggu ini. Setelah sebelumnya kaos lengan pendek yang di dalamnya kita lapisi dengan kaos termo dan masih ditambah jaket tipis dan jaket tebal mampu menghilangkan selapis "tropical sunlight" di kulit kita, minggu ini "temperate sunlight" mampu mewarnai kulit kita hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (2 hari bo!).
Kita jadi tertawa sendiri, karena hari itu sempat mentertawakan teman yang memakai kaos lengan panjang. Tipikal Indonesia! Takut hitam, he..he..he..., dan dengan pedenya menggunakan kaos lengan pendek. Dan hari ini kita baru sadar, temperate sunlight ternyata lebih jahat dari tropical sunlight!
Friday, May 9, 2008
Thursday, May 8, 2008
10,000 tulips bulbs to Canada
Wageningen, 5 March 1945. Charles Faulkes, pemimpin pasukan Kanada akhirnya mencapai kata sepakat dengan komandan German, Johannes Blaskowitz di Hotel de Wereld. Satu hari sesudahnya, ditandatanganilah dokumen pembebasan Belanda dari kungkungan Jerman di Aula Wageningen University yang berada di samping Hotel de Wereld. Penandatanganan ini mengakhiri masa hitam bagi penduduk Belanda, yang digambarkan oleh khadim pada ibadah beberapa bulan lalu, sebagai masa paling kelam dalam hidupnya. Ibunya hanya bisa menyiapkan sepotong roti untuk dimakan oleh seisi rumah ang beranggota lebih dari 7 orang.
Tanggal 4 Mei 2008, Rev. Josine mengajak kami, international student dalam ibadah di Wageningen Student Chaplaincy untuk mengingat para korban perang, mereka yang meninggal karena kekerasan perang. Perang hanya menghancurkan peradaban.
Tanggal 4 Mei 2008, Rev. Josine mengajak kami, international student dalam ibadah di Wageningen Student Chaplaincy untuk mengingat para korban perang, mereka yang meninggal karena kekerasan perang. Perang hanya menghancurkan peradaban.
Dan hari itu, 5 Mei 2008, kita berkesempatan menyaksikan peringatan terbesar di Kota kecil ini. Banyak orang berdatangan menyaksikan parade para veteran, musik bagi orang muda, serasa berada di tengah pesta 17 Agustus-an di Indonesia. Yang membedakan mungkin adalah kalo kita menikmati di indonesia, kita tidak diizinkan untuk berpesta sebelum acara perenungan (baca: upacara bendera) berakhir. Di sini, suara musik rock yang berdentum keras, dj dengan segala bunyi di atas panggung, tarian international student dari Afrika yang bergemuruh tidak membutuhkan seremonial. Kedua-duanya berjalan bersama-sama tanpa saling mengganggu.
Ini yang mungkin menyebabkan para muda-mudi dengan senangnya berpesta tanpa harus dikengkang kebebasannya dengan upacara yang hanya mau dinikmati generasi abg (angkatan babe gua)-nya.
Tentang judul di atas, sebagai tribute untuk tentara Kanada, setiap tahun Ratu Belanda mengirimkan 10,000 kuncup tulip ke Kanada dan di saat yang sama bendera Kanada akan berkibar di Belanda berdampingan dengan bendera Amerika, Inggris, Portugis, Spanyol dan yang lainnya.
Untuk foto klik di sini
Sunday, May 4, 2008
Privacy
Kemarin, dengan memanfaatkan tiket "kemana suka", kita dan enam perempuan Wageningen lainnya mengarahkan kaki ke kota di ujung Nehterland: Maastrict.
Dalam perjalanan yang (menurut hasil searching di internet) akan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam, kita dan 2 teman lainnya berada 1 gerbong dengan serombongan orang dari Indonesia. Terus terang, perasaan kami bertiga dari awal sudah tidak enak, karena rombongan ini melakukan hal yang (biasanya) sering dilakukan di Indonesia: menyiapkan tempat untuk teman-temannya. Bukan sesuatu yang pantas untuk dikomplain di saat gerbong kosong, tetapi menjadi hal yang memalukan (bagi kami sesama Indonesian people) di saat gerbong kereta begitu penuh.
