Kemarin, dengan memanfaatkan tiket "kemana suka", kita dan enam perempuan Wageningen lainnya mengarahkan kaki ke kota di ujung Nehterland: Maastrict.
Dalam perjalanan yang (menurut hasil searching di internet) akan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam, kita dan 2 teman lainnya berada 1 gerbong dengan serombongan orang dari Indonesia. Terus terang, perasaan kami bertiga dari awal sudah tidak enak, karena rombongan ini melakukan hal yang (biasanya) sering dilakukan di Indonesia: menyiapkan tempat untuk teman-temannya. Bukan sesuatu yang pantas untuk dikomplain di saat gerbong kosong, tetapi menjadi hal yang memalukan (bagi kami sesama Indonesian people) di saat gerbong kereta begitu penuh.
Di perjalanan terbukti apa yang kami khawatirkan terjadi. Percakapan antar mereka itu dilakukan dengan suara yang sedemikian kerasnya sampai-sampai beberapa kali terlihat ada penumpang yang melihat ke arah mereka dengan pandangan tidak senang. Kita yang sempat tertidur (dengan iringan suara obrolan mereka), sampai-sampai terlonjak kaget saat suara tawa yang diluar batas desibel membahana di gerbong itu.
Mengapa?
Perbedaan privacy mungkin menjadi penyebabnya. Perbedaan yang kita alami juga saat berhadapan dengan orang di sini. Pertama menginjakkan kaki di koridor ini, kita sempat terkejut saat melihat penghuni kamar di samping kita melenggang dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana dalam. Memang tidak sedahsyat pengalaman seorang teman di koridor yang berbeda, yang setiap kali berpapasan dengan rekan koridornya yang keluar dari kamar mandi bersama pasangannya dengan pakaian ala kadarnya.
Persoalannya apa?
Di sinilah perenungan kita pada diri kita sendiri hari ini. Sanggupkah kita merubah atau beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal tanpa menghilangkan kebiasaan kita?
Seorang teman kita terganggu dengan teguran kita yang meminta mengecilkan volume suaranya. Pada saat itu kami yang sementara berdiskusi memang tidak merasa bersalah karena terbiasa dengan ucapan "emang train ini punya elo".
Perjalanan ke Maastrict menyadarkan kita seberapa besar gangguan yang kita lakukan terhadap orang lain pada saat kita berpikir bahwa "suka2x gua dong mo bicara".
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment