Saturday, April 12, 2008

Adaptasi

Beberapa hari yang lalu, dalam rangka memenuhi persyaratan kursus yang kita ikuti, kita menampilkan presentasi tentang Adaptasi.

Menurut Darwin, adaptasi adalah proses yang dilakukan makhluk hidup untuk bisa survive. Tapi bukan adaptasi itu yang kita maksudkan.

Dalam presentasi kita menampilkan bagaimana sekelompok manusia Indonesia beradaptasi di sebuah desa kecil bernama Wageningen, tanpa kehilangan ke-Indonesian-nya. Presentasi yang harusnya cuma berlangsung 20 menit, berkembang menjadi lebih dari 45 menit dengan pertanyaan yang beragam. Teman-teman, termasuk instruktur, yang belum pernah mengunjungi Indonesia begitu antusias bertanya tentang segala hal. Keindahan kehidupan di bawah Laut Bunaken dan Raja Ampat; pakaian adat yang beragam serta keindahan abu Merapi yang kita curi (he..he..he...) gambarnya dari internet, mampu menghipnotis mereka.
Tetapi diskusi yang paling seru adalah tentang makanan, sebagai faktor terpenting manusia Indonesia beradaptasi. Dalam presentasi, kita menampilkan foto "bakar sate" di Haarweg 203. Pertanyaan tentang makanan Indonesia pun bermunculan, terutama kepenasaran instruktur kita (kayaknya doi warganegara Inggris, but I'm not sure) tentang "babi panggang" dan "nasi goreng", makanan kegemarannya yang selama ini dia anggap "made in Chinese". Dengan bangganya kita pun menerangkan cara mengucapkan babi panggang dan nasi goreng, serta menerangkan bahan-bahannya untuk menegaskan (setegas-tegasnya): wong dari cara nyebutinnya aja udah Indonesia banget, gitu lho!
Seorang teman Spanyol yang melihat foto kursus poco-poco yang kami lakukan dalam rangka Indonesian night, dengan antusiasnya bertanya. Dia sudah pernah mendengar dan melihat poco-poco tapi tidak tahu kalo "senam" itu berasal dari Indonesia. Tidak kita sangka "poco-poco" sudah seterkenal itu, sehingga dengan pd-nya (maklum anggota pdWageningen) kita pun menampilkan dan menjelaskan dasar senam ini, padahal kita pun baru belajar poco-poco di Wageningen ini dari seorang teman asal Papua (many thx to Cathy)!
Rasa ke-Indonesiaan memang makin tinggi manakala kita jauh dari Indonesia. Rasa yang sama yang kita rasakan saat melihat seorang teman dari negara tetangga (yang paling sering "mengakui" milik Indonesia), terdiam. Indonesia punya banyak hal, kawan! Indonesia bukan hanya punya kebudayaan Melayu, nina bobo, burung kakak tua. Indonesia punya kami, dengan segala keragamannya!