Saturday, December 15, 2007

Christmas in Manado




Membayangkan Ibukota Propinsi Sulawesi Utara ini semakin terasa menyesak apalagi di Desember ini. Masih teringat Desember tahun lalu, ketika kita berlomba-lomba dengan sang waktu menikmati Desember di sana. Gema Natal yang telah dimulai sejak tanggal 1 Desember terasa begitu cepat berlalu. Desember sebelumnya juga begitu padat dengan usaha membantu memperindah Pohon Natal di Lapangan Tikala, sampai bersama seorang teman, kita pun memanjat sang pohon yang terbuat dari besi untuk menggantung hiasan Natal yang telah disiapkan. Pengalaman yang cukup mendebarkan karena kita hanya bermodal nekad dan sedikit kecakapan memanjat pohon di masa kecil, jauh di tahun-tahun lampau.
Desember ini, walaupun kesibukan itu tidak lagi kita nikmati, dengan antusiasnya kita menikmati cerita dari teman. Termasuk rencana-rencana dan keindahan yang disiapkan untuk Natal tahun ini. Dengan bangganya juga seorang teman bela-belain mengirimkan foto terbaru karya mereka, sebuah Pohon Natal yang disiapkan di tengah Taman Kesatuan Bangsa yang sedang berbenah. Kita hanya bisa terpaku menatap pohon ini, sambil membayangkan meriahnya acara yang akan digelar di sana yang tidak bisa kita ikuti. Thanks to Ferry buat kiriman fotonya.

Blue Christmas in Paris






Pertama menginjakkan kaki di Paris, teman yang menjemput dengan semangatnya langsung berjanji akan membawa kita untuk menginjakkan kaki di Paris zero point. Katanya kalo menginjakkan kaki di zero point, kita pasti kembali lagi ke Paris. Sesuatu yang kita tertawakan karena mimpi aja nggak akan berani, untuk menginjakkan kaki ke Paris kedua kalinya. Selain itu dibesarkan dengan penuh logika, susah bagi seorang kita untuk percaya yang menurut kita tidak masuk logika. Makanya waktu diantar ke Notre Dame, kita dengan cueknya melewatkan titik nol itu sambil menertawakan orang yang bergantian berdiri dan di foto di atas titik itu. Ketiga kalinya ke Notre Dame, teman itu dengan memaksa menyuruh kita berdiri dan difoto di zero point. Dengan masih tertawa, berdirilah kita di atas titik itu, untuk menghormati pendapat sang teman. Saat mengantarkan kita ke bandara, sang teman juga dengan optimisnya berujar bahwa kami akan bertemu lagi di Paris karena kita sudah menginjakkan kaki di zero point.
Hanya berselang 6 bulan kemudian, kita kembali merasakan ramainya berjejer di jalur metro bawah tanah Paris. Kenikmatan crepes yang selalu membayang kembali lagi kita rasakan. Menelusuri Champs Elysees di malam yang dingin menggigit hanya untuk menyaksikan kelap kelip lampu yang khusus dipasang menyambut Natal. Satu jam yang kita janjikan kepada seseorang ternyata molor menjadi lebih dari 6 jam karena tangan yang begitu gatalnya mengabadikan moment indah ini. Hasilnya adalah komplain berkepanjangan ketika kita mengetuk pintu kamar saat jarum pendek berada di antara angka 11 dan 12. Hehehehe, Paris menjelang Natal terlalu indah utk dilewatkan berkutat dengan persiapan ujian seseorang. Lagian ujian kok milih dekat Natal; dengan tingkat stres yg tinggi ditambah membayangkan harus back to Manado around that special day; bisa2x kehabisan tiket. Untuk alasan menemani ini kita tidak sempat ke Notre Dame untuk sekali lagi menginjakkan kaki di zero point itu. Paris, keindahannya di Desember ini semakin menobatkan kota ini sebagai the best tourism city in the world.