Saturday, November 14, 2015

Pray For Paris ..... and the world will live as one

Menginjakkan kaki di zero point Paris yang ada di depan Basilika Notre Dame bagi seorang kita bukanlah penggenapan sebuah mimpi masa lalu. Alasannya? Simple: karena kita tidak pernah bermimpi menginjakkan kaki di kota pusat mode dunia itu. Walaupun sudah mengenal Paris dari cerita Om dan Tante yang pernah menghabiskan waktu di sana selama beberapa tahun, bagi kita Paris adalah sesuatu yang sulit digapai sehingga bermimpi pun tidak. Paris adalah wangi parfum yang dengan curi-curi kita pakai dari lemari pakaian Mama (ole2x-nya Tante), tanpa sekalipun terpikir kalau dari harumnya akan ketahuan *_^. Paris adalah foto gaun indah yang dipajang Majalah Femina di paruh terakhir tahun berjalan sebagai inspirasi tahun mendatang, yang coba kita tiru dari potongan-potongan pola yang sesekali disisipkan di majalah tersebut, sambil membayangkan diri seindah modelnya.  Dan Paris adalah Menara Eiffel yang menjulang tinggi penuh keindahan, yang kita tatap di halaman-halaman Bobo, Kawanku dan bahkan Hai, ketika wartawan majalah-majalah tersebut menceritakan perjalanan mereka.
Maka tahun 2007 menjadi tahun penuh keindahan ketika Air France Perancis membawa kaki kita melangkah turun di Charles de Gaulle. Paris ternyata bukan sekedar harumnya sebotol kecil chanel yang tersimpan di memori masa kecil. Paris bukan sekedar keindahan gaun-gaun haute couture yang tidak berhasil kita tiru dengan butterfly tua punya Mama. Dan Paris bukan sekedar keindahan menatap Menara Eiffel dari Trocadero sambil menggigit crepes isi pisang coklat, yang meminjam istilah Gracia, "tak tergantikan".  Paris adalah seribu keharuman yang kita hirup di sepanjang Champs- Elysees yang meruap dari toko-toko parfum dan siluet laki-laki perempuan yang keluar masuk dari pintu-pintu toko fashion dunia. Paris adalah siluet keindahan ready to wear yang dipakai perempuan-perempuan bertubuh langsing (katanya, rahasia mereka ada di super black chocolate yang rutin dikonsumsi setiap selesai makan) yang dengan langkah lincah di atas high heels berselewiran di jam sibuk menyusup di antara ketatnya jam metro bawah tanah. Paris adalah puncak Notre Dame dan Sacre Coeur yang menyimpan sejuta keindahan didalamnya, bersama lantunan doa yang selalu terucap dari bibir-bibir para pengembara dan cahaya lilin yang mereka pasang untuk orang-orang yang mereka kasihi.
Perjalanan itu juga menyadarkan kita, bahwa Paris adalah mimpi yang dirajut sebagian orang yang tinggal dan hidup di sana. Mereka adalah sekumpulan pedagang berkulit hitam, yang menjajakan dagangan mereka sambil kucing-kucingan dengan petugas Polisi.  Beberapa dari mereka (menurut suatu tayangan behind the story  suatu saluran televisi NL) adalah pemuda-pemuda Afrika yang memimpikan berlaga di kerasnya liga di hampir seluruh negara Eropa.  Mimpi menjadi Roger Milla, Kanu, Abedi Pele, Eto'o bahkan Toure, menghempaskan mereka di gemuruh Kota Paris, mencoba bertahan dengan apapun yang tersisa.
Mereka ada di wajah-wajah "kaum terpinggirkan" (meminjam istilah mereka sendiri, merujuk pada LGBT*) dari Indonesia, yang menjadi penjaga beberapa toko khusus Indonesia di belakang Champs-Elysees.  Mereka yang dengan ramahnya menawarkan tas, dompet, parfume dan segala yang ber-branded "Paris" pada sekumpulan orang Indonesia yang setia berkunjung ke Paris. Ketika kita bertanya kenapa mereka ada, jawabannya cukup mengagetkan: karena toko-toko itu membutuhkan penjaga yang bisa merayu dan berbicara Bahasa Indonesia untuk menjaring orang "kaya" Indonesia yang setiap tahunnya beberapa kali mengunjungi Paris cuman untuk berbelanja. Saat ini tiap kali melihat tayangan artis tidak top Indonesia yang mengkoleksi hermes lengkap, selengkap-lengkapnya, bayangan wajah-wajah penjaga-penjaga toko itu pun kembali terbayang.
Mereka ada di wajah-wajah kaum yang disebut gipsi, yang mungkin sejak ribuan tahun lalu menjadi pengelana tanpa tempat tinggal.  "do you speak English?" biasanya adalah kata sakti yang mereka tanyakan sebelum meminta bantuan uang ke anda. Sebagian dari mereka menjual kemampuan meramalnya di lorong-lorong penghubung metro bawah tanah, tetapi sebagian dari mereka memanfaatkan kelihaian tangannya untuk mengambil apapun yang bisa diambil dari orang lain, di tengah keramaian metro Paris di jam-jam sibuk.
Mereka ada di wajah-wajah para pelukis di sepanjang Place du Tertre, yang berkumpul di depan museum seni Salvador Dali sambil memimpikan menggantikan maestro asal Spanyol itu, menawarkan melukis wajah anda. Atau sekedar mencoba meniru karya seorang Vincent van Gogh yang pernah menggambarkan Paris dengan begitu indahnya di 2 tahun hidupnya di kota ini. Untuk "Dali wanna be" ini, ingatan kita langsung ke sepanjang Jalan Asemka dan sepanjang jalan Melawai, Jakarta yang dipenuhi pelukis potretdengan harga yang jauh berbeda dibanding sudut Place du Tertre ini. 
Mereka ada di wajah-wajah penjual souvenir di hampir setiap sudut Kota Paris. Jalanan menuju Sacre Couer dipenuhi wajah mereka, menawarkan keindahan Paris pada segala bentuk souvenir yang anda ingin bagikan sebagai bukti anda pernah menginjakkan kaki di pusat mode dunia ini.  Sebagian besar mereka adalah para pencari kebebasan dari negara-negara yang (lagi-lagi, menurut mereka) tidak sebebas Eropa.  Mereka gampang dikenali dari logat Perancis yang sama sekali tidak terdengar dengusan hidungnya, ketidakpahaman akan bahasa Inggris, dan kelihaian berbicara dalam bahasa mereka ketika berkomunikasi dengan sesamanya.

Dan hari ini, bersama jutaan umat dunia, kita pun mencoba menundukkan kepala. Pray for Paris. Kata-kata di wall yang di forward seorang teman facebook; "we were all humans until, race disconnected us, religion separated us, politics divided us, and wealth classified us"; seakan melengkapi lantunan suara Jon Bon Jovi dan Richie Sambora yang meng"cover version" lagu legendaris John Lennon, yang kita putar hari ini :

Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today...

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one .....

Dan apapun itu, kita akan selalu memimpikan Paris. Memimpikan menembus Paris di suatu subuh dari atas Eurolines, sambil harap-harap cemas, semoga kursi di samping kita tetap kosong sampai tiba di terminal akhir. Memimpikan menyusuri lorong-lorong penghubung metro bawah tanah yang begitu ramai dengan pencinta seni yang mengais euro dengan gayanya masing-masing.  Memimpikan menikmati Blue Christmas di sepanjang Arch de Triomphe sambil merapatkan syal yang melindungi dada di tengah dinginnya Desember di suatu malam yang hampir lelap. Memimpikan menikmati Choucroute garnie, di belakang Sacre Coeur yang hanya dijual di musim dingin (ha3x, bayangkan betapa kami ditertawakanpenjaga restoran ketika meminta makanan ini disuatu summer), yang mengingatkan kita pada brenebon kaki babi. Memimpikan menatap Eiffel yang berkedap-kedip di jam 11 malam sambil menggigit crepes yang masih hangat. Dan yang pasti, memimpikan menemukan lagi armani bag seharga 10% dari harga aslinya di suatu toko di sudut Val d'Europe,menggantikan tas yang sama yang sudah lebih dari 7 tahun menemani hari-hari kita.

 Catatan:
*LGBT merujuk pada Lesbian,  Gay, Biseksual dan Transgender
Foto-foto dapat di klik di sini :
Paris in December
dan di sini :Sacre Coeur

Saturday, November 7, 2015

sometimes, love just aint enough .....

Now, I don't want to lose you
But I don't want to use you
Just to have somebody by my side.
And I don't want to hate you,
I don't want to take you
But I don't want to be the one to cry.

And that don't really matter to anyone anymore.
But like a fool I keep losing my place
And I keep seeing you walk through that door.

(Chorus)

But there's a danger in loving somebody too much,
And it's sad when you know it's your heart you can't trust.
There's a reason why people don't stay where they are.
Baby, sometimes, love just aint enough.

Now, I could never change you
I don't want to blame you.
Baby, you don't have to take the fall.
Yes, I may have hurt you, but I did not desert you.
Maybe I just want to have it all.

It makes a sound like thunder
It makes me feel like rain.
And like a fool who will never see the truth,
I keep thinking something's gonna change.

(Chorus)

And there's no way home
When it's late at night and you're all alone.
Are there things that you wanted to say?
And do you feel me beside you in your bed,
There beside you, where I used to lay?

And there's a danger in loving somebody too much,
And it's sad when you know it's your heart they can't touch.
There's a reason why people don't stay who they are.
Baby, sometimes, love just ain't enough.

Baby, sometimes, love... it just ain't enough.
Oh, Oh, Oh, No

Thursday, November 5, 2015

kopi dan kita

Kopi lagi? Ha3x ..... after more than 4 years blog ini hibernasi, today i try to menuh2xin blog yg sudah sangat jarang disentuh ini, dengan bahasan yg pernah dibahas lebih dari 6 thn yg lalu. Mengapa kopi? Pertama karena ini adalah kali yg pertama sejak puluhan tahun kehidupan kita mampu bertahan selama lebih dari 1 minggu untuk tidak menikmati minuman yang (according to me) terhikmat sejagad raya. Jika ditanya sejak kapan minum kopi, jawabannya adalah tidak ingat lagi. Ingatan tentang masa kecil kita adalah bangun pagi, sudah ditunggu oleh kopi dalam teko, yang disudah Papa kita sesaat setelah mendengar kami bangun. Jadi menikmatinya pun di saat uapnya masih mengepul menari-nari membelah suhu dingin pagi hari.
Alasan yang kedua, kemarin tiba2x dapat messenger seorang teman fb yg meminta izin menggunakan tulisan kita tentang kopi di tahun 2009, ketika oksigen yang diri kita sedot berasal dari hutan lindung di seputaran kampung kecil Wageningen. Ngak tahu kenapa, di saat merindukan keindahan suasana autumn yg dipajang di halaman2x "buku muka" teman2x yg hidup di negara temperate, tiba2x ketemu tulisan tersebut dan dengan keisengan seorang kita, diposting lah di fb kita. Katanya tulisan tsb jiwanya cocok dengan artikel yg mo ditampilin media dia (kebenarannya hanya dia dan Tuhan yang tahu), but aniway, gara2x itu jadi pengen nulis (lagi) tentang kopi.
Berbicara kopi serasa mengenang kembali masa-masa ketika minuman itu menjadi satu-satunya teman bergelut di suatu ruang sempit di sudut Forum building ataupun dalam kesenyapan di kamar 203 33 Haarweg. Kenapa forum? Berbeda dengan gedung2x kuliah di Universitas di Indonesia, gedung kuliah di sana dirancang begitu bersahabat, punya sudut-sudut ruangan kecil yang bisa dipakai siapa saja sepanjang berhubungan dengan kuliah. Jangan berharap bisa nonton atau download film Korea di ruangan ini; yang pasti tatapan dari luar (ruangan full kaca) akan mematikan kenikmatan nonton anda. Menariknya hampir di setiap sudut ditempatkan mesin pembuat kopi yang bisa di akses dengan kartu belanja or kartu kredit. Awalnya menggunakan mesin ini, dengan gampangnya menekan coffe lattee sesuai tingkat kesukaan yang harganya (waktu itu) 50 cent. Tetapi seorang teman koridor menyarankan untuk membawa gelas dan kopi sendiri sehingga yg dibutuhkan hanyalah air panas, harganya? 10 cent! Ha3x ..... tipikal Dutch! Yang lebih heboh lagi diajarin seorang teman Afrika untuk mengambil sisa2x kopi sachet, gula, krim sampai biskuit yang biasanya dibiarkan ketika ada meeting di ruangan tertentu. Seorang teman Indonesia rajin mengikuti saran ini, dengan alasan barang2x itu kan nggak ada yg ambil lagi. ^_*
Bagi penikmat kopi, hidup di negara yang begitu men"dewa"kan kopi, menjadi kenikmatan tersendiri. Pengen kopi gratis? Silakan saja pura2x belanja di albert heijn, salah satu sudutnya punya mesin kopi kecil yang bisa dinikmati siapa saja, sepanjang anda berada di dalam toko. Mau yang sedikit bergengsi? Langkahkan kaki ke centrum, deretan kafe yang menawarkan berjenis2x kopi yang dengan mudahnya bisa dinikmati. Yang tidak terlupakan adalah nongkrong berdua di sudut hema, menikmati coffee latte aroma tiramisu dengan sepotong croissant, pie or cup cake.
Ahhhh .... memori tentang masa2x itu kembali membayang. Masa2x yang ikut mempertebal rasa percaya diri untuk terus menikmati kopi, sesuatu yang pernah kita janjikan ke diri sendiri untuk mulai dikurangi dan berharap untuk berhenti sama sekali.
Kopi dan Belanda mungkin menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan. Berdasar pengala an dengan teman se koridor yang begitu mengagungkan kopi Sumatera, sejak itu setiap buah tangan (aka ole2x) untuk kenalan Dutch, selalu kopi yang terpikirkan. Emma, teman sekoridor itu, begitu terpukaunya ketika di akhir kebersamaan kami, akhirnya kita dapat memperkenalkan kopi Sulawesi dan Bali. Seorang Bapak dengan senangnya menerima  sekantong kopi luwak yang kita titip beli di satu toko di sudut MKG. Yang paling parah adalah pengalaman dengan Paul, seorang mahasiswa tingkat akhir dr Delft yang magang beberapa bulan di Manado. Setelah kita perkenalkan dengan kopi di rumah2x kopi tradisional yang banyak di Manado, doi begitu mengagungkan cara masaknya, sampai2x hampir setiap sore nongkrong di rumah kopi menikmati sejumput kopi hitam. Beberapa hari setelah kepulangannya, tiba2x sebuah foto muncul di wall fb kita, di tag Paul. Dengan bangganya dia menunjukkan cara seduh kopi yang kita hadiahkan (dibeli khusus di rumH kopi, hasil produksi si tante penjual dari kopi terbaik Sulawesi), lengkap dengan kain yang dia gunakan (nggak mau koment kain apa) untuk menyaring si kopi.
Masih banyak yang bisa diceritakan dari secangkir kopi, apalagi kopi asli Indonesia denga  penyajian Indonesia. Seperti si Paul yang lebih memilih nongkrong di kedai kopi seharga 6 ribu rupiah di sudut mega mass daripada menyeruput secangkir espresso senilai lebih dari 35 ribu, ataupun Emma yang begitu mengagungkan kopi Aceh; kasus kopi Oei mungkin jadi pembanding. Kedai kopi yang dibangun dengan nafas tradisional oleh ahli kuliner Indonesia, toch akhirnya tidak mampu bersaing dengan kedai kopi Billy yang bersama2x dengan kopi Tikala telah berpuluh tahun merajai dunia perkopian Kota Manado, untuk tidakmenyebut kopi Kawangkoan yang menjadi tempat persinggahan wajib pencinta kopi ketika berada di Minahasa. Akankah kita membiarkan kasus kopi Luwak kembali terulang? Kopi termahal dunia itu saat ini lisensinya dipegang orang asing, sekalipun produksinya masih dilakukan di Indonesia. Berdasar lisensi tersebut, pemiliknya kemudian membuka lokasi produksi di Thailand, dengan alasan efisiensi. What should we do?