Wednesday, November 26, 2008

My Recipe

How do you make it? Belum sempat kujawab, pertanyaan ini disambar orang lain: I know, you can ask me. First, she slice some amount of vegetable, then she put 2 eggs, add some amount of salt, zwarte pepper, garlic; mixed it, and she add (again) some amount of fluor and she mixed it again. But I think she didn't satisfy with the result, so she add 1 egg and mix it again. That's it. Very simple.
Ha..ha...ha..., kami berlima pun tertawa mendengar penjelasan Emma. Very good! Seperti biasa, teman-teman koridor suka mempertanyakan cara pengukuran yang kugunakan. Di negara yang semua-muanya harus diperhitungkan, sangat sulit bagi mereka untuk memahami ukuran seperti setengah jari telunjuk air yang kita gunakan untuk menunjukkan jumlah air yang dibutuhkan buat masak nasi di rice cooker. Sementara kita juga sering memprotes cara masak mereka yang merebus beras dan pada saat beras dirasa cukup lembut, diangkat dan dibuanglah sisa air yang masih berlimpah. Hancur!!
Lanjut tentang kursus membuat bakwan di atas. Selama ini kita terlalu meremehkan bakwan. Selain sangat gampang untuk dibuat, rasa-rasanya kok nggak ada istimewanya. Makanya selama ini dalam setiap kesempatan potluck dengan teman2x internasional, selalu yang kita masak adalah makanan yang menurut kita "layak" untuk diperkenalkan, termasuk klapertaart, sate ayam, gado-gado, nasi goreng dan lain-lain. Sampai suatu kali, saat menyiapkan dinner untuk teman-teman PA, kita merasa ayam kecap yang kita campur dengan tahu goreng tidak mencukupi untuk dimakan sekitar 10 orang. Maklum PA ini tidak menggunakan sistem absensi, sehingga kadang ada yang bawa teman dan kadang juga orangnya nggak sampai 5. Karena kita memasak bukan di tempat kita, kitapun bertanya bahan apa aja yang ada di dia. Ternyata doi punya wortel dan buncis. Maka jadilah bakwan goreng dengan tambahan sisa-sisa perang, seperti udang (yang hanya beberapa ekor). Tidak tahu-nya justru bakwan itu yang paling diminati orang. Seorang teman Brasil beralasan warnanya yang "ngejreng" dan paduan bawang putihnya yang menggoda yang membuat dia menodong kita membagi resep si bakwan itu. Berpengalaman dengan dinner itulah, pada setiap kesempatan kita menjadikan bakwan sebagai "primadona" baru di resep itu.
Dan begitulah. Bakwan ternyata juga berhasil menjajah lidah teman2x se-koridor dan memaksa kita mempraktekkan cara kita mencampur berbagai "vegetable" itu menjadi sebentuk gorengan yang menurut mereka: more than lekker!

Monday, November 24, 2008

20 euro

Pernah nggak ngalamin kejadian nemu duit di kantong? He..he... kejadian itu kita alami kemarin saat iseng mengeluarkan jaket yang tersimpan. Jaket kulit itu sejak kita beli baru sekali doang digunakan. Mungkin karena ukuran yang 1 nomor di atas ukuran kita dan model yang menurut kita rada jadul, membuat kita nggak nyaman. Cuman seiring dengan turunnya salju 2 hari ini, ingatan akan jaket itu, yang memang terbukti lebih piawai melawan terpaan dingin membuat kita mengeluarkan si jaket dari tempat penyimpanan. Saat kita mematut-matut diri depan cermin (tag: genit), kita memasukkan tangan ke kantong dan terasa ada kertas. Pikiran kita mungkin bon pembelian ato tiket train, tapi pas kita mengeluarkan tangan kita, yang ada di genggaman adalah lembaran 20 euro! Lumayan bo, bisa buat makan seminggu, mana lagi kita lagi mengikatkan tali pinggang demi mata yang memerlukan kaca yang lebih tebal lagi. Buset deh, harga kacanya bisa 10 kali lipat dengan harga di indonesia, lebih mahal dari gagangnya. Bandingkan dengan harga gagang di Indonesia yang bisa berpuluh-puluh kali lipat dari harga kacanya.
Hari ini pun kita bersyukur karena bisa singgah C1000 utk memeriahkan kulkas kita yang semakin sepi.