Monday, May 26, 2008

Amsterdam Red Light

Hari ini tepat setahun lalu, kita pertama kalinya menginjakkan kaki di negara yang pernah berkuasa atas negara kita selama lebih dari 350 tahun. Bukan untuk bernostalgia, tetapi 2 hari yang lalu kita menyempatkan diri menuju Amsterdam untuk bertemu dengan beberapa kenalan.
Tulisan ini sebenarnya bukan tentang Red Light itu sendiri, karena bercerita tentang Red Light (seperti posting kita sebelumnya), produksi kertas hutan Indonesia tidak akan cukup untuk menuliskannya jika dinding2x Oude Kerk punya telinga. Tulisan ini lebih pada perenungan kita akan orang-orang yang menyebut dirinya mewakili kita dan dengan lantangnya selalu berbicara mengatasnamakan kita.
Kita bertemu dengan beberapa dari mereka di Amsterdam. Tanpa menggeneralisasi, perasaan tidak suka tiba-tiba muncul saat tanpa sengaja kita menangkap beberapa kata-kata mereka. Diawali dengan pertaruhan antara mereka mempermasalahkan Ibukota Belanda (inilah salah satu bukti bahwa untuk menjadi "yang terhormat" tidak butuh kemampuan akademik, pelajaran sejarah SMP pun sudah membahas ini) dan dilanjutkan dengan bentuk teguran bernada ancaman kepada salah seorang wakil pemerintah karena ketidaksanggupan menyiapkan angkutan untuk dirinya "yang terhormat". Kita cuma manusia biasa yang hanya terdiam melihat si Ibu yang juga terdiam. Seorang Ibu yang sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil! Suatu ironi di tengah negara yang baru saja memperingati 10 tahun reformasi.
Inikah buah reformasi itu? Ketika pengabdian pada negara hanya dinilai dari kemampuan melayani sang "wakil rakyat"?
Terus terang kali itu adalah kali kedua kita berhadapan dengan "wakil kita". Sekitar 2 tahun yang lalu kita juga berhadapan dengan orang-orang seperti ini tapi bukan orang yang sama. Banyak cerita yang tidak bisa dituliskan lagi dengan kata-kata, karena hanya akan membangkitkan emosi kita. Dan hidup di negara ini selama 8 bulan semakin melengkapi pengalaman kita.
Tanyakan pada para Kawanua di seluruh Eropa tentang kisah "studi banding" ataupun apalah istilahnya. Akan banyak cerita lucu yang muncul. Belum lagi diperluas sampai wakil yang di Jakarta. Seorang teman di Paris punya cerita lucu. Dalam suatu pertemuan resmi dengan warga Indonesia di Paris, para peserta bertanya-tanya tenang ketidakhadiran seorang ketua komisi. Setelah dicek, sang "yang terhormat" itu tidak bisa hadir karena harus mendamaikan 2 isterinya yang bertengkar hebat di kamar hotel. Mungkinkah karena jumlah belanjaan yang tidak sama rata? Tanyakan pada sang anggota dewan itu yang dulunya terkenal sebagai aktivis pembela rakyat.
Kenapa kita memfokuskan diri pada mereka dan bukan pada pemerintah itu sendiri? Sekali lagi tanpa menggeneralisasi, kita beberapa kali juga berjalan dengan yang namanya orang pemerintah. Maafkan kita kalo sampai hari ini kita belum bertemu dengan tipe yang setara ke-aku-annya. Dengan enjoynya, orang-orang pemerintah yang pernah berjalan dengan kita menikmati naik turun metro, bus, makan roti seharga tidak lebih dari 1 euro yang kita tawarkan, dan masih juga menawarkan membawakan tas kita.
Lorong-lorong kecil sepanjang Amsterdam Red Light mungkin akan bisa lebih memperkaya cerita tentang para wakil rakyat itu. Larangan berfoto di kompleks ini hanya bisa menghasilkan beberapa lembar di depan kompleks ini dan bukan di lorong-lorong sempitnya.