Melalui hari-hari di belahan bumi bermusim 4 ini sering melahirkan kekangenan akan banyak hal. Ketidakteraturan di jalanan, macetnya jalan Sudirman, aksi copet di atas bus, antrian busway di Harmoni, teriakan kenek di beos, lezatnya bakmi goreng di gang kelinci, dan terutama panasnya matahari yang membakar kulit.
(ps: Untuk yang terakhir, kita sempat menikmati kekaguman orang untuk kulit kita yang semakin kehilangan warna dibungkus lapisan jaket selama berbulan-bulan).
Lanjut......
Beberapa hari ini membandingkan di sana dan di sini menjadi topik yang seru. Di sebuah forum diskusi, terjadi semacam balas membalas (kalaupun tidak bisa disebut perdebatan) antara di sana dan di sini. Diskusi yang sama yang senantiasa kita dan teman-teman di sini lakukan setiap kumpul/jalan/makan bareng.
Ada apa di sana dan bagaimana di sini? Kami membaca di sana kenaikan harga tempe dan minyak (goreng ataupun tanah) yang semakin menggila. Sementara di sini sambil menikmati tempe yang digoreng dengan minyak olive dan/atau minyak jagung di atas kompor gas, kami masih memimpikan enaknya siomai goreng di pagi hari, nasi uduk di pojokan jalan Cikini, bakso pak kumis, ketokan khas tukang sate yang lewat saat magrib, ataupun tukang bakso yang nongkrong di pojokan RS Cipto Mangunkusumo. Rasa yang selalu memanggil kami untuk balik ke sana, sampai-sampai belum setahun di sini, rencana reuni di semua lokasi itupun sudah sering didiskusikan (termasuk menikmati tinutuan dan rica roa di tempat aslinya).
Keindahan dan kelezatan tersebut ternyata tidak bisa dinikmati sebagian lagi yang (karena takdir, katanya) menitipkan pusarnya di sana. Ada banyak alasan bagi mereka, termasuk "belum pernah merasakan hidup yang seenak di sini". "Pokoknya benci!" adalah alasan lain beberapa penjaga toko di daerah pinggiran Champs Elysses. Sebagian lagi selalu mendiskusikan tentang korupsi dan kesemrawutan di sana. Kita sempat tertawa membaca posting seseorang yang baru berlibur di sana. Orang itu mengeluhkan ribetnya urusan pembatalan pesawat di sana, sementara pada saat yang sama di sinipun akan sangat ribet untuk urusan tanpa perencanaan ataupun re-schedule (jangan katakan tidak, karena kita pernah kehilangan ratusan euro untuk hal ini). Kenapa kita selalu menganggap keteraturan adalah kewajaran di sini sementara (tanpa kita sadar) kita mengeluhkan keteraturan di sana.
Banyak yang salah memang di sana, tetapi ada banyak juga kesalahan kita di saat kita menganggap diri kita lebih tahu hanya karena kita hidup di sini.
Terlalu serius?
Kita hanya menganggap orang yang mengeluh itu adalah orang yang tidak pernah merasakan enaknya bergelantungan di bus yang penuh sesak, nikmatnya tahu isi di jembatan Pasar Baru ataupun segarnya tegukan teh botol s.... di pinggiran jembatan penyebrangan blok M.
Atau yang lebih seru lagi: mereka tidak pernah merasa menjadi manusia di sana.
Satu lagi:
Sabtu lalu kita menikmati ke"crowded"an di "the largest bulb flower park" di dunia. Tatanan yang indah dan penuh warna tapi sayang terlalu artificial. Tulip-tulip yang telah bermekaran penuh, yang harganya bisa berjuta-juta ketika diekspor ke sana, tetapi tidak ada harganya lagi di sini karena masa kuncupnya telah selesai (lihat di sini). Hari ini kita terpaku dengan 2 hal. Pertama saat melewati sebuah toko biological food, mata tertanam pada kuncup kembang tahi ayam (kalo nggak salah ingat, nama kerennya mary gold) yang dengan manisnya di-label-in "from Afrika" dan dihargai 6.95 euro. Hal yang kedua saat memasuki albert heijn supermarket yang sedang giat2xnya berpromosi film "Tarzan", dan menemukan "banana tree" dengan label "jungle" dengan gagahnya berdiri di tengah toko dalam wadah plastik. Kita tidak melihat harga di situ, tapi kita dan 2 teman kita langsung membayangkan daunnya untuk membungkus pisang ataupun aneka makanan di sana lainnya. Kita pun teringat kehati-hatian kita saat membuat lalampa dan pisang kukus, karena justru daun pisang (yang tidak dimakan) adalah bahan termahal di antara bahan-bahan lainnya (see pisang kukus here).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment