Monday, April 21, 2008

Ada "Larung" di Wageningen

Sabtu kemarin, kita mengetuk pintu kamar Ting2x, rekan sekoridor, mengajaknya "menghilangkan bayangan "David Bender" dengan segala teori metabolismenya" (yang sebenarnya sangat menarik buat kita if nggak disuruh ngafalin semua jalurnya!). Tawaran kita pun disambut gembira pemilik kamar yang juga kebingungan dengan t square-nya Longnecker.
Singkat kata, tibalah 2 penghuni koridor Haarweg 203 dengan sehat (karena sepeda) dan selamat (sempat terkagum-kagum sama kembang liar yang tiba2x bermunculan di sepanjang jalan sampe nggak sadar di depan ada mobil yang nggak "gentlemana" ) di tujuan kami: Pusat Desa Wageningen. Tujuan utama membeli bahan kebutuhan pokok hampir terlupakan manakala mata memandang jejeran tenda bermuatkan ratusan bahkan ribuan buku. Wow! Ada pesta buku!
Dengan semangat 45, kakipun melangkah sambil mata dengan cepatnya menelusuri rangkaian judul dan warna yang menggoda. Warna dan tampilan memang menggoda, tapi apa daya bahasa tak sampai! Kita pun terpaksa menatap dengan sedihnya jejeran Michael Crichton, Enid Blyton, Sherlock Holmes yang seakan ikut mentertawakan kami yang hanya bisa mengucap "dank u wel".
Untuk ukuran tempat sekecil ini, pasar buku "second hand" kali ini memang luar biasa. Koleksi ensiklopedi, buku pengetahuan, roman, rohani, sampai pada koleksi Disney terlengkap pun hadir. Dengan bermodalkan n70 yang cuman punya kemampuan 2 megapixel, kita pun bergaya layaknya fotografer pinggir jalan. Yang menarik adalah masih banyaknya koleksi buku tentang Indonesia jaman baheula yang dipajang dengan manisnya. Indonesia menjadi simbol kejayaan masa lalu negara ini. Kesan yang beberapa kali kita kutip dari percakapan dengan warga senior. Di sisi lain, percakapan dengan beberapa warga yunior, mengesankan Indonesia sebagai sejarah kelam bagi mereka. Seorang warga yunior yang menganggap Ratu sebagai "tukang gunting pita" doang, bahkan mengomentari kemujuran kita ke sini sebagai "kewajiban negaranya membayar apa yang dirampas selama 350 tahun".
Hal yang paling mengejutkan adalah ketika kita bertemu "LARUNG". Karya perempuan bernama Ayu Utami yang terpajang di antara deretan buku tentang Indonesia dijual dengan harga 9 euro. Dutch Edition. Dengan masih menyimpan kekaguman, kita pun menelusuri seluruh arena penjualan, mencoba mencari karya penulis Indonesia lainnya. Tidak ada! So, 2 tumbs to Ayu.
Pengen ketemu Larung juga? Klik di sini

Catatan kaki:
  • a pengayuh sepeda adalah warga terhormat kedua (sesudah pejalan kaki), sehingga sekalipun masih jauh pengemudi mobil akan memperlambat mobilnya saat melihat sepeda akan menyebrang. Sayangnya ada juga (not more than 10%) sopir yang terburu-buru dan malas memberikan jalan pada pengayuh sepeda.

No comments: