Tuesday, October 14, 2008

Baju Gereja

Hari Minggu lalu sepulang PA di Dijkgraf, kita berpapasan dengan 2 gadis remaja Belanda yang terlihat manis dalam balutan rok dan sepatu yang indah. Rada penasaran juga, anak2x ini mo ke mana? Setahun tinggal di little town ini, jarang banget kita bertemu dengan model berpakaian remaja model begini. Biasanya mereka berseragam-kan jeans ketat, sepatu kets belang-belang dan jaket pendek model terbaru. Kedua remaja ini terlihat terburu-buru dan menyelib sepeda kita dan seorang teman. Tiba-tiba terdengar lonceng Gereja berbunyi, teman kita langsung erkomentar, kayaknya anak2x itu mo ke Gereja. Kita sempat kaget juga, dan langsung teringat Gereja yang selalu kita lewati ke dan dari Forum. Immanuel Kerkt, bangunan Gereja modern yang begitu berbeda dengan bangunan Gereja di Centrum ataupun Aula Dei (Gereja Katolik). Masih dengan rasa penasaran, kita dan teman kita memacu sepeda kami yang kebetulan searah dengan kedua remaja itu. Makin mendekati lokasi, kamipun berpapasan dengan makin banyak orang dengan pakaian yang begitu rapi. Beberapa pasangan tua yang bergandengan tangan, seorang Ibu lengkap dengan topi bulu tinggi, jaket bulu indah, merangkulkan tangan pada si Bapak yang berjas lengkap dengan dasi. Beberapa remaja dan pemuda pria di atas sepeda pun terlihat rapi dengan jas yang menyempul dari balik jaket. Kita sebenarnya ingin mengabadikan moment ini, tapi ketergesaan mereka dan ketidaknyamanan mengambil foto tanpa izin, menyebabkan kita mengurungkan niat "jahat" itu. Sayangnya kita belum menemukan jalur akses ke Gereja ini. Ingin juga melihat isi dan tatacara ibadah di Gereja ini.
Anyway
Sebenarnya tulisan ini lebih pada bayangan Gereja kita, jauh di seberang sana. Ibadah di hari Minggu biasanya sekaligus sebagai ajang fashion show:D; secara desa kecil yang jarang ada acara, maka satu-satunya tempat menunjukkan gaya kita adalah di Gereja. Kita membayangkan tahun-tahun yang lama, ketika kita yang masih remaja bereksplorasi dengan gaya untuk dipamerkan di hari Minggu. Rok jauh di atas lutut dengan beraneka macam ban pinggang penambah gaya, ataupun dandanan dengan gaya rambut. Kita ingat, hari Sabtu sore, rambut kita yang sepinggang sudah dicuci dan dibiarkan lebih dari setengah kering dan dipilin (cako dalam bahasa Minahasa), besok paginya rambut akan terlihat mengembang bergelombang, ha..ha...ha..., bandingkan dengan model rambut lurus sekarang.
Saat kita masuk ke dunia kerja, seorang teman di daerah berbeda sempat berkomentar; orang Manado itu (menunjuk ke Minahasa) walaupun sehari-hari bergumul dengan becek, pasti ada hari dimana mereka terlihat keren: hari Minggu. Teman itu kebetulan belum pernah ke Manado, tapi tinggal di kompleks orang Manado di Makassar. Kita sempat terdiam membayangkan keberanian kita yang mempelopori penggunaan celana panjang di Gereja beberapa tahun sebelumnya. Salahkah kita ditengah modernisasi memulai sesuatu yang baru?
He..he..he....,
Setiba di kamar, hari Minggu kemarin, mata kita menatap deretan baju yang tergantung di sisi lemari. Kita jadi sadar, walaupun jauh dari tempat kita, rasa-rasanya kebiasaan itu masih tetap melekat tanpa kita sadari. Jejeran rok dan blus yang hanya kita pakai kalo ke Gereja seolah menyadarkan kita kalo kitapun masih menganggap pakaian Gereja adalah pakaian yang berbeda dengan yang kita gunakan setiap hari. Dan jadilah beberapa pasang blus-rok yang baru sekali dipakai kita gantung sampai berminggu2x untuk digilir, karena untuk mencucinya kita terlalu malas (harus dicuci tangan untuk menjaga mutunya). Kita jadi mengingat kebiasaan kita untuk memakai baju yang baru dibeli ke Gereja sebelum dipakai ke tempat lain (kecuali kaos:D) rasa-rasanya masih terus kita lakukan sampai saat ini. Maka jangan heran, kalo sepatu yang sudah berbulan-bulan kita beli, baru saja kita reyen hari Minggu kemarin di ICF (sampai dipelototin seorang anak kecil:D).

No comments: