Thursday, June 5, 2008

Mempromosikan Indonesia

2008 dipatok Indonesia sebagai tahun kunjungan wisata. Belasan tahun yang lalu hal ini juga sudah dilakukan. Kalo nggak salah, tahun ini lambangnya adalah burung merak (?) sedangkan belasan tahun lalu lambangnya badak bercula satu yang berpakaian Bali (?). He..he..., sori penuh tanda tanya soalnya lagi malas cek kebenarannya.
Membandingkan wisata Indonesia dengan negara lain akan sangat terasa bedanya. Ini kita rasakan saat bersama teman-teman "berpromosi" menurut cara kami, mahasiswa Indonesia di sini. Kami menyiapkan tari Saman dan Poco-poco untuk ditampilkan bersama-sama dengan beberapa lagu daerah dan lagu pop Indonesia. Dibanding poco-poco yang adalah tarian modern dengan dasar tari tradisional warga kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara, Tari Saman lebih terasa nuansa tradisionalnya. Yang cukup menggelikan adalah penampilan lagu tradisional. Dengan dasar lidah yang beragam, adalah susah bagi setiap dari kami mencocokkan lidah dengan cengkok Sunda (bagi orang Papua, Manado, Ambon dan NTT), ataupun cara mengucapkan lagu Alu siau (sampe-sampe kami harus memutar youtube untuk mengetahui cara pengucapan yang tepat beberapa kali, itupun pada akhirnya pengucapannya tidak setepat pengucapan si anak kecil di youtube yang Batak asli :D).
Kami memang bukan penggiat seni, bukan penari, dan bukan pula pegawai dinas pariwisata. Tapi ada banyak hal yang bisa kami lakukan tanpa harus membobol uang negara dengan alasan "promosi wisata". Malahan dengan promosi itu juga, kami bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan (bisa lebih dari 100% jika dikelola dengan benar) dari hasil menjual makanan khas Indonesia yang bahannya dengan mudah kami dapatkan di sini.
Satu hari sebelum penampilan kami dalam Festival Belmundo di Wageningen, kami sempat berkeliling di Pasar Malam Indonesia di Den Haag. Di sana dengan gampangnya kami akan bertemu dengan segala jenis masakan Indonesia dari segala pulau. Tidak jarang ada daerah yang khusus mengirimkan timnya untuk bisa tampil di Pasar Malam. Apa yang salah? Dunia yang semakin dekat jaraknya setelah perkembangan internet yang cepat, menciptakan promosi yang sangat cepat dengan biaya yang sangat murah. Pasar Malam hanyalah sarana kecil untuk promosi dan tidak lebih dari moment nostalgia para Indonesianis yang tinggal di negeri ini, yang begitu banyaknya jika dihitung dengan keturunan mereka. Suasana Pasar Malam yang "Indonesia abis" terasa jauh dari kesan promosi seperti yang didengang dengungkan.
Kembali ke Belmundo, ada kebanggaan tersendiri saat kita melihat antrian beberapa anak kecil bersama orang tua mereka yang menunggu pisang kukus yang sementara kita kukus. Mereka dan orang tua mereka belum sekalipun menginjakkan kaki di Indonesia, tapi perhatian mereka saat melihat kita mengaduk adonan pisang, tepung beras, tepung terigu dan santan diikuti dengan aroma harumnya pandan, menggoda mereka untuk tetap setia menanti sampai proses mengukus selesai. Sayangnya kita terlalu sibuk bercerita dengan mereka sampai tidak sempat mengabadikan moment indah ini. Apalagi melihat senyum ceria saat kita membagikan daun pisang sebagai alas untuk pisang kukus, diikuti dengan potongan-potongan pisang kukus yang berpindah tangan.
Dari merekalah mungkin cerita tentang Indonesia lebih akan bermakna, bukan sekarang, tapi di suatu saat nanti, saat membayangkan kelezatan pisang kukus (he..he.., ada yang sampe antri 2 kali putaran kukusan; catatan: kita mengukus sampai 3 kali karena kapasitas kukusan yang kecil) dan menatap gantungan kunci berbentuk pisang yang teman kita bagikan.

No comments: