Nggak tahu kenapa, aku kok kayaknya suka banget membandingkan tampang orang (off course anak buahnya Adam) yang secourse samaku. Yang satu tampangnya kayak bayi banget, he..he..he..., sampe mikir ini anak umur berapa sih? Kok kayak anak SD yang tersesat di tengah kumpulan orang dewasa. Sebaliknya yang satu, ha..ha..ha..., nggak bisa dilukiskan deh. Sudah mukanya nggak kelihatan (ketutup kumis sama jenggot), matanya menyeramkan, pokoknya nggak ada bagus2xnya. Lucu aja setiap melihat si bayi dengan lancarnya berargumen sama si dosen dengan tampang yang menggemaskan, dan di lain waktu si seram berargumen dengan Engels yang rada parah masih ditambah mata yang melotot.
He..he..., tulisan ini mungkin nggak akan ada kalo hari ini aku nggak berpapasan sama si seram (ternyata doi anak Haarweg juga) yang dengan jaket kulit hitam panjang, rambut sepinggang yang diikat, dengan santainya bergandengan tangan dengan sepasang suami isteri dan dengan bahasa yang tidak kumengerti menunjukkan cara membuang botol di depan asrama. Rada menyesal juga C770-ku nggak kubawa (lagian apa berani aku mengambil foto mereka:D). Surpriseku berlanjut ketika tanpa sengaja aku mendengar alasan dia mo cepat pulang dari praktikum untuk bersama dengan orang tuanya yang lagi berkunjung (dan tinggal di kamar dia!).
Ada rasa malu juga, secara waktu kuliah dulu kayaknya aku kok paling nggak mau (baca: malu banget) jalan sama orang tua. Dan selama 5 tahun menetap di perumahan kampus, hanya di hari wisudalah orang tuaku melihat tempat tinggalku.
Pelajaran hari ini: (sekali lagi!!!) jangan men"judge" orang dari tampangnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment