Satu dekade sudah kita bersama mereka. Tahun-tahun yang penuh dengan suka , senang walaupun kadang kecewa juga sering menghampiri. Banyak yang kita dapatkan dari mereka. Dari semuanya, belajar adalah yang paling banyak. Mengenal mereka adalah juga mengenal banyak manusia lengkap dengan topengnya masing-masing. Topeng-topeng itu mengerumuni mereka bagaikan lebah yang berseliweran di sarang madu. Mereka tidak pernah mengeluh, walaupun tahu wajah di balik topeng-topeng itu.
Kita menikmati kesukacitaan mereka selama bertahun-tahun. Di akhir tahun ini ada badai yang menghantam mereka. Kita hanya bisa menyaksikan dan membaca badai itu dari jauh. Tapi kita yakin, badai itu akan sanggup mereka lewati, sesanggup mereka menikmati tahun-tahun penuh madu.
Wednesday, December 17, 2008
Wednesday, November 26, 2008
My Recipe
How do you make it? Belum sempat kujawab, pertanyaan ini disambar orang lain: I know, you can ask me. First, she slice some amount of vegetable, then she put 2 eggs, add some amount of salt, zwarte pepper, garlic; mixed it, and she add (again) some amount of fluor and she mixed it again. But I think she didn't satisfy with the result, so she add 1 egg and mix it again. That's it. Very simple.
Ha..ha...ha..., kami berlima pun tertawa mendengar penjelasan Emma. Very good! Seperti biasa, teman-teman koridor suka mempertanyakan cara pengukuran yang kugunakan. Di negara yang semua-muanya harus diperhitungkan, sangat sulit bagi mereka untuk memahami ukuran seperti setengah jari telunjuk air yang kita gunakan untuk menunjukkan jumlah air yang dibutuhkan buat masak nasi di rice cooker. Sementara kita juga sering memprotes cara masak mereka yang merebus beras dan pada saat beras dirasa cukup lembut, diangkat dan dibuanglah sisa air yang masih berlimpah. Hancur!!
Lanjut tentang kursus membuat bakwan di atas. Selama ini kita terlalu meremehkan bakwan. Selain sangat gampang untuk dibuat, rasa-rasanya kok nggak ada istimewanya. Makanya selama ini dalam setiap kesempatan potluck dengan teman2x internasional, selalu yang kita masak adalah makanan yang menurut kita "layak" untuk diperkenalkan, termasuk klapertaart, sate ayam, gado-gado, nasi goreng dan lain-lain. Sampai suatu kali, saat menyiapkan dinner untuk teman-teman PA, kita merasa ayam kecap yang kita campur dengan tahu goreng tidak mencukupi untuk dimakan sekitar 10 orang. Maklum PA ini tidak menggunakan sistem absensi, sehingga kadang ada yang bawa teman dan kadang juga orangnya nggak sampai 5. Karena kita memasak bukan di tempat kita, kitapun bertanya bahan apa aja yang ada di dia. Ternyata doi punya wortel dan buncis. Maka jadilah bakwan goreng dengan tambahan sisa-sisa perang, seperti udang (yang hanya beberapa ekor). Tidak tahu-nya justru bakwan itu yang paling diminati orang. Seorang teman Brasil beralasan warnanya yang "ngejreng" dan paduan bawang putihnya yang menggoda yang membuat dia menodong kita membagi resep si bakwan itu. Berpengalaman dengan dinner itulah, pada setiap kesempatan kita menjadikan bakwan sebagai "primadona" baru di resep itu.
Dan begitulah. Bakwan ternyata juga berhasil menjajah lidah teman2x se-koridor dan memaksa kita mempraktekkan cara kita mencampur berbagai "vegetable" itu menjadi sebentuk gorengan yang menurut mereka: more than lekker!
Ha..ha...ha..., kami berlima pun tertawa mendengar penjelasan Emma. Very good! Seperti biasa, teman-teman koridor suka mempertanyakan cara pengukuran yang kugunakan. Di negara yang semua-muanya harus diperhitungkan, sangat sulit bagi mereka untuk memahami ukuran seperti setengah jari telunjuk air yang kita gunakan untuk menunjukkan jumlah air yang dibutuhkan buat masak nasi di rice cooker. Sementara kita juga sering memprotes cara masak mereka yang merebus beras dan pada saat beras dirasa cukup lembut, diangkat dan dibuanglah sisa air yang masih berlimpah. Hancur!!
Lanjut tentang kursus membuat bakwan di atas. Selama ini kita terlalu meremehkan bakwan. Selain sangat gampang untuk dibuat, rasa-rasanya kok nggak ada istimewanya. Makanya selama ini dalam setiap kesempatan potluck dengan teman2x internasional, selalu yang kita masak adalah makanan yang menurut kita "layak" untuk diperkenalkan, termasuk klapertaart, sate ayam, gado-gado, nasi goreng dan lain-lain. Sampai suatu kali, saat menyiapkan dinner untuk teman-teman PA, kita merasa ayam kecap yang kita campur dengan tahu goreng tidak mencukupi untuk dimakan sekitar 10 orang. Maklum PA ini tidak menggunakan sistem absensi, sehingga kadang ada yang bawa teman dan kadang juga orangnya nggak sampai 5. Karena kita memasak bukan di tempat kita, kitapun bertanya bahan apa aja yang ada di dia. Ternyata doi punya wortel dan buncis. Maka jadilah bakwan goreng dengan tambahan sisa-sisa perang, seperti udang (yang hanya beberapa ekor). Tidak tahu-nya justru bakwan itu yang paling diminati orang. Seorang teman Brasil beralasan warnanya yang "ngejreng" dan paduan bawang putihnya yang menggoda yang membuat dia menodong kita membagi resep si bakwan itu. Berpengalaman dengan dinner itulah, pada setiap kesempatan kita menjadikan bakwan sebagai "primadona" baru di resep itu.
Dan begitulah. Bakwan ternyata juga berhasil menjajah lidah teman2x se-koridor dan memaksa kita mempraktekkan cara kita mencampur berbagai "vegetable" itu menjadi sebentuk gorengan yang menurut mereka: more than lekker!
Monday, November 24, 2008
20 euro
Pernah nggak ngalamin kejadian nemu duit di kantong? He..he... kejadian itu kita alami kemarin saat iseng mengeluarkan jaket yang tersimpan. Jaket kulit itu sejak kita beli baru sekali doang digunakan. Mungkin karena ukuran yang 1 nomor di atas ukuran kita dan model yang menurut kita rada jadul, membuat kita nggak nyaman. Cuman seiring dengan turunnya salju 2 hari ini, ingatan akan jaket itu, yang memang terbukti lebih piawai melawan terpaan dingin membuat kita mengeluarkan si jaket dari tempat penyimpanan. Saat kita mematut-matut diri depan cermin (tag: genit), kita memasukkan tangan ke kantong dan terasa ada kertas. Pikiran kita mungkin bon pembelian ato tiket train, tapi pas kita mengeluarkan tangan kita, yang ada di genggaman adalah lembaran 20 euro! Lumayan bo, bisa buat makan seminggu, mana lagi kita lagi mengikatkan tali pinggang demi mata yang memerlukan kaca yang lebih tebal lagi. Buset deh, harga kacanya bisa 10 kali lipat dengan harga di indonesia, lebih mahal dari gagangnya. Bandingkan dengan harga gagang di Indonesia yang bisa berpuluh-puluh kali lipat dari harga kacanya.
Hari ini pun kita bersyukur karena bisa singgah C1000 utk memeriahkan kulkas kita yang semakin sepi.
Hari ini pun kita bersyukur karena bisa singgah C1000 utk memeriahkan kulkas kita yang semakin sepi.
Tuesday, October 14, 2008
Baju Gereja
Hari Minggu lalu sepulang PA di Dijkgraf, kita berpapasan dengan 2 gadis remaja Belanda yang terlihat manis dalam balutan rok dan sepatu yang indah. Rada penasaran juga, anak2x ini mo ke mana? Setahun tinggal di little town ini, jarang banget kita bertemu dengan model berpakaian remaja model begini. Biasanya mereka berseragam-kan jeans ketat, sepatu kets belang-belang dan jaket pendek model terbaru. Kedua remaja ini terlihat terburu-buru dan menyelib sepeda kita dan seorang teman. Tiba-tiba terdengar lonceng Gereja berbunyi, teman kita langsung erkomentar, kayaknya anak2x itu mo ke Gereja. Kita sempat kaget juga, dan langsung teringat Gereja yang selalu kita lewati ke dan dari Forum. Immanuel Kerkt, bangunan Gereja modern yang begitu berbeda dengan bangunan Gereja di Centrum ataupun Aula Dei (Gereja Katolik). Masih dengan rasa penasaran, kita dan teman kita memacu sepeda kami yang kebetulan searah dengan kedua remaja itu. Makin mendekati lokasi, kamipun berpapasan dengan makin banyak orang dengan pakaian yang begitu rapi. Beberapa pasangan tua yang bergandengan tangan, seorang Ibu lengkap dengan topi bulu tinggi, jaket bulu indah, merangkulkan tangan pada si Bapak yang berjas lengkap dengan dasi. Beberapa remaja dan pemuda pria di atas sepeda pun terlihat rapi dengan jas yang menyempul dari balik jaket. Kita sebenarnya ingin mengabadikan moment ini, tapi ketergesaan mereka dan ketidaknyamanan mengambil foto tanpa izin, menyebabkan kita mengurungkan niat "jahat" itu. Sayangnya kita belum menemukan jalur akses ke Gereja ini. Ingin juga melihat isi dan tatacara ibadah di Gereja ini.
Anyway
Sebenarnya tulisan ini lebih pada bayangan Gereja kita, jauh di seberang sana. Ibadah di hari Minggu biasanya sekaligus sebagai ajang fashion show:D; secara desa kecil yang jarang ada acara, maka satu-satunya tempat menunjukkan gaya kita adalah di Gereja. Kita membayangkan tahun-tahun yang lama, ketika kita yang masih remaja bereksplorasi dengan gaya untuk dipamerkan di hari Minggu. Rok jauh di atas lutut dengan beraneka macam ban pinggang penambah gaya, ataupun dandanan dengan gaya rambut. Kita ingat, hari Sabtu sore, rambut kita yang sepinggang sudah dicuci dan dibiarkan lebih dari setengah kering dan dipilin (cako dalam bahasa Minahasa), besok paginya rambut akan terlihat mengembang bergelombang, ha..ha...ha..., bandingkan dengan model rambut lurus sekarang.
Saat kita masuk ke dunia kerja, seorang teman di daerah berbeda sempat berkomentar; orang Manado itu (menunjuk ke Minahasa) walaupun sehari-hari bergumul dengan becek, pasti ada hari dimana mereka terlihat keren: hari Minggu. Teman itu kebetulan belum pernah ke Manado, tapi tinggal di kompleks orang Manado di Makassar. Kita sempat terdiam membayangkan keberanian kita yang mempelopori penggunaan celana panjang di Gereja beberapa tahun sebelumnya. Salahkah kita ditengah modernisasi memulai sesuatu yang baru?
He..he..he....,
Setiba di kamar, hari Minggu kemarin, mata kita menatap deretan baju yang tergantung di sisi lemari. Kita jadi sadar, walaupun jauh dari tempat kita, rasa-rasanya kebiasaan itu masih tetap melekat tanpa kita sadari. Jejeran rok dan blus yang hanya kita pakai kalo ke Gereja seolah menyadarkan kita kalo kitapun masih menganggap pakaian Gereja adalah pakaian yang berbeda dengan yang kita gunakan setiap hari. Dan jadilah beberapa pasang blus-rok yang baru sekali dipakai kita gantung sampai berminggu2x untuk digilir, karena untuk mencucinya kita terlalu malas (harus dicuci tangan untuk menjaga mutunya). Kita jadi mengingat kebiasaan kita untuk memakai baju yang baru dibeli ke Gereja sebelum dipakai ke tempat lain (kecuali kaos:D) rasa-rasanya masih terus kita lakukan sampai saat ini. Maka jangan heran, kalo sepatu yang sudah berbulan-bulan kita beli, baru saja kita reyen hari Minggu kemarin di ICF (sampai dipelototin seorang anak kecil:D).
