Thursday, December 6, 2007

Sinterklaas dag


Kesibukan di minggu ini membuat kita sedikit melupakan Hari Sinterklaas. Padahal sejak 1 November, seorang teman 1 koridor telah memulai dengan membagikan Sinterklaas chocolade letter. Saat pulang ke tempat tinggal sehabis latihan poco-poco tadi malam, sayup-sayup kita mendengar lonceng Gereja. Dengan semangat 45, kita memacu sepeda sekencang-kencangnya mencoba mendekati sumber lonceng itu. Di benak kita terbayang iring-iringan Sinterklaas yang selama ini selalu kita nikmati di hari-hari ini di suatu tempat ribuan kilometer dari sini. Untungnya lonceng itu terus berdentang. Semakin mendekati sumber lonceng, adrenalin yang sempat terpacu perlahan-lahan menurun. Tidak ada tanda-tanda rombongan Sinterklaas. Yang ada adalah rombongan jemaat yang berbondong-bondong menuju ke Gereja. Terdiam, kita menghentikan sepeda di depan Gereja itu. Gereja yang tiap hari kita lewati hampir 2 bulan ini. Gereja pertama yang kita temui di negeri ini yang berarsitektur modern, berbeda dengan Gereja-Gereja lainnya yang biasanya berusia ratusan tahun. Kita teringat tulisan dan ucapan beberapa orang tentang kosongnya Gereja di Eropa. Tadi malam, dengan pandangan terpesona, kita menatap sendiri jejeran mobil yang memenuhi halaman Gereja yang luas, barisan mobil memanjang di samping kiri-kanan jalan depan Gereja. Beberapa orang yang tergesa-gesa berjalan menuju Gereja, tua dan muda bahkan anak kecil. Tadi malam, Rabu malam bukan Minggu malam, kita menikmati makna lain dari Hari Sinterklaas. Di tempat yang ribuan km jauhnya dari sini, dimana rindu selalu kita bisikkan untuk tempat itu, hari-hari ini adalah hari yang paling menakutkan bagi anak kecil dan hari hura-hura bagi anak muda. Dalam sehari, kita akan berpapasan dengan rombongan anak muda, dengan seorang berpakaian Sinterklaas lengkap dengan tongkatnya serta beberapa orang lagi menghitamkan tubuh dan wajahnya. Rombongan yang bisa sampai beberapa mobil akan berkeliling kota dengan suara musik Natal yang sekeras-kerasnya, bergelantungan di atas mobil, memacetkan lalulintas, dan terutama berteriak memanggil anak yang akan dikunjungi. Tidak sedikit dari rombongan itu baru selesai melaksanakan tugasnya di atas jam 12 malam dan setelah itu berhura-hura.

Foto di samping ini kita ambil karena punya cerita lucu. Salah satu anak sangat penakut, sebaliknya yang satu tidak. Waktu kita tawarkan memakai pakaian Sinterklaas, dua-duanya sangat antusias, dan menikmati peran mereka membagikan berkat pada teman-teman mereka di Panti Asuhan. Saat akan pulang dari salah satu PA, kebetulan bertemu dengan rombongan Sinterklaas lainnya. Jadilah yang satu menghibur yang satu yang menangis ketakutan. Ada kesan tersendiri juga, karena ini kali yang pertama bagi salah satu anak tanpa didampingi orang terdekat. Sesuatu yang sempat mencemaskan kita. Sekali lagi selamat Hari Sinterklaas (walaupun sudah terlambat).

No comments: