Thursday, May 8, 2008

10,000 tulips bulbs to Canada

Wageningen, 5 March 1945. Charles Faulkes, pemimpin pasukan Kanada akhirnya mencapai kata sepakat dengan komandan German, Johannes Blaskowitz di Hotel de Wereld. Satu hari sesudahnya, ditandatanganilah dokumen pembebasan Belanda dari kungkungan Jerman di Aula Wageningen University yang berada di samping Hotel de Wereld. Penandatanganan ini mengakhiri masa hitam bagi penduduk Belanda, yang digambarkan oleh khadim pada ibadah beberapa bulan lalu, sebagai masa paling kelam dalam hidupnya. Ibunya hanya bisa menyiapkan sepotong roti untuk dimakan oleh seisi rumah ang beranggota lebih dari 7 orang.
Tanggal 4 Mei 2008, Rev. Josine mengajak kami, international student dalam ibadah di Wageningen Student Chaplaincy untuk mengingat para korban perang, mereka yang meninggal karena kekerasan perang. Perang hanya menghancurkan peradaban.
Dan hari itu, 5 Mei 2008, kita berkesempatan menyaksikan peringatan terbesar di Kota kecil ini. Banyak orang berdatangan menyaksikan parade para veteran, musik bagi orang muda, serasa berada di tengah pesta 17 Agustus-an di Indonesia. Yang membedakan mungkin adalah kalo kita menikmati di indonesia, kita tidak diizinkan untuk berpesta sebelum acara perenungan (baca: upacara bendera) berakhir. Di sini, suara musik rock yang berdentum keras, dj dengan segala bunyi di atas panggung, tarian international student dari Afrika yang bergemuruh tidak membutuhkan seremonial. Kedua-duanya berjalan bersama-sama tanpa saling mengganggu.
Ini yang mungkin menyebabkan para muda-mudi dengan senangnya berpesta tanpa harus dikengkang kebebasannya dengan upacara yang hanya mau dinikmati generasi abg (angkatan babe gua)-nya.
Tentang judul di atas, sebagai tribute untuk tentara Kanada, setiap tahun Ratu Belanda mengirimkan 10,000 kuncup tulip ke Kanada dan di saat yang sama bendera Kanada akan berkibar di Belanda berdampingan dengan bendera Amerika, Inggris, Portugis, Spanyol dan yang lainnya.
Untuk foto klik di sini

No comments: