Kopi lagi? Ha3x ..... after more than 4 years blog ini hibernasi, today i try to menuh2xin blog yg sudah sangat jarang disentuh ini, dengan bahasan yg pernah dibahas lebih dari 6 thn yg lalu. Mengapa kopi? Pertama karena ini adalah kali yg pertama sejak puluhan tahun kehidupan kita mampu bertahan selama lebih dari 1 minggu untuk tidak menikmati minuman yang (according to me) terhikmat sejagad raya. Jika ditanya sejak kapan minum kopi, jawabannya adalah tidak ingat lagi. Ingatan tentang masa kecil kita adalah bangun pagi, sudah ditunggu oleh kopi dalam teko, yang disudah Papa kita sesaat setelah mendengar kami bangun. Jadi menikmatinya pun di saat uapnya masih mengepul menari-nari membelah suhu dingin pagi hari.
Alasan yang kedua, kemarin tiba2x dapat messenger seorang teman fb yg meminta izin menggunakan tulisan kita tentang kopi di tahun 2009, ketika oksigen yang diri kita sedot berasal dari hutan lindung di seputaran kampung kecil Wageningen. Ngak tahu kenapa, di saat merindukan keindahan suasana autumn yg dipajang di halaman2x "buku muka" teman2x yg hidup di negara temperate, tiba2x ketemu tulisan tersebut dan dengan keisengan seorang kita, diposting lah di fb kita. Katanya tulisan tsb jiwanya cocok dengan artikel yg mo ditampilin media dia (kebenarannya hanya dia dan Tuhan yang tahu), but aniway, gara2x itu jadi pengen nulis (lagi) tentang kopi.
Berbicara kopi serasa mengenang kembali masa-masa ketika minuman itu menjadi satu-satunya teman bergelut di suatu ruang sempit di sudut Forum building ataupun dalam kesenyapan di kamar 203 33 Haarweg. Kenapa forum? Berbeda dengan gedung2x kuliah di Universitas di Indonesia, gedung kuliah di sana dirancang begitu bersahabat, punya sudut-sudut ruangan kecil yang bisa dipakai siapa saja sepanjang berhubungan dengan kuliah. Jangan berharap bisa nonton atau download film Korea di ruangan ini; yang pasti tatapan dari luar (ruangan full kaca) akan mematikan kenikmatan nonton anda. Menariknya hampir di setiap sudut ditempatkan mesin pembuat kopi yang bisa di akses dengan kartu belanja or kartu kredit. Awalnya menggunakan mesin ini, dengan gampangnya menekan coffe lattee sesuai tingkat kesukaan yang harganya (waktu itu) 50 cent. Tetapi seorang teman koridor menyarankan untuk membawa gelas dan kopi sendiri sehingga yg dibutuhkan hanyalah air panas, harganya? 10 cent! Ha3x ..... tipikal Dutch! Yang lebih heboh lagi diajarin seorang teman Afrika untuk mengambil sisa2x kopi sachet, gula, krim sampai biskuit yang biasanya dibiarkan ketika ada meeting di ruangan tertentu. Seorang teman Indonesia rajin mengikuti saran ini, dengan alasan barang2x itu kan nggak ada yg ambil lagi. ^_*
Bagi penikmat kopi, hidup di negara yang begitu men"dewa"kan kopi, menjadi kenikmatan tersendiri. Pengen kopi gratis? Silakan saja pura2x belanja di albert heijn, salah satu sudutnya punya mesin kopi kecil yang bisa dinikmati siapa saja, sepanjang anda berada di dalam toko. Mau yang sedikit bergengsi? Langkahkan kaki ke centrum, deretan kafe yang menawarkan berjenis2x kopi yang dengan mudahnya bisa dinikmati. Yang tidak terlupakan adalah nongkrong berdua di sudut hema, menikmati coffee latte aroma tiramisu dengan sepotong croissant, pie or cup cake.
Ahhhh .... memori tentang masa2x itu kembali membayang. Masa2x yang ikut mempertebal rasa percaya diri untuk terus menikmati kopi, sesuatu yang pernah kita janjikan ke diri sendiri untuk mulai dikurangi dan berharap untuk berhenti sama sekali.
Kopi dan Belanda mungkin menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan. Berdasar pengala an dengan teman se koridor yang begitu mengagungkan kopi Sumatera, sejak itu setiap buah tangan (aka ole2x) untuk kenalan Dutch, selalu kopi yang terpikirkan. Emma, teman sekoridor itu, begitu terpukaunya ketika di akhir kebersamaan kami, akhirnya kita dapat memperkenalkan kopi Sulawesi dan Bali. Seorang Bapak dengan senangnya menerima sekantong kopi luwak yang kita titip beli di satu toko di sudut MKG. Yang paling parah adalah pengalaman dengan Paul, seorang mahasiswa tingkat akhir dr Delft yang magang beberapa bulan di Manado. Setelah kita perkenalkan dengan kopi di rumah2x kopi tradisional yang banyak di Manado, doi begitu mengagungkan cara masaknya, sampai2x hampir setiap sore nongkrong di rumah kopi menikmati sejumput kopi hitam. Beberapa hari setelah kepulangannya, tiba2x sebuah foto muncul di wall fb kita, di tag Paul. Dengan bangganya dia menunjukkan cara seduh kopi yang kita hadiahkan (dibeli khusus di rumH kopi, hasil produksi si tante penjual dari kopi terbaik Sulawesi), lengkap dengan kain yang dia gunakan (nggak mau koment kain apa) untuk menyaring si kopi.
Masih banyak yang bisa diceritakan dari secangkir kopi, apalagi kopi asli Indonesia denga penyajian Indonesia. Seperti si Paul yang lebih memilih nongkrong di kedai kopi seharga 6 ribu rupiah di sudut mega mass daripada menyeruput secangkir espresso senilai lebih dari 35 ribu, ataupun Emma yang begitu mengagungkan kopi Aceh; kasus kopi Oei mungkin jadi pembanding. Kedai kopi yang dibangun dengan nafas tradisional oleh ahli kuliner Indonesia, toch akhirnya tidak mampu bersaing dengan kedai kopi Billy yang bersama2x dengan kopi Tikala telah berpuluh tahun merajai dunia perkopian Kota Manado, untuk tidakmenyebut kopi Kawangkoan yang menjadi tempat persinggahan wajib pencinta kopi ketika berada di Minahasa. Akankah kita membiarkan kasus kopi Luwak kembali terulang? Kopi termahal dunia itu saat ini lisensinya dipegang orang asing, sekalipun produksinya masih dilakukan di Indonesia. Berdasar lisensi tersebut, pemiliknya kemudian membuka lokasi produksi di Thailand, dengan alasan efisiensi. What should we do?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment