Tuesday, November 27, 2007

Perempuan Minahasa (2)

Gambar di samping ini adalah batu yang dikejar banyak perempuan. Katanya sih yang terbaik di dunia. Masih juga penasaran dengan topik diskusi di tulisan sebelumnya, kita menghabiskan waktu cukup lama untuk memilih foto dari koleksi foto kita. Kepala sudah dipenuhi banyak hal, tapi rasa-rasanya tanpa foto nggak akan lengkap. Beberapa foto perempuan Minahasa sudah kita copy paste, tapi seakan ada yang kurang. Entah kenapa, mouse mengklik file foto kita yang berisi foto di luar Manado dan mata langsung terpaku pada foto di samping ini. Kita yang memang mengagumi batu ini dengan sombongnya menyempatkan diri mengambil bayangan sendiri di depan potongan yang katanya "sempurna" ini.
Perempuan Minahasa bisa diibaratkan seperti diamond. Diamond adalah arang dengan susunan atom karbon yang berbeda. Seperti diamond yang nilainya ditentukan oleh kelenturan jari-jari pemotongnya, demikian juga nilai seorang perempuan Minahasa ditentukan oleh lingkungan sekitarnya. Jangan salahkan perempuan-perempuan Minahasa yang memenuhi pub-pub di Batam, Papua, Jakarta atau dimanapun mereka dibutuhkan, jika yang menjadi bukti kesuksesan bagi sebagian orang Minahasa hanyalah seberapa banyak duit yang dikirim ke kampung, seberapa besar sumbangan yang dibacakan tiap Minggu di Gereja dan seberapa besar rumah yang dibangun. Mengubah arang menjadi diamond yang coba dilakukan para ilmuwan tidaklah segampang mengubah image "for sale" perempuan Minahasa. Dibutuhkan suhu, tekanan, kepadatan yang spesifik (yang sampai saat ini tidak bisa didapat) untuk merubah arang menjadi diamond, sedangkan yang dibutuhkan untuk merubah image perempuan Minahasa hanyalah kemauan lingkungan sekitarnya (baca: sebagian orang Minahasa) untuk mau berubah.
kita yang masih prihatin.

Perempuan Minahasa


Hari ini, kebetulan "kita" membaca posting seorang teman tentang "perempuan Minahasa" di suatu forum diskusi. Perempuan Minahasa yang terkenal "kehebatannya" di belantara Batam. Menjadi seorang perempuan Minahasa adalah suatu kebanggaan bagi seorang kita. Why not? Walaupun mengalami pelecehan sejak "journey" pertama meninggalkan Minahasa, kebanggaan itu selalu muncul saat melihat pembatasan pada perempuan-perempuan suku lainnya. Bertahun-tahun lalu, seorang "agamawan" menjadi pembimbing menikmati keindahan suatu daerah di luar Minahasa yang kita tempuh dengan pesawat (lihat posting sebelumnya). Di akhir perjalanan, keluarlah pengakuan dari "Sang Agamawan" bahwa pertama melihat kita dan kawan-kawan yang terlintas di pikirannya adalah 3 perempuan Minahasa yang akan menambah stok di balik "pagar seng putih". Mungkinkah pikiran "agamawan" itu adalah refleksi pikiran seorang laki-laki Minahasa yang gamang? Kita tidak tahu. Tapi waktu dan perjalanan lain semakin menambah daftar "pikiran pertama". Kata-kata seperti: oh dari Manado ya! bisa main kartu dong! Yang lebih ekstrim adalah ajakan clubing atau jalan-jalan yang langsung disampaikan saat tahu berhadapan dengan seorang perempuan Minahasa. Ha..ha..ha...., kita sampai hafal dengan gaya rayuan yang dimulai dengan: "pacar saya dulu dari Manado lho!" Emang nggak ada yang lain!
Perempuan Minahasa selalu menjadi pemimpin dalam Maengket (lihat gambar atas), suatu tarian syukur Minahasa. Tarian perang kabasaran pun akan sah-sah saja ditarikan oleh seorang Keke (gambar bawah). Seorang Lumimuut melahirkan Toar dan anak-anak Toar dengan petunjuk seorang Karema (perempuan juga!). Sangat tidak salah dilahirkan sebagai perempuan Minahasa, yang salah adalah semakin mempertegas label "for sale" yang terus dilakukan sebagian perempuan-perempuan itu.












Sunday, November 25, 2007

kita-blessingJourney


kita-blessingJourney, adalah kata yang akhirnya "kita" pilih menjadi nama blog ini. Sebenarnya maunya pake myJourney doang, tapi nggak keterima sama pemilik blogger, terus udah mo ketinggalan penjelasan si Dodo (yang begitu baiknya jadi pengajar kita-kita). Tiba-tiba kata "blessing" lewat di kepala dan dengan cepatnya jari-jari ini mengetikkan kata tersebut dan secepat itu pula diterima sama si blogger.
Nggak tahu kenapa, cuman kebetulan ato memang harus begitu "myJourney" become "kita-blessingJourney". Malam ini, terbayang lagi perjalanan pertama meninggalkan tanah Toar Lumimuut, bertahun lampau. My journey become a "blessing in disguise" journey. Gangguan pesawat (yang sampe 3 kali turun naik sebelum take off) menyebabkan "kita" berkenalan dengan seorang "agamawan" yang akhirnya mengajak "kita" keliling daerah baru, dan dari beliaulah kata "blessing in disguise" ini tercetus (ceritanya nanti di lain waktu). Kenikmatan menjelajah ini kemudian memacu adrenalinku untuk mengembangkan sayap lebih lagi, mencoba belantara Jakarta yang katanya ganas, apalagi bagi seorang "kita".
Jakarta? Ternyata tidak sesulit tanah kelahiran "kita"! Selama menghirup asap Jakarta, tanyakan pada "kita" transportasi jenis apa yang belum pernah "kita" naiki. Bus adalah pilihan utama dan ojek sepeda adalah pilihan terakhir. Ha...ha..ha..., masih juga terbayang nongkrong di belakang tukang ojek sepeda, terjebak di tengah kemacetan Beos saat jam pulang kantor. Ojek motor? Why not! Tahun lalu, di tengah kemacetan Jakarta, "kita" menerobos Sudirman di belakang tukang ojek motor, sambil dengan seerat-eratnya memegang tas yang berisi duit cash 40 juta. Nggak kebayang kalo saat itu diprit Polisi.
Tahun lalu, seorang anak berusia 6 tahun dengan mata terbelalak kaget bertanya pada "kita": "tidak punya pasport? umur segitu?" Aneh bagi seorang anak kecil berumur 6 tahun yang punya pasport sendiri melihat seseorang yang sangat jauh di atas umurnya belum pernah memegang yang namanya pasport. Tapi bukan sesuatu yang aneh bagi "kita" yang bermimpi pun tidak untuk bisa menginjakkan kaki di yang namanya luar negeri. Mimpi yang berwujud hanya sebulan dari percakapan itu. Sekali menginjakkan kaki di negeri tetangga yang tidak serumit Jakarta dan kali berikutnya harus bertanggung jawab pada suatu rombongan berjumlah lebih dari 80 orang, diikuti rombongan kecil lainnya.
Tahun ini, anak kecil yang sama yang telah bertambah umurnya kembali menatap "kita" dengan mata terbelalak kaget, "2 tahun tinggal di sana? Ruci!" Sama dengan "kita", dia juga merindukan saat-saat indah menikmati dinginnya Eropa, lezatnya "crepes" di Trocadero dan nikmatnya es krim di sepanjang Volendam, yang pernah sama-sama kami jelajahi.
Saat menulis posting ini (mulanya sih cuman buat penuhin blog, karena udah "ditagih" sama gurunya, sabar MasBoi!), di pelupuk mata menari-nari my blessing journey. Blessing journey dari sudut Minahasa, berkali-kali membelah ombak (sampai-sampai "kita" tahu tempat terbaik di dek kapal selama 5 hari perjalanan) dan awan, terkurunglah "kita" di sini, dalam ruang kecil di lantai 2 sebuah asrama. kita-blessingJourney masih akan panjang. Pemilihan foto untuk catatan ini didasari beberapa hal, my first journey from Minahasa (kita menganggap itu maju ke medan laga makanya "kita" wakili dengan gambar teman-teman yang pake baju Kabasaran, tarian perang Minahasa, thanks to Denny cs) pada catatan di atas adalah menuju Maluku (kebetulan ada Nyong Ambon yang mau "kita" ambil gambarnya). Enjoy my blog.