Di perjalanan terbukti apa yang kami khawatirkan terjadi. Percakapan antar mereka itu dilakukan dengan suara yang sedemikian kerasnya sampai-sampai beberapa kali terlihat ada penumpang yang melihat ke arah mereka dengan pandangan tidak senang. Kita yang sempat tertidur (dengan iringan suara obrolan mereka), sampai-sampai terlonjak kaget saat suara tawa yang diluar batas desibel membahana di gerbong itu.
Mengapa?
Perbedaan privacy mungkin menjadi penyebabnya. Perbedaan yang kita alami juga saat berhadapan dengan orang di sini. Pertama menginjakkan kaki di koridor ini, kita sempat terkejut saat melihat penghuni kamar di samping kita melenggang dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana dalam. Memang tidak sedahsyat pengalaman seorang teman di koridor yang berbeda, yang setiap kali berpapasan dengan rekan koridornya yang keluar dari kamar mandi bersama pasangannya dengan pakaian ala kadarnya.
Persoalannya apa?
Di sinilah perenungan kita pada diri kita sendiri hari ini. Sanggupkah kita merubah atau beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal tanpa menghilangkan kebiasaan kita?
Seorang teman kita terganggu dengan teguran kita yang meminta mengecilkan volume suaranya. Pada saat itu kami yang sementara berdiskusi memang tidak merasa bersalah karena terbiasa dengan ucapan "emang train ini punya elo".
Perjalanan ke Maastrict menyadarkan kita seberapa besar gangguan yang kita lakukan terhadap orang lain pada saat kita berpikir bahwa "suka2x gua dong mo bicara".
Dalam perjalanan yang (menurut hasil searching di internet) akan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam, kita dan 2 teman lainnya berada 1 gerbong dengan serombongan orang dari Indonesia. Terus terang, perasaan kami bertiga dari awal sudah tidak enak, karena rombongan ini melakukan hal yang (biasanya) sering dilakukan di Indonesia: menyiapkan tempat untuk teman-temannya. Bukan sesuatu yang pantas untuk dikomplain di saat gerbong kosong, tetapi menjadi hal yang memalukan (bagi kami sesama Indonesian people) di saat gerbong kereta begitu penuh.
Di perjalanan terbukti apa yang kami khawatirkan terjadi. Percakapan antar mereka itu dilakukan dengan suara yang sedemikian kerasnya sampai-sampai beberapa kali terlihat ada penumpang yang melihat ke arah mereka dengan pandangan tidak senang. Kita yang sempat tertidur (dengan iringan suara obrolan mereka), sampai-sampai terlonjak kaget saat suara tawa yang diluar batas desibel membahana di gerbong itu.
Mengapa?
Perbedaan privacy mungkin menjadi penyebabnya. Perbedaan yang kita alami juga saat berhadapan dengan orang di sini. Pertama menginjakkan kaki di koridor ini, kita sempat terkejut saat melihat penghuni kamar di samping kita melenggang dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana dalam. Memang tidak sedahsyat pengalaman seorang teman di koridor yang berbeda, yang setiap kali berpapasan dengan rekan koridornya yang keluar dari kamar mandi bersama pasangannya dengan pakaian ala kadarnya.
Persoalannya apa?
Di sinilah perenungan kita pada diri kita sendiri hari ini. Sanggupkah kita merubah atau beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal tanpa menghilangkan kebiasaan kita?
Seorang teman kita terganggu dengan teguran kita yang meminta mengecilkan volume suaranya. Pada saat itu kami yang sementara berdiskusi memang tidak merasa bersalah karena terbiasa dengan ucapan "emang train ini punya elo".
Perjalanan ke Maastrict menyadarkan kita seberapa besar gangguan yang kita lakukan terhadap orang lain pada saat kita berpikir bahwa "suka2x gua dong mo bicara".
Subscribe to:
Comments (Atom)