Anyway
Sebenarnya tulisan ini lebih pada bayangan Gereja kita, jauh di seberang sana. Ibadah di hari Minggu biasanya sekaligus sebagai ajang fashion show:D; secara desa kecil yang jarang ada acara, maka satu-satunya tempat menunjukkan gaya kita adalah di Gereja. Kita membayangkan tahun-tahun yang lama, ketika kita yang masih remaja bereksplorasi dengan gaya untuk dipamerkan di hari Minggu. Rok jauh di atas lutut dengan beraneka macam ban pinggang penambah gaya, ataupun dandanan dengan gaya rambut. Kita ingat, hari Sabtu sore, rambut kita yang sepinggang sudah dicuci dan dibiarkan lebih dari setengah kering dan dipilin (cako dalam bahasa Minahasa), besok paginya rambut akan terlihat mengembang bergelombang, ha..ha...ha..., bandingkan dengan model rambut lurus sekarang.
Saat kita masuk ke dunia kerja, seorang teman di daerah berbeda sempat berkomentar; orang Manado itu (menunjuk ke Minahasa) walaupun sehari-hari bergumul dengan becek, pasti ada hari dimana mereka terlihat keren: hari Minggu. Teman itu kebetulan belum pernah ke Manado, tapi tinggal di kompleks orang Manado di Makassar. Kita sempat terdiam membayangkan keberanian kita yang mempelopori penggunaan celana panjang di Gereja beberapa tahun sebelumnya. Salahkah kita ditengah modernisasi memulai sesuatu yang baru?
He..he..he....,
Setiba di kamar, hari Minggu kemarin, mata kita menatap deretan baju yang tergantung di sisi lemari. Kita jadi sadar, walaupun jauh dari tempat kita, rasa-rasanya kebiasaan itu masih tetap melekat tanpa kita sadari. Jejeran rok dan blus yang hanya kita pakai kalo ke Gereja seolah menyadarkan kita kalo kitapun masih menganggap pakaian Gereja adalah pakaian yang berbeda dengan yang kita gunakan setiap hari. Dan jadilah beberapa pasang blus-rok yang baru sekali dipakai kita gantung sampai berminggu2x untuk digilir, karena untuk mencucinya kita terlalu malas (harus dicuci tangan untuk menjaga mutunya). Kita jadi mengingat kebiasaan kita untuk memakai baju yang baru dibeli ke Gereja sebelum dipakai ke tempat lain (kecuali kaos:D) rasa-rasanya masih terus kita lakukan sampai saat ini. Maka jangan heran, kalo sepatu yang sudah berbulan-bulan kita beli, baru saja kita reyen hari Minggu kemarin di ICF (sampai dipelototin seorang anak kecil:D).
Friday, October 3, 2008
judging orang
Nggak tahu kenapa, aku kok kayaknya suka banget membandingkan tampang orang (off course anak buahnya Adam) yang secourse samaku. Yang satu tampangnya kayak bayi banget, he..he..he..., sampe mikir ini anak umur berapa sih? Kok kayak anak SD yang tersesat di tengah kumpulan orang dewasa. Sebaliknya yang satu, ha..ha..ha..., nggak bisa dilukiskan deh. Sudah mukanya nggak kelihatan (ketutup kumis sama jenggot), matanya menyeramkan, pokoknya nggak ada bagus2xnya. Lucu aja setiap melihat si bayi dengan lancarnya berargumen sama si dosen dengan tampang yang menggemaskan, dan di lain waktu si seram berargumen dengan Engels yang rada parah masih ditambah mata yang melotot.
He..he..., tulisan ini mungkin nggak akan ada kalo hari ini aku nggak berpapasan sama si seram (ternyata doi anak Haarweg juga) yang dengan jaket kulit hitam panjang, rambut sepinggang yang diikat, dengan santainya bergandengan tangan dengan sepasang suami isteri dan dengan bahasa yang tidak kumengerti menunjukkan cara membuang botol di depan asrama. Rada menyesal juga C770-ku nggak kubawa (lagian apa berani aku mengambil foto mereka:D). Surpriseku berlanjut ketika tanpa sengaja aku mendengar alasan dia mo cepat pulang dari praktikum untuk bersama dengan orang tuanya yang lagi berkunjung (dan tinggal di kamar dia!).
Ada rasa malu juga, secara waktu kuliah dulu kayaknya aku kok paling nggak mau (baca: malu banget) jalan sama orang tua. Dan selama 5 tahun menetap di perumahan kampus, hanya di hari wisudalah orang tuaku melihat tempat tinggalku.
Pelajaran hari ini: (sekali lagi!!!) jangan men"judge" orang dari tampangnya.
He..he..., tulisan ini mungkin nggak akan ada kalo hari ini aku nggak berpapasan sama si seram (ternyata doi anak Haarweg juga) yang dengan jaket kulit hitam panjang, rambut sepinggang yang diikat, dengan santainya bergandengan tangan dengan sepasang suami isteri dan dengan bahasa yang tidak kumengerti menunjukkan cara membuang botol di depan asrama. Rada menyesal juga C770-ku nggak kubawa (lagian apa berani aku mengambil foto mereka:D). Surpriseku berlanjut ketika tanpa sengaja aku mendengar alasan dia mo cepat pulang dari praktikum untuk bersama dengan orang tuanya yang lagi berkunjung (dan tinggal di kamar dia!).
Ada rasa malu juga, secara waktu kuliah dulu kayaknya aku kok paling nggak mau (baca: malu banget) jalan sama orang tua. Dan selama 5 tahun menetap di perumahan kampus, hanya di hari wisudalah orang tuaku melihat tempat tinggalku.
Pelajaran hari ini: (sekali lagi!!!) jangan men"judge" orang dari tampangnya.
Wednesday, October 1, 2008
malas
Menciptakan paling gampang tapi memelihara itu yang sulit. Sebaris komentar teman langsung dengan tepatnya mengenai sasaran. He..he..., langsung ingat pada blog ini, secara sudah lama banget nggak pernah diisi. Seperti halnya multiply-ku yang semakin "kurang agresif", bulan-bulan ini rasanya begitu malas meluangkan waktu untuk sekedar merangkai kata.
Anyway, beberapa bulan ini mungkin bulan yang termalas dalam hidup kita. Nggak tahu mo bahas apa, nggak tahu mo masukin foto apa, nggak tahu mo bikin apa.
Kalo mo dipikir-pikir banyak hal-hal indah yang kita alami di bulan-bulan ini, terhitung sejak kita terakhir menulis rangkaian posting. Contohnya, pavilion yang mogok lagi (malah sampe 2 kali mogok!) dan lebih parah dari "pemogokannya" yang pertama. Thanks to Iben yang akhirnya merombak total isi pavilionku dan menjadikan pavilionku teman tersetia di Haarweg 203.
Contoh berikutnya adalah perjalanan kita selama summer holiday yang kalo pake istilah makanan: sampe eneg! Sampai-sampai nyesal juga kok bisa2xnya planning liburan se-kemaruk gitu. Bayangin, dari kota kecil ini kita terbang ke Rome, berfoto di Pisa, menyicipi kelezatan pizza Venice, disambung kebosanan menatap Mozart2x palsu (to tell the truth I don't like Wina because of this Mozart: you can found his face in everythings; t-shirt, chocalate, plastic bag, cookies and even people wear his custom and ask an euro to take their picture! OMG!), mengunjungi kampungnya gubernur California yang indah dengan pemandangan gunung dan jam gadangnya, terbang bersama anak buahnya Nicky Lauda ke kota mode dunia dan diakhiri dengan meng"catch" serdadu Amerika yang nggak tahu berbahasa Inggris di kepingan tembok Berlin. Lebih parah lagi, karena kekurangpahaman akan kemampuan badan (baca: kemaruk dengan tiket murah); masih sempat-sempatnya berpose di samping "ariel" dan menonton pergantian penjaga di istana Stockholm. Yang terjadi adalah kemalasan merangkai kata karena nggak tahu apalagi yang bisa dirangkaikan.
Btw, inilah salah satu keberuntungan kita dan teman-teman bisa dengan gampangnya menelusuri satu negara ke negara lainnya dengan berbekal izin tinggal schengen. Sayangnya rencana menatap putihnya deretan pegunungan Alpen belum sempat terwujud.
Kok jadi malas merangkai kata.
Lanjut................
Kemarin, Idul Fitri 1529, beberapa teman mengajak untuk siaran Swara Wageningen dari Haarweg 203. Rencananya siaran sambil persiapan masak untuk Lebarannya teman2x (yang katanya tanggal 1 Oktober). Eh, mendadak Lebarannya dimajukan jadi 30 Oktober mana pengumumannya udah malam banget. Terpaksalah rencana masak berubah total menjadi makan2x dan parahnya kita justru sudah mengundang teman2x sekoridor untuk makan pas persiapan masak lebaran. Untunglah persiapan buru-buru mampu memuaskan perut lebih dari 20 orang, termasuk 6 corridor mate-kita (4 Dutch and 2 Chinese). Makan-makan yang sukses disambung dengan siaran Swara Wageningen yang makin parah aja. Dasar, yang namanya orang PeDe Wageningen memang begitu, sudah dibilangin : nggak takut pendengar berkurang kalo siaran (seperti kasus Natal 2007), eh malah pada makin pede dengan lagu-lagunya Opick, Rhoma Irama, Dhea Ananda, dll yang sempat-sempatnya didownload si ahli peta PD Wageningen dan Jeng Bapenas.
Kayaknya malasnya datang lagi ni, udah ya, mo makan malam dulu. Tot ziens.
Anyway, beberapa bulan ini mungkin bulan yang termalas dalam hidup kita. Nggak tahu mo bahas apa, nggak tahu mo masukin foto apa, nggak tahu mo bikin apa.
Kalo mo dipikir-pikir banyak hal-hal indah yang kita alami di bulan-bulan ini, terhitung sejak kita terakhir menulis rangkaian posting. Contohnya, pavilion yang mogok lagi (malah sampe 2 kali mogok!) dan lebih parah dari "pemogokannya" yang pertama. Thanks to Iben yang akhirnya merombak total isi pavilionku dan menjadikan pavilionku teman tersetia di Haarweg 203.
Contoh berikutnya adalah perjalanan kita selama summer holiday yang kalo pake istilah makanan: sampe eneg! Sampai-sampai nyesal juga kok bisa2xnya planning liburan se-kemaruk gitu. Bayangin, dari kota kecil ini kita terbang ke Rome, berfoto di Pisa, menyicipi kelezatan pizza Venice, disambung kebosanan menatap Mozart2x palsu (to tell the truth I don't like Wina because of this Mozart: you can found his face in everythings; t-shirt, chocalate, plastic bag, cookies and even people wear his custom and ask an euro to take their picture! OMG!), mengunjungi kampungnya gubernur California yang indah dengan pemandangan gunung dan jam gadangnya, terbang bersama anak buahnya Nicky Lauda ke kota mode dunia dan diakhiri dengan meng"catch" serdadu Amerika yang nggak tahu berbahasa Inggris di kepingan tembok Berlin. Lebih parah lagi, karena kekurangpahaman akan kemampuan badan (baca: kemaruk dengan tiket murah); masih sempat-sempatnya berpose di samping "ariel" dan menonton pergantian penjaga di istana Stockholm. Yang terjadi adalah kemalasan merangkai kata karena nggak tahu apalagi yang bisa dirangkaikan.
Btw, inilah salah satu keberuntungan kita dan teman-teman bisa dengan gampangnya menelusuri satu negara ke negara lainnya dengan berbekal izin tinggal schengen. Sayangnya rencana menatap putihnya deretan pegunungan Alpen belum sempat terwujud.
Kok jadi malas merangkai kata.
Lanjut................
Kemarin, Idul Fitri 1529, beberapa teman mengajak untuk siaran Swara Wageningen dari Haarweg 203. Rencananya siaran sambil persiapan masak untuk Lebarannya teman2x (yang katanya tanggal 1 Oktober). Eh, mendadak Lebarannya dimajukan jadi 30 Oktober mana pengumumannya udah malam banget. Terpaksalah rencana masak berubah total menjadi makan2x dan parahnya kita justru sudah mengundang teman2x sekoridor untuk makan pas persiapan masak lebaran. Untunglah persiapan buru-buru mampu memuaskan perut lebih dari 20 orang, termasuk 6 corridor mate-kita (4 Dutch and 2 Chinese). Makan-makan yang sukses disambung dengan siaran Swara Wageningen yang makin parah aja. Dasar, yang namanya orang PeDe Wageningen memang begitu, sudah dibilangin : nggak takut pendengar berkurang kalo siaran (seperti kasus Natal 2007), eh malah pada makin pede dengan lagu-lagunya Opick, Rhoma Irama, Dhea Ananda, dll yang sempat-sempatnya didownload si ahli peta PD Wageningen dan Jeng Bapenas.
Kayaknya malasnya datang lagi ni, udah ya, mo makan malam dulu. Tot ziens.
Friday, June 27, 2008
OMG! Laptop-ku
Laptop warisan ini secara ke-penggunaan sebenarnya sudah menjadi milik kita "since the first time the owner buy it". He..he..he... Mungkin gara2x itu juga makanya kita sulit menemukan CD recovery-nya sampe2x sebelum ke sini kita harus meng-upgrade segala program di dalamnya dan kehilangan banyak moment indah. Kejadian yang sama jadi juga di sini. Keenakan dengan sambungan internet yang full time, menjadikan laptop "from Indonesia" rentan dengan "spy detector" (atau apalah istilahnya, kita tidak begitu mengerti juga). Beberapa teman telah mengalaminya dan kayaknya kali ini giliran kita. Sebenarnya nggak begitu parah-parah amat. MasBoi dengan keahlian utak-utiknya sempat membuat laptop kita agak bernafas dikit. Tapi keisengan kita mencoba menghapus salah satu program berakhir fatal. Pavilion-ku ngambek! Nggak mau dibuka dan diutak-atik apapun alasannya. Jangan2x gara-gara kita en friends (Vivi, Naresh en Freddy) gosipin orang sambil nungguin MasBoi? Gosipnya sudah ke ujung dunia sih, secara segala hal dibahas sambil ketawa-ketiwi tanpa peduli tatapan orang di lantai 1 Gedung Forum.
Anyway, akhirnya setelah si pavilion nginap di MasBoi selama 3 hari, akhirnya mau juga dibuka dengan taruhan beberapa data yang kita simpan sejak kita menginjakkan kaki di negeri ini. Ikut lenyap ribuan foto yang sempat kita "catch" di Paris, Milan, Venice, Rome dan beberapa moment indah di negeri kecil ini. Untunglah sebelumnya kita sempat memindahkan hasil karya E510 ke data lama kita. Dan untungnya lagi karya di Venice, Milan dan Rome sempat dicopy Vivi. Tapi, I miss my December in Paris! Dan sayangnya hanya beberapa tangkapan yang sempat kita pajang di multiply dan picasa. So, wait for me Paris! I will be back soon!
Anyway, akhirnya setelah si pavilion nginap di MasBoi selama 3 hari, akhirnya mau juga dibuka dengan taruhan beberapa data yang kita simpan sejak kita menginjakkan kaki di negeri ini. Ikut lenyap ribuan foto yang sempat kita "catch" di Paris, Milan, Venice, Rome dan beberapa moment indah di negeri kecil ini. Untunglah sebelumnya kita sempat memindahkan hasil karya E510 ke data lama kita. Dan untungnya lagi karya di Venice, Milan dan Rome sempat dicopy Vivi. Tapi, I miss my December in Paris! Dan sayangnya hanya beberapa tangkapan yang sempat kita pajang di multiply dan picasa. So, wait for me Paris! I will be back soon!
Thursday, June 5, 2008
Mempromosikan Indonesia
2008 dipatok Indonesia sebagai tahun kunjungan wisata. Belasan tahun yang lalu hal ini juga sudah dilakukan. Kalo nggak salah, tahun ini lambangnya adalah burung merak (?) sedangkan belasan tahun lalu lambangnya badak bercula satu yang berpakaian Bali (?). He..he..., sori penuh tanda tanya soalnya lagi malas cek kebenarannya.
Membandingkan wisata Indonesia dengan negara lain akan sangat terasa bedanya. Ini kita rasakan saat bersama teman-teman "berpromosi" menurut cara kami, mahasiswa Indonesia di sini. Kami menyiapkan tari Saman dan Poco-poco untuk ditampilkan bersama-sama dengan beberapa lagu daerah dan lagu pop Indonesia. Dibanding poco-poco yang adalah tarian modern dengan dasar tari tradisional warga kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara, Tari Saman lebih terasa nuansa tradisionalnya. Yang cukup menggelikan adalah penampilan lagu tradisional. Dengan dasar lidah yang beragam, adalah susah bagi setiap dari kami mencocokkan lidah dengan cengkok Sunda (bagi orang Papua, Manado, Ambon dan NTT), ataupun cara mengucapkan lagu Alu siau (sampe-sampe kami harus memutar youtube untuk mengetahui cara pengucapan yang tepat beberapa kali, itupun pada akhirnya pengucapannya tidak setepat pengucapan si anak kecil di youtube yang Batak asli :D).
Kami memang bukan penggiat seni, bukan penari, dan bukan pula pegawai dinas pariwisata. Tapi ada banyak hal yang bisa kami lakukan tanpa harus membobol uang negara dengan alasan "promosi wisata". Malahan dengan promosi itu juga, kami bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan (bisa lebih dari 100% jika dikelola dengan benar) dari hasil menjual makanan khas Indonesia yang bahannya dengan mudah kami dapatkan di sini.
Satu hari sebelum penampilan kami dalam Festival Belmundo di Wageningen, kami sempat berkeliling di Pasar Malam Indonesia di Den Haag. Di sana dengan gampangnya kami akan bertemu dengan segala jenis masakan Indonesia dari segala pulau. Tidak jarang ada daerah yang khusus mengirimkan timnya untuk bisa tampil di Pasar Malam. Apa yang salah? Dunia yang semakin dekat jaraknya setelah perkembangan internet yang cepat, menciptakan promosi yang sangat cepat dengan biaya yang sangat murah. Pasar Malam hanyalah sarana kecil untuk promosi dan tidak lebih dari moment nostalgia para Indonesianis yang tinggal di negeri ini, yang begitu banyaknya jika dihitung dengan keturunan mereka. Suasana Pasar Malam yang "Indonesia abis" terasa jauh dari kesan promosi seperti yang didengang dengungkan.
Kembali ke Belmundo, ada kebanggaan tersendiri saat kita melihat antrian beberapa anak kecil bersama orang tua mereka yang menunggu pisang kukus yang sementara kita kukus. Mereka dan orang tua mereka belum sekalipun menginjakkan kaki di Indonesia, tapi perhatian mereka saat melihat kita mengaduk adonan pisang, tepung beras, tepung terigu dan santan diikuti dengan aroma harumnya pandan, menggoda mereka untuk tetap setia menanti sampai proses mengukus selesai. Sayangnya kita terlalu sibuk bercerita dengan mereka sampai tidak sempat mengabadikan moment indah ini. Apalagi melihat senyum ceria saat kita membagikan daun pisang sebagai alas untuk pisang kukus, diikuti dengan potongan-potongan pisang kukus yang berpindah tangan.
Dari merekalah mungkin cerita tentang Indonesia lebih akan bermakna, bukan sekarang, tapi di suatu saat nanti, saat membayangkan kelezatan pisang kukus (he..he.., ada yang sampe antri 2 kali putaran kukusan; catatan: kita mengukus sampai 3 kali karena kapasitas kukusan yang kecil) dan menatap gantungan kunci berbentuk pisang yang teman kita bagikan.
Membandingkan wisata Indonesia dengan negara lain akan sangat terasa bedanya. Ini kita rasakan saat bersama teman-teman "berpromosi" menurut cara kami, mahasiswa Indonesia di sini. Kami menyiapkan tari Saman dan Poco-poco untuk ditampilkan bersama-sama dengan beberapa lagu daerah dan lagu pop Indonesia. Dibanding poco-poco yang adalah tarian modern dengan dasar tari tradisional warga kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara, Tari Saman lebih terasa nuansa tradisionalnya. Yang cukup menggelikan adalah penampilan lagu tradisional. Dengan dasar lidah yang beragam, adalah susah bagi setiap dari kami mencocokkan lidah dengan cengkok Sunda (bagi orang Papua, Manado, Ambon dan NTT), ataupun cara mengucapkan lagu Alu siau (sampe-sampe kami harus memutar youtube untuk mengetahui cara pengucapan yang tepat beberapa kali, itupun pada akhirnya pengucapannya tidak setepat pengucapan si anak kecil di youtube yang Batak asli :D).
Kami memang bukan penggiat seni, bukan penari, dan bukan pula pegawai dinas pariwisata. Tapi ada banyak hal yang bisa kami lakukan tanpa harus membobol uang negara dengan alasan "promosi wisata". Malahan dengan promosi itu juga, kami bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan (bisa lebih dari 100% jika dikelola dengan benar) dari hasil menjual makanan khas Indonesia yang bahannya dengan mudah kami dapatkan di sini.
Satu hari sebelum penampilan kami dalam Festival Belmundo di Wageningen, kami sempat berkeliling di Pasar Malam Indonesia di Den Haag. Di sana dengan gampangnya kami akan bertemu dengan segala jenis masakan Indonesia dari segala pulau. Tidak jarang ada daerah yang khusus mengirimkan timnya untuk bisa tampil di Pasar Malam. Apa yang salah? Dunia yang semakin dekat jaraknya setelah perkembangan internet yang cepat, menciptakan promosi yang sangat cepat dengan biaya yang sangat murah. Pasar Malam hanyalah sarana kecil untuk promosi dan tidak lebih dari moment nostalgia para Indonesianis yang tinggal di negeri ini, yang begitu banyaknya jika dihitung dengan keturunan mereka. Suasana Pasar Malam yang "Indonesia abis" terasa jauh dari kesan promosi seperti yang didengang dengungkan.
Kembali ke Belmundo, ada kebanggaan tersendiri saat kita melihat antrian beberapa anak kecil bersama orang tua mereka yang menunggu pisang kukus yang sementara kita kukus. Mereka dan orang tua mereka belum sekalipun menginjakkan kaki di Indonesia, tapi perhatian mereka saat melihat kita mengaduk adonan pisang, tepung beras, tepung terigu dan santan diikuti dengan aroma harumnya pandan, menggoda mereka untuk tetap setia menanti sampai proses mengukus selesai. Sayangnya kita terlalu sibuk bercerita dengan mereka sampai tidak sempat mengabadikan moment indah ini. Apalagi melihat senyum ceria saat kita membagikan daun pisang sebagai alas untuk pisang kukus, diikuti dengan potongan-potongan pisang kukus yang berpindah tangan.
Dari merekalah mungkin cerita tentang Indonesia lebih akan bermakna, bukan sekarang, tapi di suatu saat nanti, saat membayangkan kelezatan pisang kukus (he..he.., ada yang sampe antri 2 kali putaran kukusan; catatan: kita mengukus sampai 3 kali karena kapasitas kukusan yang kecil) dan menatap gantungan kunci berbentuk pisang yang teman kita bagikan.
Monday, May 26, 2008
Amsterdam Red Light
Hari ini tepat setahun lalu, kita pertama kalinya menginjakkan kaki di negara yang pernah berkuasa atas negara kita selama lebih dari 350 tahun. Bukan untuk bernostalgia, tetapi 2 hari yang lalu kita menyempatkan diri menuju Amsterdam untuk bertemu dengan beberapa kenalan.
Tulisan ini sebenarnya bukan tentang Red Light itu sendiri, karena bercerita tentang Red Light (seperti posting kita sebelumnya), produksi kertas hutan Indonesia tidak akan cukup untuk menuliskannya jika dinding2x Oude Kerk punya telinga. Tulisan ini lebih pada perenungan kita akan orang-orang yang menyebut dirinya mewakili kita dan dengan lantangnya selalu berbicara mengatasnamakan kita.
Kita bertemu dengan beberapa dari mereka di Amsterdam. Tanpa menggeneralisasi, perasaan tidak suka tiba-tiba muncul saat tanpa sengaja kita menangkap beberapa kata-kata mereka. Diawali dengan pertaruhan antara mereka mempermasalahkan Ibukota Belanda (inilah salah satu bukti bahwa untuk menjadi "yang terhormat" tidak butuh kemampuan akademik, pelajaran sejarah SMP pun sudah membahas ini) dan dilanjutkan dengan bentuk teguran bernada ancaman kepada salah seorang wakil pemerintah karena ketidaksanggupan menyiapkan angkutan untuk dirinya "yang terhormat". Kita cuma manusia biasa yang hanya terdiam melihat si Ibu yang juga terdiam. Seorang Ibu yang sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil! Suatu ironi di tengah negara yang baru saja memperingati 10 tahun reformasi.
Inikah buah reformasi itu? Ketika pengabdian pada negara hanya dinilai dari kemampuan melayani sang "wakil rakyat"?
Terus terang kali itu adalah kali kedua kita berhadapan dengan "wakil kita". Sekitar 2 tahun yang lalu kita juga berhadapan dengan orang-orang seperti ini tapi bukan orang yang sama. Banyak cerita yang tidak bisa dituliskan lagi dengan kata-kata, karena hanya akan membangkitkan emosi kita. Dan hidup di negara ini selama 8 bulan semakin melengkapi pengalaman kita.
Tanyakan pada para Kawanua di seluruh Eropa tentang kisah "studi banding" ataupun apalah istilahnya. Akan banyak cerita lucu yang muncul. Belum lagi diperluas sampai wakil yang di Jakarta. Seorang teman di Paris punya cerita lucu. Dalam suatu pertemuan resmi dengan warga Indonesia di Paris, para peserta bertanya-tanya tenang ketidakhadiran seorang ketua komisi. Setelah dicek, sang "yang terhormat" itu tidak bisa hadir karena harus mendamaikan 2 isterinya yang bertengkar hebat di kamar hotel. Mungkinkah karena jumlah belanjaan yang tidak sama rata? Tanyakan pada sang anggota dewan itu yang dulunya terkenal sebagai aktivis pembela rakyat.
Kenapa kita memfokuskan diri pada mereka dan bukan pada pemerintah itu sendiri? Sekali lagi tanpa menggeneralisasi, kita beberapa kali juga berjalan dengan yang namanya orang pemerintah. Maafkan kita kalo sampai hari ini kita belum bertemu dengan tipe yang setara ke-aku-annya. Dengan enjoynya, orang-orang pemerintah yang pernah berjalan dengan kita menikmati naik turun metro, bus, makan roti seharga tidak lebih dari 1 euro yang kita tawarkan, dan masih juga menawarkan membawakan tas kita.
Lorong-lorong kecil sepanjang Amsterdam Red Light mungkin akan bisa lebih memperkaya cerita tentang para wakil rakyat itu. Larangan berfoto di kompleks ini hanya bisa menghasilkan beberapa lembar di depan kompleks ini dan bukan di lorong-lorong sempitnya.
Tulisan ini sebenarnya bukan tentang Red Light itu sendiri, karena bercerita tentang Red Light (seperti posting kita sebelumnya), produksi kertas hutan Indonesia tidak akan cukup untuk menuliskannya jika dinding2x Oude Kerk punya telinga. Tulisan ini lebih pada perenungan kita akan orang-orang yang menyebut dirinya mewakili kita dan dengan lantangnya selalu berbicara mengatasnamakan kita.
Kita bertemu dengan beberapa dari mereka di Amsterdam. Tanpa menggeneralisasi, perasaan tidak suka tiba-tiba muncul saat tanpa sengaja kita menangkap beberapa kata-kata mereka. Diawali dengan pertaruhan antara mereka mempermasalahkan Ibukota Belanda (inilah salah satu bukti bahwa untuk menjadi "yang terhormat" tidak butuh kemampuan akademik, pelajaran sejarah SMP pun sudah membahas ini) dan dilanjutkan dengan bentuk teguran bernada ancaman kepada salah seorang wakil pemerintah karena ketidaksanggupan menyiapkan angkutan untuk dirinya "yang terhormat". Kita cuma manusia biasa yang hanya terdiam melihat si Ibu yang juga terdiam. Seorang Ibu yang sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil! Suatu ironi di tengah negara yang baru saja memperingati 10 tahun reformasi.
Inikah buah reformasi itu? Ketika pengabdian pada negara hanya dinilai dari kemampuan melayani sang "wakil rakyat"?
Terus terang kali itu adalah kali kedua kita berhadapan dengan "wakil kita". Sekitar 2 tahun yang lalu kita juga berhadapan dengan orang-orang seperti ini tapi bukan orang yang sama. Banyak cerita yang tidak bisa dituliskan lagi dengan kata-kata, karena hanya akan membangkitkan emosi kita. Dan hidup di negara ini selama 8 bulan semakin melengkapi pengalaman kita.
Tanyakan pada para Kawanua di seluruh Eropa tentang kisah "studi banding" ataupun apalah istilahnya. Akan banyak cerita lucu yang muncul. Belum lagi diperluas sampai wakil yang di Jakarta. Seorang teman di Paris punya cerita lucu. Dalam suatu pertemuan resmi dengan warga Indonesia di Paris, para peserta bertanya-tanya tenang ketidakhadiran seorang ketua komisi. Setelah dicek, sang "yang terhormat" itu tidak bisa hadir karena harus mendamaikan 2 isterinya yang bertengkar hebat di kamar hotel. Mungkinkah karena jumlah belanjaan yang tidak sama rata? Tanyakan pada sang anggota dewan itu yang dulunya terkenal sebagai aktivis pembela rakyat.
Kenapa kita memfokuskan diri pada mereka dan bukan pada pemerintah itu sendiri? Sekali lagi tanpa menggeneralisasi, kita beberapa kali juga berjalan dengan yang namanya orang pemerintah. Maafkan kita kalo sampai hari ini kita belum bertemu dengan tipe yang setara ke-aku-annya. Dengan enjoynya, orang-orang pemerintah yang pernah berjalan dengan kita menikmati naik turun metro, bus, makan roti seharga tidak lebih dari 1 euro yang kita tawarkan, dan masih juga menawarkan membawakan tas kita.
Lorong-lorong kecil sepanjang Amsterdam Red Light mungkin akan bisa lebih memperkaya cerita tentang para wakil rakyat itu. Larangan berfoto di kompleks ini hanya bisa menghasilkan beberapa lembar di depan kompleks ini dan bukan di lorong-lorong sempitnya.
Friday, May 9, 2008
Panas!!!
Hari ini, saat membersihkan diri di bawah pancuran air bersuhu 30 derajat Celcius, kita terkejut melihat segaris bayangan di lengan kiri tempat kita melingkarkan sang penunjuk waktu. Ada apa ini, ada apa ini (cited from kita friend, 2008)? Sejak 5 Mei lalu, kita memutuskan mem"pensiun"kan sementara beberapa jaket kita dengan memasukkan ke mesin cuci dan melipatnya di pojok lemari. Sejak hari itu juga, selapis kaos lengan pendek, jeans selutut (tanpa lapisan lain) menjadi seragam kita setiap meninggalkan Haarweg 203. Perubahan suhu yang sangat drastis kita rasakan minggu ini. Setelah sebelumnya kaos lengan pendek yang di dalamnya kita lapisi dengan kaos termo dan masih ditambah jaket tipis dan jaket tebal mampu menghilangkan selapis "tropical sunlight" di kulit kita, minggu ini "temperate sunlight" mampu mewarnai kulit kita hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (2 hari bo!).
Kita jadi tertawa sendiri, karena hari itu sempat mentertawakan teman yang memakai kaos lengan panjang. Tipikal Indonesia! Takut hitam, he..he..he..., dan dengan pedenya menggunakan kaos lengan pendek. Dan hari ini kita baru sadar, temperate sunlight ternyata lebih jahat dari tropical sunlight!
Kita jadi tertawa sendiri, karena hari itu sempat mentertawakan teman yang memakai kaos lengan panjang. Tipikal Indonesia! Takut hitam, he..he..he..., dan dengan pedenya menggunakan kaos lengan pendek. Dan hari ini kita baru sadar, temperate sunlight ternyata lebih jahat dari tropical sunlight!
Thursday, May 8, 2008
10,000 tulips bulbs to Canada
Wageningen, 5 March 1945. Charles Faulkes, pemimpin pasukan Kanada akhirnya mencapai kata sepakat dengan komandan German, Johannes Blaskowitz di Hotel de Wereld. Satu hari sesudahnya, ditandatanganilah dokumen pembebasan Belanda dari kungkungan Jerman di Aula Wageningen University yang berada di samping Hotel de Wereld. Penandatanganan ini mengakhiri masa hitam bagi penduduk Belanda, yang digambarkan oleh khadim pada ibadah beberapa bulan lalu, sebagai masa paling kelam dalam hidupnya. Ibunya hanya bisa menyiapkan sepotong roti untuk dimakan oleh seisi rumah ang beranggota lebih dari 7 orang.
Tanggal 4 Mei 2008, Rev. Josine mengajak kami, international student dalam ibadah di Wageningen Student Chaplaincy untuk mengingat para korban perang, mereka yang meninggal karena kekerasan perang. Perang hanya menghancurkan peradaban.
Tanggal 4 Mei 2008, Rev. Josine mengajak kami, international student dalam ibadah di Wageningen Student Chaplaincy untuk mengingat para korban perang, mereka yang meninggal karena kekerasan perang. Perang hanya menghancurkan peradaban.
Dan hari itu, 5 Mei 2008, kita berkesempatan menyaksikan peringatan terbesar di Kota kecil ini. Banyak orang berdatangan menyaksikan parade para veteran, musik bagi orang muda, serasa berada di tengah pesta 17 Agustus-an di Indonesia. Yang membedakan mungkin adalah kalo kita menikmati di indonesia, kita tidak diizinkan untuk berpesta sebelum acara perenungan (baca: upacara bendera) berakhir. Di sini, suara musik rock yang berdentum keras, dj dengan segala bunyi di atas panggung, tarian international student dari Afrika yang bergemuruh tidak membutuhkan seremonial. Kedua-duanya berjalan bersama-sama tanpa saling mengganggu.
Ini yang mungkin menyebabkan para muda-mudi dengan senangnya berpesta tanpa harus dikengkang kebebasannya dengan upacara yang hanya mau dinikmati generasi abg (angkatan babe gua)-nya.
Tentang judul di atas, sebagai tribute untuk tentara Kanada, setiap tahun Ratu Belanda mengirimkan 10,000 kuncup tulip ke Kanada dan di saat yang sama bendera Kanada akan berkibar di Belanda berdampingan dengan bendera Amerika, Inggris, Portugis, Spanyol dan yang lainnya.
Untuk foto klik di sini
Sunday, May 4, 2008
Privacy
Kemarin, dengan memanfaatkan tiket "kemana suka", kita dan enam perempuan Wageningen lainnya mengarahkan kaki ke kota di ujung Nehterland: Maastrict.
Dalam perjalanan yang (menurut hasil searching di internet) akan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam, kita dan 2 teman lainnya berada 1 gerbong dengan serombongan orang dari Indonesia. Terus terang, perasaan kami bertiga dari awal sudah tidak enak, karena rombongan ini melakukan hal yang (biasanya) sering dilakukan di Indonesia: menyiapkan tempat untuk teman-temannya. Bukan sesuatu yang pantas untuk dikomplain di saat gerbong kosong, tetapi menjadi hal yang memalukan (bagi kami sesama Indonesian people) di saat gerbong kereta begitu penuh.
Di perjalanan terbukti apa yang kami khawatirkan terjadi. Percakapan antar mereka itu dilakukan dengan suara yang sedemikian kerasnya sampai-sampai beberapa kali terlihat ada penumpang yang melihat ke arah mereka dengan pandangan tidak senang. Kita yang sempat tertidur (dengan iringan suara obrolan mereka), sampai-sampai terlonjak kaget saat suara tawa yang diluar batas desibel membahana di gerbong itu.
Mengapa?
Perbedaan privacy mungkin menjadi penyebabnya. Perbedaan yang kita alami juga saat berhadapan dengan orang di sini. Pertama menginjakkan kaki di koridor ini, kita sempat terkejut saat melihat penghuni kamar di samping kita melenggang dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana dalam. Memang tidak sedahsyat pengalaman seorang teman di koridor yang berbeda, yang setiap kali berpapasan dengan rekan koridornya yang keluar dari kamar mandi bersama pasangannya dengan pakaian ala kadarnya.
Persoalannya apa?
Di sinilah perenungan kita pada diri kita sendiri hari ini. Sanggupkah kita merubah atau beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal tanpa menghilangkan kebiasaan kita?
Seorang teman kita terganggu dengan teguran kita yang meminta mengecilkan volume suaranya. Pada saat itu kami yang sementara berdiskusi memang tidak merasa bersalah karena terbiasa dengan ucapan "emang train ini punya elo".
Perjalanan ke Maastrict menyadarkan kita seberapa besar gangguan yang kita lakukan terhadap orang lain pada saat kita berpikir bahwa "suka2x gua dong mo bicara".
Dalam perjalanan yang (menurut hasil searching di internet) akan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam, kita dan 2 teman lainnya berada 1 gerbong dengan serombongan orang dari Indonesia. Terus terang, perasaan kami bertiga dari awal sudah tidak enak, karena rombongan ini melakukan hal yang (biasanya) sering dilakukan di Indonesia: menyiapkan tempat untuk teman-temannya. Bukan sesuatu yang pantas untuk dikomplain di saat gerbong kosong, tetapi menjadi hal yang memalukan (bagi kami sesama Indonesian people) di saat gerbong kereta begitu penuh.
Di perjalanan terbukti apa yang kami khawatirkan terjadi. Percakapan antar mereka itu dilakukan dengan suara yang sedemikian kerasnya sampai-sampai beberapa kali terlihat ada penumpang yang melihat ke arah mereka dengan pandangan tidak senang. Kita yang sempat tertidur (dengan iringan suara obrolan mereka), sampai-sampai terlonjak kaget saat suara tawa yang diluar batas desibel membahana di gerbong itu.
Mengapa?
Perbedaan privacy mungkin menjadi penyebabnya. Perbedaan yang kita alami juga saat berhadapan dengan orang di sini. Pertama menginjakkan kaki di koridor ini, kita sempat terkejut saat melihat penghuni kamar di samping kita melenggang dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana dalam. Memang tidak sedahsyat pengalaman seorang teman di koridor yang berbeda, yang setiap kali berpapasan dengan rekan koridornya yang keluar dari kamar mandi bersama pasangannya dengan pakaian ala kadarnya.
Persoalannya apa?
Di sinilah perenungan kita pada diri kita sendiri hari ini. Sanggupkah kita merubah atau beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal tanpa menghilangkan kebiasaan kita?
Seorang teman kita terganggu dengan teguran kita yang meminta mengecilkan volume suaranya. Pada saat itu kami yang sementara berdiskusi memang tidak merasa bersalah karena terbiasa dengan ucapan "emang train ini punya elo".
Perjalanan ke Maastrict menyadarkan kita seberapa besar gangguan yang kita lakukan terhadap orang lain pada saat kita berpikir bahwa "suka2x gua dong mo bicara".
Wednesday, April 30, 2008
Lost in Amsterdam

"Jangan ke Amsterdam kalo mo ngerayain Koninginnedag, macet, banyak orang mabuk, susah pulangnya" adalah nasehat kakak-kakak angkatan kami di sini. Kata orang sifat manusia semakin dilarang keinginan untuk melanggar semakin besar. Maka dengan bermodalkan nasehat dari kakak2x yang sama (berangkat pagi-pagi, pulang jangan sampai kemalaman), 3 perempuan Haarweg dan 5 perempuan Bornsesteeg (heran, para laki-lakinya yang katanya tangguh nggak satupun yang mau diajak!) memanfaatkan koninginnedag tiket menuju Amsterdam.
Koninginnedag adalah acara memperingati ulang tahun Ratu Belanda. Tanyakan pada para orang tua di Indonesia, dengan gampangnya mereka akan mengingat tanggal 30 April. Pertimbangan musim menyebabkan tidak ada perubahan tanggal perayaan sekalipun Ratu yang sekarang tidak berulang tahun di tanggal ini.
Sekitar jam 10.15, tibalah para perempuan tangguh Desa Wageningen di kota beribu cerita itu. Pemandangan "oranje abis" yang sudah dimulai sejak meninggalkan Haarweg dan Bornsesteg, kembali menyilaukan mata. Di mana-mana oranje. Kamipun berjalan menelusuri sudut Amsterdam yang bersih dari angkutan umum dan angkutan pribadi. Sesuatu yang sempat menimbulkan kekecewaan karena diiming-iming "gratis pake bus" oleh penjual tiket di Ede Station.
Hari yang masih pagi memudahkan menelusuri kota ini. Pasukan "berani" malu ada di mana-mana lengkap dengan nafas "oranje abis". Dengan mudahnya kita bisa mengambil gambar, karena itulah yang mereka inginkan. Semakin sering diajak berpose, semakin sukses penampilan mereka.
Seiring dengan semakin tingginya matahari, keramaianpun semakin bertambah dan semakin sulit mencari ruang khusus untuk berfoto ria. Dan kesulitan itupun bertambah saat kita tersesat dari rombongan. Keasyikan mengambil gambar menyebabkan kita tidak melihat saat ke-7 perempuan tangguh lainnya (lengkap dengan boneka yang lebih gede dari anak 7 tahun) menuju stasiun kereta. Dengan bermodalkan petunjuk arah, kita pun sampai di Amsterdam Central setelah berjuang menerobos kepadatan jalan di sekitar Amsterdam CS (termasuk keasyikan menyaksikan parade pasangan sesama jenis yang dengan mesranya bergandengan tangan tapi yang tidak berani kita ambil gambarnya).
Tiba di CS yang arus baliknya masih sepi (at 05.15 pm) sementara arus kedatangannya sangat padat, perasaan kesepian pun muncul.
Apalagi saat menatap seekor merpati yang tiba-tiba muncul di samping kita. Amsterdam, kota yang katanya tidak pernah tidur. Hari ini pecahan botol, kertas dan sampah lainnya mengotori jalan dan kanalmu. Kalo saja tembok-tembok Gereja Tua di tengah Red Light itu bisa bercerita, akan habis hutan di negeriku untuk menampung cerita itu.
Catatan: Foto lain bisa diklik di sini
Koninginnedag adalah acara memperingati ulang tahun Ratu Belanda. Tanyakan pada para orang tua di Indonesia, dengan gampangnya mereka akan mengingat tanggal 30 April. Pertimbangan musim menyebabkan tidak ada perubahan tanggal perayaan sekalipun Ratu yang sekarang tidak berulang tahun di tanggal ini.
Sekitar jam 10.15, tibalah para perempuan tangguh Desa Wageningen di kota beribu cerita itu. Pemandangan "oranje abis" yang sudah dimulai sejak meninggalkan Haarweg dan Bornsesteg, kembali menyilaukan mata. Di mana-mana oranje. Kamipun berjalan menelusuri sudut Amsterdam yang bersih dari angkutan umum dan angkutan pribadi. Sesuatu yang sempat menimbulkan kekecewaan karena diiming-iming "gratis pake bus" oleh penjual tiket di Ede Station.
Hari yang masih pagi memudahkan menelusuri kota ini. Pasukan "berani" malu ada di mana-mana lengkap dengan nafas "oranje abis". Dengan mudahnya kita bisa mengambil gambar, karena itulah yang mereka inginkan. Semakin sering diajak berpose, semakin sukses penampilan mereka.
Seiring dengan semakin tingginya matahari, keramaianpun semakin bertambah dan semakin sulit mencari ruang khusus untuk berfoto ria. Dan kesulitan itupun bertambah saat kita tersesat dari rombongan. Keasyikan mengambil gambar menyebabkan kita tidak melihat saat ke-7 perempuan tangguh lainnya (lengkap dengan boneka yang lebih gede dari anak 7 tahun) menuju stasiun kereta. Dengan bermodalkan petunjuk arah, kita pun sampai di Amsterdam Central setelah berjuang menerobos kepadatan jalan di sekitar Amsterdam CS (termasuk keasyikan menyaksikan parade pasangan sesama jenis yang dengan mesranya bergandengan tangan tapi yang tidak berani kita ambil gambarnya).
Tiba di CS yang arus baliknya masih sepi (at 05.15 pm) sementara arus kedatangannya sangat padat, perasaan kesepian pun muncul.
Apalagi saat menatap seekor merpati yang tiba-tiba muncul di samping kita. Amsterdam, kota yang katanya tidak pernah tidur. Hari ini pecahan botol, kertas dan sampah lainnya mengotori jalan dan kanalmu. Kalo saja tembok-tembok Gereja Tua di tengah Red Light itu bisa bercerita, akan habis hutan di negeriku untuk menampung cerita itu.
Catatan: Foto lain bisa diklik di sini
Monday, April 28, 2008
Antara di sana dan di sini
Melalui hari-hari di belahan bumi bermusim 4 ini sering melahirkan kekangenan akan banyak hal. Ketidakteraturan di jalanan, macetnya jalan Sudirman, aksi copet di atas bus, antrian busway di Harmoni, teriakan kenek di beos, lezatnya bakmi goreng di gang kelinci, dan terutama panasnya matahari yang membakar kulit.
(ps: Untuk yang terakhir, kita sempat menikmati kekaguman orang untuk kulit kita yang semakin kehilangan warna dibungkus lapisan jaket selama berbulan-bulan).
Lanjut......
Beberapa hari ini membandingkan di sana dan di sini menjadi topik yang seru. Di sebuah forum diskusi, terjadi semacam balas membalas (kalaupun tidak bisa disebut perdebatan) antara di sana dan di sini. Diskusi yang sama yang senantiasa kita dan teman-teman di sini lakukan setiap kumpul/jalan/makan bareng.
Ada apa di sana dan bagaimana di sini? Kami membaca di sana kenaikan harga tempe dan minyak (goreng ataupun tanah) yang semakin menggila. Sementara di sini sambil menikmati tempe yang digoreng dengan minyak olive dan/atau minyak jagung di atas kompor gas, kami masih memimpikan enaknya siomai goreng di pagi hari, nasi uduk di pojokan jalan Cikini, bakso pak kumis, ketokan khas tukang sate yang lewat saat magrib, ataupun tukang bakso yang nongkrong di pojokan RS Cipto Mangunkusumo. Rasa yang selalu memanggil kami untuk balik ke sana, sampai-sampai belum setahun di sini, rencana reuni di semua lokasi itupun sudah sering didiskusikan (termasuk menikmati tinutuan dan rica roa di tempat aslinya).
Keindahan dan kelezatan tersebut ternyata tidak bisa dinikmati sebagian lagi yang (karena takdir, katanya) menitipkan pusarnya di sana. Ada banyak alasan bagi mereka, termasuk "belum pernah merasakan hidup yang seenak di sini". "Pokoknya benci!" adalah alasan lain beberapa penjaga toko di daerah pinggiran Champs Elysses. Sebagian lagi selalu mendiskusikan tentang korupsi dan kesemrawutan di sana. Kita sempat tertawa membaca posting seseorang yang baru berlibur di sana. Orang itu mengeluhkan ribetnya urusan pembatalan pesawat di sana, sementara pada saat yang sama di sinipun akan sangat ribet untuk urusan tanpa perencanaan ataupun re-schedule (jangan katakan tidak, karena kita pernah kehilangan ratusan euro untuk hal ini). Kenapa kita selalu menganggap keteraturan adalah kewajaran di sini sementara (tanpa kita sadar) kita mengeluhkan keteraturan di sana.
Banyak yang salah memang di sana, tetapi ada banyak juga kesalahan kita di saat kita menganggap diri kita lebih tahu hanya karena kita hidup di sini.
Terlalu serius?
Kita hanya menganggap orang yang mengeluh itu adalah orang yang tidak pernah merasakan enaknya bergelantungan di bus yang penuh sesak, nikmatnya tahu isi di jembatan Pasar Baru ataupun segarnya tegukan teh botol s.... di pinggiran jembatan penyebrangan blok M.
Atau yang lebih seru lagi: mereka tidak pernah merasa menjadi manusia di sana.
Satu lagi:
Sabtu lalu kita menikmati ke"crowded"an di "the largest bulb flower park" di dunia. Tatanan yang indah dan penuh warna tapi sayang terlalu artificial. Tulip-tulip yang telah bermekaran penuh, yang harganya bisa berjuta-juta ketika diekspor ke sana, tetapi tidak ada harganya lagi di sini karena masa kuncupnya telah selesai (lihat di sini). Hari ini kita terpaku dengan 2 hal. Pertama saat melewati sebuah toko biological food, mata tertanam pada kuncup kembang tahi ayam (kalo nggak salah ingat, nama kerennya mary gold) yang dengan manisnya di-label-in "from Afrika" dan dihargai 6.95 euro. Hal yang kedua saat memasuki albert heijn supermarket yang sedang giat2xnya berpromosi film "Tarzan", dan menemukan "banana tree" dengan label "jungle" dengan gagahnya berdiri di tengah toko dalam wadah plastik. Kita tidak melihat harga di situ, tapi kita dan 2 teman kita langsung membayangkan daunnya untuk membungkus pisang ataupun aneka makanan di sana lainnya. Kita pun teringat kehati-hatian kita saat membuat lalampa dan pisang kukus, karena justru daun pisang (yang tidak dimakan) adalah bahan termahal di antara bahan-bahan lainnya (see pisang kukus here).
(ps: Untuk yang terakhir, kita sempat menikmati kekaguman orang untuk kulit kita yang semakin kehilangan warna dibungkus lapisan jaket selama berbulan-bulan).
Lanjut......
Beberapa hari ini membandingkan di sana dan di sini menjadi topik yang seru. Di sebuah forum diskusi, terjadi semacam balas membalas (kalaupun tidak bisa disebut perdebatan) antara di sana dan di sini. Diskusi yang sama yang senantiasa kita dan teman-teman di sini lakukan setiap kumpul/jalan/makan bareng.
Ada apa di sana dan bagaimana di sini? Kami membaca di sana kenaikan harga tempe dan minyak (goreng ataupun tanah) yang semakin menggila. Sementara di sini sambil menikmati tempe yang digoreng dengan minyak olive dan/atau minyak jagung di atas kompor gas, kami masih memimpikan enaknya siomai goreng di pagi hari, nasi uduk di pojokan jalan Cikini, bakso pak kumis, ketokan khas tukang sate yang lewat saat magrib, ataupun tukang bakso yang nongkrong di pojokan RS Cipto Mangunkusumo. Rasa yang selalu memanggil kami untuk balik ke sana, sampai-sampai belum setahun di sini, rencana reuni di semua lokasi itupun sudah sering didiskusikan (termasuk menikmati tinutuan dan rica roa di tempat aslinya).
Keindahan dan kelezatan tersebut ternyata tidak bisa dinikmati sebagian lagi yang (karena takdir, katanya) menitipkan pusarnya di sana. Ada banyak alasan bagi mereka, termasuk "belum pernah merasakan hidup yang seenak di sini". "Pokoknya benci!" adalah alasan lain beberapa penjaga toko di daerah pinggiran Champs Elysses. Sebagian lagi selalu mendiskusikan tentang korupsi dan kesemrawutan di sana. Kita sempat tertawa membaca posting seseorang yang baru berlibur di sana. Orang itu mengeluhkan ribetnya urusan pembatalan pesawat di sana, sementara pada saat yang sama di sinipun akan sangat ribet untuk urusan tanpa perencanaan ataupun re-schedule (jangan katakan tidak, karena kita pernah kehilangan ratusan euro untuk hal ini). Kenapa kita selalu menganggap keteraturan adalah kewajaran di sini sementara (tanpa kita sadar) kita mengeluhkan keteraturan di sana.
Banyak yang salah memang di sana, tetapi ada banyak juga kesalahan kita di saat kita menganggap diri kita lebih tahu hanya karena kita hidup di sini.
Terlalu serius?
Kita hanya menganggap orang yang mengeluh itu adalah orang yang tidak pernah merasakan enaknya bergelantungan di bus yang penuh sesak, nikmatnya tahu isi di jembatan Pasar Baru ataupun segarnya tegukan teh botol s.... di pinggiran jembatan penyebrangan blok M.
Atau yang lebih seru lagi: mereka tidak pernah merasa menjadi manusia di sana.
Satu lagi:
Sabtu lalu kita menikmati ke"crowded"an di "the largest bulb flower park" di dunia. Tatanan yang indah dan penuh warna tapi sayang terlalu artificial. Tulip-tulip yang telah bermekaran penuh, yang harganya bisa berjuta-juta ketika diekspor ke sana, tetapi tidak ada harganya lagi di sini karena masa kuncupnya telah selesai (lihat di sini). Hari ini kita terpaku dengan 2 hal. Pertama saat melewati sebuah toko biological food, mata tertanam pada kuncup kembang tahi ayam (kalo nggak salah ingat, nama kerennya mary gold) yang dengan manisnya di-label-in "from Afrika" dan dihargai 6.95 euro. Hal yang kedua saat memasuki albert heijn supermarket yang sedang giat2xnya berpromosi film "Tarzan", dan menemukan "banana tree" dengan label "jungle" dengan gagahnya berdiri di tengah toko dalam wadah plastik. Kita tidak melihat harga di situ, tapi kita dan 2 teman kita langsung membayangkan daunnya untuk membungkus pisang ataupun aneka makanan di sana lainnya. Kita pun teringat kehati-hatian kita saat membuat lalampa dan pisang kukus, karena justru daun pisang (yang tidak dimakan) adalah bahan termahal di antara bahan-bahan lainnya (see pisang kukus here).
Monday, April 21, 2008
Ada "Larung" di Wageningen
Sabtu kemarin, kita mengetuk pintu kamar Ting2x, rekan sekoridor, mengajaknya "menghilangkan bayangan "David Bender" dengan segala teori metabolismenya" (yang sebenarnya sangat menarik buat kita if nggak disuruh ngafalin semua jalurnya!). Tawaran kita pun disambut gembira pemilik kamar yang juga kebingungan dengan t square-nya Longnecker.
Singkat kata, tibalah 2 penghuni koridor Haarweg 203 dengan sehat (karena sepeda) dan selamat (sempat terkagum-kagum sama kembang liar yang tiba2x bermunculan di sepanjang jalan sampe nggak sadar di depan ada mobil yang nggak "gentlemana" ) di tujuan kami: Pusat Desa Wageningen. Tujuan utama membeli bahan kebutuhan pokok hampir terlupakan manakala mata memandang jejeran tenda bermuatkan ratusan bahkan ribuan buku. Wow! Ada pesta buku!
Dengan semangat 45, kakipun melangkah sambil mata dengan cepatnya menelusuri rangkaian judul dan warna yang menggoda. Warna dan tampilan memang menggoda, tapi apa daya bahasa tak sampai! Kita pun terpaksa menatap dengan sedihnya jejeran Michael Crichton, Enid Blyton, Sherlock Holmes yang seakan ikut mentertawakan kami yang hanya bisa mengucap "dank u wel".
Untuk ukuran tempat sekecil ini, pasar buku "second hand" kali ini memang luar biasa. Koleksi ensiklopedi, buku pengetahuan, roman, rohani, sampai pada koleksi Disney terlengkap pun hadir. Dengan bermodalkan n70 yang cuman punya kemampuan 2 megapixel, kita pun bergaya layaknya fotografer pinggir jalan. Yang menarik adalah masih banyaknya koleksi buku tentang Indonesia jaman baheula yang dipajang dengan manisnya. Indonesia menjadi simbol kejayaan masa lalu negara ini. Kesan yang beberapa kali kita kutip dari percakapan dengan warga senior. Di sisi lain, percakapan dengan beberapa warga yunior, mengesankan Indonesia sebagai sejarah kelam bagi mereka. Seorang warga yunior yang menganggap Ratu sebagai "tukang gunting pita" doang, bahkan mengomentari kemujuran kita ke sini sebagai "kewajiban negaranya membayar apa yang dirampas selama 350 tahun".
Hal yang paling mengejutkan adalah ketika kita bertemu "LARUNG". Karya perempuan bernama Ayu Utami yang terpajang di antara deretan buku tentang Indonesia dijual dengan harga 9 euro. Dutch Edition. Dengan masih menyimpan kekaguman, kita pun menelusuri seluruh arena penjualan, mencoba mencari karya penulis Indonesia lainnya. Tidak ada! So, 2 tumbs to Ayu.
Pengen ketemu Larung juga? Klik di sini
Catatan kaki:
Singkat kata, tibalah 2 penghuni koridor Haarweg 203 dengan sehat (karena sepeda) dan selamat (sempat terkagum-kagum sama kembang liar yang tiba2x bermunculan di sepanjang jalan sampe nggak sadar di depan ada mobil yang nggak "gentlemana" ) di tujuan kami: Pusat Desa Wageningen. Tujuan utama membeli bahan kebutuhan pokok hampir terlupakan manakala mata memandang jejeran tenda bermuatkan ratusan bahkan ribuan buku. Wow! Ada pesta buku!
Dengan semangat 45, kakipun melangkah sambil mata dengan cepatnya menelusuri rangkaian judul dan warna yang menggoda. Warna dan tampilan memang menggoda, tapi apa daya bahasa tak sampai! Kita pun terpaksa menatap dengan sedihnya jejeran Michael Crichton, Enid Blyton, Sherlock Holmes yang seakan ikut mentertawakan kami yang hanya bisa mengucap "dank u wel".
Untuk ukuran tempat sekecil ini, pasar buku "second hand" kali ini memang luar biasa. Koleksi ensiklopedi, buku pengetahuan, roman, rohani, sampai pada koleksi Disney terlengkap pun hadir. Dengan bermodalkan n70 yang cuman punya kemampuan 2 megapixel, kita pun bergaya layaknya fotografer pinggir jalan. Yang menarik adalah masih banyaknya koleksi buku tentang Indonesia jaman baheula yang dipajang dengan manisnya. Indonesia menjadi simbol kejayaan masa lalu negara ini. Kesan yang beberapa kali kita kutip dari percakapan dengan warga senior. Di sisi lain, percakapan dengan beberapa warga yunior, mengesankan Indonesia sebagai sejarah kelam bagi mereka. Seorang warga yunior yang menganggap Ratu sebagai "tukang gunting pita" doang, bahkan mengomentari kemujuran kita ke sini sebagai "kewajiban negaranya membayar apa yang dirampas selama 350 tahun".
Hal yang paling mengejutkan adalah ketika kita bertemu "LARUNG". Karya perempuan bernama Ayu Utami yang terpajang di antara deretan buku tentang Indonesia dijual dengan harga 9 euro. Dutch Edition. Dengan masih menyimpan kekaguman, kita pun menelusuri seluruh arena penjualan, mencoba mencari karya penulis Indonesia lainnya. Tidak ada! So, 2 tumbs to Ayu.
Pengen ketemu Larung juga? Klik di sini
Catatan kaki:
- a pengayuh sepeda adalah warga terhormat kedua (sesudah pejalan kaki), sehingga sekalipun masih jauh pengemudi mobil akan memperlambat mobilnya saat melihat sepeda akan menyebrang. Sayangnya ada juga (not more than 10%) sopir yang terburu-buru dan malas memberikan jalan pada pengayuh sepeda.
Saturday, April 12, 2008
Adaptasi
Beberapa hari yang lalu, dalam rangka memenuhi persyaratan kursus yang kita ikuti, kita menampilkan presentasi tentang Adaptasi.
Menurut Darwin, adaptasi adalah proses yang dilakukan makhluk hidup untuk bisa survive. Tapi bukan adaptasi itu yang kita maksudkan.
Dalam presentasi kita menampilkan bagaimana sekelompok manusia Indonesia beradaptasi di sebuah desa kecil bernama Wageningen, tanpa kehilangan ke-Indonesian-nya. Presentasi yang harusnya cuma berlangsung 20 menit, berkembang menjadi lebih dari 45 menit dengan pertanyaan yang beragam. Teman-teman, termasuk instruktur, yang belum pernah mengunjungi Indonesia begitu antusias bertanya tentang segala hal. Keindahan kehidupan di bawah Laut Bunaken dan Raja Ampat; pakaian adat yang beragam serta keindahan abu Merapi yang kita curi (he..he..he...) gambarnya dari internet, mampu menghipnotis mereka.
Tetapi diskusi yang paling seru adalah tentang makanan, sebagai faktor terpenting manusia Indonesia beradaptasi. Dalam presentasi, kita menampilkan foto "bakar sate" di Haarweg 203. Pertanyaan tentang makanan Indonesia pun bermunculan, terutama kepenasaran instruktur kita (kayaknya doi warganegara Inggris, but I'm not sure) tentang "babi panggang" dan "nasi goreng", makanan kegemarannya yang selama ini dia anggap "made in Chinese". Dengan bangganya kita pun menerangkan cara mengucapkan babi panggang dan nasi goreng, serta menerangkan bahan-bahannya untuk menegaskan (setegas-tegasnya): wong dari cara nyebutinnya aja udah Indonesia banget, gitu lho!
Seorang teman Spanyol yang melihat foto kursus poco-poco yang kami lakukan dalam rangka Indonesian night, dengan antusiasnya bertanya. Dia sudah pernah mendengar dan melihat poco-poco tapi tidak tahu kalo "senam" itu berasal dari Indonesia. Tidak kita sangka "poco-poco" sudah seterkenal itu, sehingga dengan pd-nya (maklum anggota pdWageningen) kita pun menampilkan dan menjelaskan dasar senam ini, padahal kita pun baru belajar poco-poco di Wageningen ini dari seorang teman asal Papua (many thx to Cathy)!
Rasa ke-Indonesiaan memang makin tinggi manakala kita jauh dari Indonesia. Rasa yang sama yang kita rasakan saat melihat seorang teman dari negara tetangga (yang paling sering "mengakui" milik Indonesia), terdiam. Indonesia punya banyak hal, kawan! Indonesia bukan hanya punya kebudayaan Melayu, nina bobo, burung kakak tua. Indonesia punya kami, dengan segala keragamannya!
Menurut Darwin, adaptasi adalah proses yang dilakukan makhluk hidup untuk bisa survive. Tapi bukan adaptasi itu yang kita maksudkan.
Dalam presentasi kita menampilkan bagaimana sekelompok manusia Indonesia beradaptasi di sebuah desa kecil bernama Wageningen, tanpa kehilangan ke-Indonesian-nya. Presentasi yang harusnya cuma berlangsung 20 menit, berkembang menjadi lebih dari 45 menit dengan pertanyaan yang beragam. Teman-teman, termasuk instruktur, yang belum pernah mengunjungi Indonesia begitu antusias bertanya tentang segala hal. Keindahan kehidupan di bawah Laut Bunaken dan Raja Ampat; pakaian adat yang beragam serta keindahan abu Merapi yang kita curi (he..he..he...) gambarnya dari internet, mampu menghipnotis mereka.
Tetapi diskusi yang paling seru adalah tentang makanan, sebagai faktor terpenting manusia Indonesia beradaptasi. Dalam presentasi, kita menampilkan foto "bakar sate" di Haarweg 203. Pertanyaan tentang makanan Indonesia pun bermunculan, terutama kepenasaran instruktur kita (kayaknya doi warganegara Inggris, but I'm not sure) tentang "babi panggang" dan "nasi goreng", makanan kegemarannya yang selama ini dia anggap "made in Chinese". Dengan bangganya kita pun menerangkan cara mengucapkan babi panggang dan nasi goreng, serta menerangkan bahan-bahannya untuk menegaskan (setegas-tegasnya): wong dari cara nyebutinnya aja udah Indonesia banget, gitu lho!
Seorang teman Spanyol yang melihat foto kursus poco-poco yang kami lakukan dalam rangka Indonesian night, dengan antusiasnya bertanya. Dia sudah pernah mendengar dan melihat poco-poco tapi tidak tahu kalo "senam" itu berasal dari Indonesia. Tidak kita sangka "poco-poco" sudah seterkenal itu, sehingga dengan pd-nya (maklum anggota pdWageningen) kita pun menampilkan dan menjelaskan dasar senam ini, padahal kita pun baru belajar poco-poco di Wageningen ini dari seorang teman asal Papua (many thx to Cathy)!
Rasa ke-Indonesiaan memang makin tinggi manakala kita jauh dari Indonesia. Rasa yang sama yang kita rasakan saat melihat seorang teman dari negara tetangga (yang paling sering "mengakui" milik Indonesia), terdiam. Indonesia punya banyak hal, kawan! Indonesia bukan hanya punya kebudayaan Melayu, nina bobo, burung kakak tua. Indonesia punya kami, dengan segala keragamannya!
Thursday, March 13, 2008
Manado dan kehidupannya (II)
Makanan memang menjadi fokus utama menjelajahi Manado, tapi penginapan juga tidak kalah pentingnya. Yang satu ini dengan gampangnya bisa didapatkan tergantung tujuan perjalanan.
Khusus mengunjungi Manado untuk melihat keindahan Taman Laut Bunaken? Pilihan pertama pasti ada di jejeran penginapan yang ada di Pulau Bunaken. Bastianos bisa jadi pilihan utama (bukan karena pemiliknya kenalan kita, he..he..he..). Paling tidak tempat ini menjadi tempat favoritnya Nadine dan adik-adiknya (kita lagi membayangkan ketemu Marcel dan Mischa lagi tidur2an di pasirnya Pulau Bunaken)
Buat yang rada takut dengan namanya perahu, Hotel Santika bisa menjadi pilihan lain karena jaraknya yang hanya 15 menit dari Pulau Bunaken (bandingkan dengan jarak dari Pelabuhan Kali Mas yang bisa memakan waktu 1 jam). Hotel ini sempat menjadi pilihan Oranje Prins saat beliau menikmati keindahan Taman Laut Bunaken. Pemandangan dari arah hotel ini ke Gunung Manado Tua juga sangat memukau, ditambah barbeque di bawah pohon besar yang strategis di malam purnama. Pemandangan Manado Tua saat sunset dibalik lambaian daun kelapa (foto di samping ini) kita ambil di suatu sore yang cerah dari arah Santika.
Hotel lain yang bisa menjadi pilihan adalah Hotel Celebes. Berlokasi persis di samping Kali Mas, memudahkan memilih perahu yang sesuai dengan kebutuhan. Hotel ini tahun lalu direnovasi seiring dengan semakin tertatanya lingkungan di sekitarnya. Keuntungan lain menginap di sini adalah lokasi yang berada di jantung Kota Manado.
Beragam hotel lain bisa menjadi pilihan lain. Dari arah pusat kota, ada Hotel Ritzy, Hotel Kawanua, Hotel Quality, sampai Hotel Grand Puri.
Perjalanan bisa berlanjut ke beberapa Kabupaten/Kota yang mengelilingi Manado. Tertarik dengan hewan? Arahkan tujuan ke Tangkoko Batuangus, hutan lindung yang terletak di Kota Bitung. Hutan ini menyimpan Tarsius spectrum; primata terkecil di dunia yang sangat pemalu. Keindahan pantai yang ditutupi jejeran batu besar berwarna hitam (mungkin ini dasar penyebutan batuangus), bisa menjadi lokasi indah bagi penggemar fotografi.
Penggemar antropologi bisa menyelusuri Kabupaten Minahasa Utara ke arah Minahasa (Tondano), menikmati waruga, kuburan tradisional Minahasa. Sementara yang merindukan alam pegunungan bisa melanjutkan ke Kota Tomohon. Kabupaten Minahasa juga menyajikan keindahan lain. Danau Tondano bisa disusuri sambil menikmati lezatnya ikan bakar ala Minahasa. Tidak ketinggalan jagung muda dan telur yang direbus alami di sumber mata air panas Bukit Kasih, Kanonang.
Selamat berburu!
Sebagai awalnya bisa menikmati Manado di sini dan sini.
Khusus mengunjungi Manado untuk melihat keindahan Taman Laut Bunaken? Pilihan pertama pasti ada di jejeran penginapan yang ada di Pulau Bunaken. Bastianos bisa jadi pilihan utama (bukan karena pemiliknya kenalan kita, he..he..he..). Paling tidak tempat ini menjadi tempat favoritnya Nadine dan adik-adiknya (kita lagi membayangkan ketemu Marcel dan Mischa lagi tidur2an di pasirnya Pulau Bunaken)
Buat yang rada takut dengan namanya perahu, Hotel Santika bisa menjadi pilihan lain karena jaraknya yang hanya 15 menit dari Pulau Bunaken (bandingkan dengan jarak dari Pelabuhan Kali Mas yang bisa memakan waktu 1 jam). Hotel ini sempat menjadi pilihan Oranje Prins saat beliau menikmati keindahan Taman Laut Bunaken. Pemandangan dari arah hotel ini ke Gunung Manado Tua juga sangat memukau, ditambah barbeque di bawah pohon besar yang strategis di malam purnama. Pemandangan Manado Tua saat sunset dibalik lambaian daun kelapa (foto di samping ini) kita ambil di suatu sore yang cerah dari arah Santika.
Hotel lain yang bisa menjadi pilihan adalah Hotel Celebes. Berlokasi persis di samping Kali Mas, memudahkan memilih perahu yang sesuai dengan kebutuhan. Hotel ini tahun lalu direnovasi seiring dengan semakin tertatanya lingkungan di sekitarnya. Keuntungan lain menginap di sini adalah lokasi yang berada di jantung Kota Manado.
Beragam hotel lain bisa menjadi pilihan lain. Dari arah pusat kota, ada Hotel Ritzy, Hotel Kawanua, Hotel Quality, sampai Hotel Grand Puri.
Perjalanan bisa berlanjut ke beberapa Kabupaten/Kota yang mengelilingi Manado. Tertarik dengan hewan? Arahkan tujuan ke Tangkoko Batuangus, hutan lindung yang terletak di Kota Bitung. Hutan ini menyimpan Tarsius spectrum; primata terkecil di dunia yang sangat pemalu. Keindahan pantai yang ditutupi jejeran batu besar berwarna hitam (mungkin ini dasar penyebutan batuangus), bisa menjadi lokasi indah bagi penggemar fotografi.
Penggemar antropologi bisa menyelusuri Kabupaten Minahasa Utara ke arah Minahasa (Tondano), menikmati waruga, kuburan tradisional Minahasa. Sementara yang merindukan alam pegunungan bisa melanjutkan ke Kota Tomohon. Kabupaten Minahasa juga menyajikan keindahan lain. Danau Tondano bisa disusuri sambil menikmati lezatnya ikan bakar ala Minahasa. Tidak ketinggalan jagung muda dan telur yang direbus alami di sumber mata air panas Bukit Kasih, Kanonang.
Selamat berburu!
Sebagai awalnya bisa menikmati Manado di sini dan sini.
Friday, February 22, 2008
Manado dan kehidupannya (I)
Bagi seorang "kita" yang menjalani hidup di kampung kecil, membayangkan "Manado" seperti membayangkan suatu dunia yang lain. Dunia yang hanya bisa dikunjungi "mungkin" 4 kali dalam setahun. Dunia yang akhirnya menjadi tempat kita menghembuskan karbondioksida selama bertahun-tahun.
Manado (sebagian menyebutnya Menado, to tell the truth, I hate this pronunciation!). Kota kecil yang semakin bertumbuh karena kemampuannya menarik keingintahuan banyak orang.
Apa yang menarik di Manado?
Pertama: makanan! Makanan mungkin menjadi faktor utama yang selalu menarik bagi siapapun yang mengunjungi Manado. Makanan juga yang selalu menjadi fokus kerinduan setiap Kawanua dimanapun mereka terbang. Kelezatan crepes sepanjang Champs Elysees, pizza di samping Piazza del Popolo, steak sepanjang Volendam, tidak bisa menggantikan lezatnya tinutuan ala Ananas, ikan tude bakar samping Ritzy hotel, kepala ikan Sukur di samping mega mall, es kacang susu dan bakso campur ala Ramah, belum di tambah aneka sate dengan aneka daging sesuai permintaan yang dengan gampang kita temui. Rindu menikmati makanan di Manado? Berikut sedikit panduan.
Keluar dari kompleks Bandar Udara Sam Ratulangi, sekitar 5 menit arahkan pandangan ke kanan, ada rumah makan ikan air tawar yang menarik untuk dinikmati. Selain tempatnya yang di tata terapung, dengan gampangnya kita menikmati ikan air tawar goreng, woku, bakar beserta kangkung cah ataupun sayur pahit. Tidak jauh dari situ, di samping kiri ada rumah makan dengan tawaran yang sama. Lokasinya yang agak ke dalam menjadikan tempat ini strategis untuk "bersembunyi". Sebelum memasuki terminal Paal Dua, di samping kanan ada rumah makan spesial Chinese food (tetap ala Manado) dengan tawaran mie bakso yang menarik. Ingin menikmati makanan kecil? Setelah melewati jembatan, di sudut kanan ada rumah kopi yang menawarkan kue khas seperti panada, lalampa, kopi-kopi, balapis, juga rujak, gohu dan es kacang susu sebagai pelengkap. Tempat yang lebih nyaman? Cafe Ananas di seputaran Tikala bisa menjadi pilihan. Kue basah tradisional seperti lalampa, panada, balapis, pisang kukus, pisang goreng mendampingi penganan international seperti cake lapis, roti dengan berbagai variasi isi, cake coklat, dll. Tidak lupa tinutuan, mie cakalang (kuah dan goreng), bakso, bisa jadi pilihan lain. Tentu saja ditemani es campur ala Ananas, es kelapa muda, es kacang susu dan beberapa jus asli. Pilihan lain? Arahkan kendaraan anda ke Boulevard. Kompleks pertokoan yang terus bertumbuh ini, terus diikuti juga oleh pertumbuhan rumah makan yang siap bersaing. Jejeran rumah makan di belakang pusat pertokoan mengokohkan Manado sebagai pusat makan. Pilihan makanan tradisional, nasional sampai internasional bisa ditemukan di sini. Khusus untuk tradisional, rumah makan kepala ikan Sukur bisa jadi pilihan bagi yang berpantang daging, dan Mashosho bagi yang tidak berpantang. Menu tradisional yang terus bertambah (catatan: ada yang tahu sejak kapan babi tore menjadi menu tradisional?), bisa jadi merupakan pembuktian kemahiran "Tou M" dalam mengolah rasa.
Rindu makanan rumah? Kompleks Pasar 45 bisa jadi pilihan. Lorong kecil di samping jejeran fotokopi akan membawa kita pada jejeran rumah makan tradisional dengan hidangan sate, tude goreng, cakalang fufu goreng, babi kecap, acar, kangkung cah, dll. Bisa juga arahkan langkah ke kompleks Bahu Mall. Di belakang pusat pertokoan ada Defoma yang menawarkan cakalang fufu rabe saus rica, dan rica rodo. Yang benar-benar merindukan suasana makan di rumah, ada pilihan (yang ini karena kenalan, sekalian promosi) di samping Manado Post. Rumah makan kecil yang menyediakan teri saus rica, ikan garam saus rica, brenebon, rica rodo dengan suasana rumah.
Masih kurang? Di lorong samping hotel Quality Boulevard, ada rumah makan yang menyediakan soto rusuk babi. Hmm, yummy! Bagi yang rindu makanan laut bernilai tinggi, arahkan langkah anda di terapung Bahu mall. Di sini segala macam makanan laut bisa jadi pilihan dengan pengolahan Chinese food ala Manado. Tidak lupa pula sebuah restoran di samping Persekolahan Suster (Sam Rat) menawarkan gabungan hidangan laut dan darat.
Tidak akan cukup menuliskan pengalaman menelusuri rumah makan di Kota Manado. Catatan di atas mungkin tidak lebih dari 10 persen dari apa yang ada. Kita yang mungkin semakin lelah mengetikkan rangkaian huruf di laptop ini.
Bagi yang penasaran makanan Manado, silakan klik di sini atau sini juga bisa.
Manado (sebagian menyebutnya Menado, to tell the truth, I hate this pronunciation!). Kota kecil yang semakin bertumbuh karena kemampuannya menarik keingintahuan banyak orang.
Apa yang menarik di Manado?
Pertama: makanan! Makanan mungkin menjadi faktor utama yang selalu menarik bagi siapapun yang mengunjungi Manado. Makanan juga yang selalu menjadi fokus kerinduan setiap Kawanua dimanapun mereka terbang. Kelezatan crepes sepanjang Champs Elysees, pizza di samping Piazza del Popolo, steak sepanjang Volendam, tidak bisa menggantikan lezatnya tinutuan ala Ananas, ikan tude bakar samping Ritzy hotel, kepala ikan Sukur di samping mega mall, es kacang susu dan bakso campur ala Ramah, belum di tambah aneka sate dengan aneka daging sesuai permintaan yang dengan gampang kita temui. Rindu menikmati makanan di Manado? Berikut sedikit panduan.
Keluar dari kompleks Bandar Udara Sam Ratulangi, sekitar 5 menit arahkan pandangan ke kanan, ada rumah makan ikan air tawar yang menarik untuk dinikmati. Selain tempatnya yang di tata terapung, dengan gampangnya kita menikmati ikan air tawar goreng, woku, bakar beserta kangkung cah ataupun sayur pahit. Tidak jauh dari situ, di samping kiri ada rumah makan dengan tawaran yang sama. Lokasinya yang agak ke dalam menjadikan tempat ini strategis untuk "bersembunyi". Sebelum memasuki terminal Paal Dua, di samping kanan ada rumah makan spesial Chinese food (tetap ala Manado) dengan tawaran mie bakso yang menarik. Ingin menikmati makanan kecil? Setelah melewati jembatan, di sudut kanan ada rumah kopi yang menawarkan kue khas seperti panada, lalampa, kopi-kopi, balapis, juga rujak, gohu dan es kacang susu sebagai pelengkap. Tempat yang lebih nyaman? Cafe Ananas di seputaran Tikala bisa menjadi pilihan. Kue basah tradisional seperti lalampa, panada, balapis, pisang kukus, pisang goreng mendampingi penganan international seperti cake lapis, roti dengan berbagai variasi isi, cake coklat, dll. Tidak lupa tinutuan, mie cakalang (kuah dan goreng), bakso, bisa jadi pilihan lain. Tentu saja ditemani es campur ala Ananas, es kelapa muda, es kacang susu dan beberapa jus asli. Pilihan lain? Arahkan kendaraan anda ke Boulevard. Kompleks pertokoan yang terus bertumbuh ini, terus diikuti juga oleh pertumbuhan rumah makan yang siap bersaing. Jejeran rumah makan di belakang pusat pertokoan mengokohkan Manado sebagai pusat makan. Pilihan makanan tradisional, nasional sampai internasional bisa ditemukan di sini. Khusus untuk tradisional, rumah makan kepala ikan Sukur bisa jadi pilihan bagi yang berpantang daging, dan Mashosho bagi yang tidak berpantang. Menu tradisional yang terus bertambah (catatan: ada yang tahu sejak kapan babi tore menjadi menu tradisional?), bisa jadi merupakan pembuktian kemahiran "Tou M" dalam mengolah rasa.
Rindu makanan rumah? Kompleks Pasar 45 bisa jadi pilihan. Lorong kecil di samping jejeran fotokopi akan membawa kita pada jejeran rumah makan tradisional dengan hidangan sate, tude goreng, cakalang fufu goreng, babi kecap, acar, kangkung cah, dll. Bisa juga arahkan langkah ke kompleks Bahu Mall. Di belakang pusat pertokoan ada Defoma yang menawarkan cakalang fufu rabe saus rica, dan rica rodo. Yang benar-benar merindukan suasana makan di rumah, ada pilihan (yang ini karena kenalan, sekalian promosi) di samping Manado Post. Rumah makan kecil yang menyediakan teri saus rica, ikan garam saus rica, brenebon, rica rodo dengan suasana rumah.
Masih kurang? Di lorong samping hotel Quality Boulevard, ada rumah makan yang menyediakan soto rusuk babi. Hmm, yummy! Bagi yang rindu makanan laut bernilai tinggi, arahkan langkah anda di terapung Bahu mall. Di sini segala macam makanan laut bisa jadi pilihan dengan pengolahan Chinese food ala Manado. Tidak lupa pula sebuah restoran di samping Persekolahan Suster (Sam Rat) menawarkan gabungan hidangan laut dan darat.
Tidak akan cukup menuliskan pengalaman menelusuri rumah makan di Kota Manado. Catatan di atas mungkin tidak lebih dari 10 persen dari apa yang ada. Kita yang mungkin semakin lelah mengetikkan rangkaian huruf di laptop ini.
Bagi yang penasaran makanan Manado, silakan klik di sini atau sini juga bisa.
Subscribe to:
Comments (Atom)