Friday, May 1, 2009

say yes to koki ^_^

Wakakakakak, ternyata lama juga aku meninggalkan blogger ini. Padahal blogger penuh kenangan ini dimaksudkan sebagai curahan hatiku selama menjalani hidup di tanah orang. Thanks to kawan2x di kokiers (ex kolom kita kompas.com) terutama mamaknya Zev, yang "memindahkan" sementara kolom kita itu ke blogger sehingga "kita jurnal" puin bisa kita buka lagi. Btw, buat yang masuk ke kamar kita ini; sebagai informasi, kita menggunakan nama "kita" bukan untuk ikut-ikutan dengan kolom kita (wakakakakak), karena kita belum mengenal "kolom kita" pada saat memutuskan menggunakan "kita" sebagai identitas kita. Identitas ini kita ciptaan demi tujuan huru hara di salah satu forum tempat kita sering berinteraksi. Sebelum aktif menggunakan identitas ini, seiring dengan lambatnya koneksi internet di tanah air kita, kitapun sering merubah identitas kita ketika berinteraksi. Biasanya kita akan menggunakan identitas yang berbeda bila kita berada di kota yang berbeda. Bermacam-macam nama pernah kita gunakan, termasuk nama spesifik yang merujuk pada jenis kelamin dari daerah kita. Nama kita sebenarnya secara iseng kita gunakan setiap berada di salah satu sudut warnet di Kelapa Gading kira-kira 4 tahun lalu (kita kenal koki baru tahun lalu lho ^_^). Dan nama itulah menjadi pilihan kita ketika akhirnya kita berada di tempat yang menghalalkan penggunaan internet 1x24 jam tanpa harus membayar sambungan jam-jaman seperti yang selama ini kita lakukan.

Secara Bahasa Indonesia, kata "kita" merujuk pada bukan hanya 1 orang. Sekumpulan orang yang punya sesuatu yang sama (hehehehe, dilarang protes, ini definisi seingat gua, lagi malas buka kamus ^_^). Tetapi secara kamus Toar Lumimuut, kata itu merujuk pada hanya 1 orang, yaitu diri sendiri. Kata turunannya seperti kita orang, menjadi pengganti untuk kata "kita" yang sesuai dengan Bahasa Indonesia. Selanjutnya dengan kecepatan perkembangan Bahasa Toar Lumimuut; kata kita orang berubah menjadi kitorang, menjelma menjadi torang dan berujung pada "tong". Hebat kan turunan Toar Lumimuut! Lihat aja kata yang tadinya panjang disingkat menjadi 4 huruf. Wakakakakakakak (ketawa dulu, sekalian istirahat nulis).


Lanjut lagi. Beberapa hari ini, kabar menghebohkan melanda komunitas yang semakin membengkak itu. Koki akan dilebur! Tidak adil! Siapapun yang pernah berseluncur di 2 tempat itu akan berkesimpulan sama: beda banget! Bukan cuman warnanya yang beda, tapi gaya tulisan yang sangat sangat beda; yang mungkin dilatarbelakangi keperbedaan latar belakang penulis di 2 tempat itu.

Sebagai penikmat baca, sejak mengenal koki setahun lalu, koki adalah bacaan wajib menemani kopi dan roti pagi kita. Bukan untuk tujuan promosi, tapi urutan berseluncur kita biasanya adalah yahoo, 2 koran daerah, forum, koki, dan detik. Tidak adil kalo kita tidak mengaku bahwa kita mengenal koki bukan karena kompas. Selain mengklik detik.com; kita juga sering mengklik kompas.com; tempointeraktif.com; suara pembaruan dan sinar harapan; cuman untuk membandingkan berita jika ada yang menarik. Karena terbiasa (secara tidak langsung direkomendasikan oleh koran daerah, karena mereka banyak mengutip detik.com), peselancaran kita ke koran2x internet itu cuman sebagai sambilan, sampai tanpa sengaja jari kita mengklik koki. Dimulai dengan tersenyum sampai tertawa didepan komputer selama berbulan-bulan; kita lupa kapan akhirnya kita memutuskan untuk punya account di koki. Tapi yang pasti karena jari kita sudah gatal menuliskan komentar di sebuah tulisan kokier.

Ternyata tidak sampai disitu, dengan alasan yang kita sendiri lupa, suatu kali kita mencoba mengirimkan tulisan via email ke Zev. Harap harap cemas sebagai pemula, kita pun tidak banyak berharap tulisan itu akan muncul. Hehehehe, ternyata tulisan kita muncul! Senangnya! Kepuasan batin yang tidak terganti dengan uang atau benda apapun. Sampai sampai kita menyempatkan diri mempastekan tulisan tersebut di beberapa milis dan forum yang kita ikuti (sombong mode:ON). Tulisan kita pun tentang suasana Sinterklaas di negeri kecil ini menuai pujian dari kenalan kita yang sampai bela-belain menghubungi saudaranya yang bisa berbahasa Indonesia untuk menterjemahkan tulisan kita. Bukan apa2x, karena rumahnya menjadi salah satu lokasi dalam tulisan (dan terutama gambar) itu, kitapun mempaste-kan tulisan kita ke email dia dan ternyata dipastekan ke milis dia. Yang memalukan sesudah kejadian itu, setiap mereka (pasangan suami isteri) mengenalkan kita ke kenalan mereka, ada embel-embelnya: "she is a writer" sesuatu yang sudah berulang-ulang kita sangkal saking nggak enaknya dibilang penulis. Siapa juga yang penulis. To tell the truth, nama besar kompas termasuk berperan di sini; karena saudaranya kenalan kita pernah tinggal cukup lama di Indonesia dan tahu kelas koran semacam Kompas, sehingga tulisan iseng2x kita disejajarkan dengan tulisan wartawan (oleh kenalan kita dan saudaranya). Kita tidak tahu kelanjutannya, tetapi tiap bertemu, kenalan kita itu selalu bertanya: sudah ada tulisan baru? Untunglah kita jarang mengirimkan tulisan ke Zev, kalo nggak kayaknya akan menambah beban kerja saudaranya kenalan kita.

Kolom kita menyajikan tulisan ringan namun berisi, yang hanya bisa dihasilkan oleh orang2x yang menulis tanpa beban. Menulis bukanlah pekerjaan utama para penulis bebas itu, tetapi justru dengan kebebasan itu, tulisan bebas yang dihasilkan sangat kental unsur bebasnya. Bebas menulis (tanpa takut dapur tidak berasap), bebas mencela tulisan orang. Dan bagi kita pribadi, kebebasan dicela pun menjadi salah satu pembebas untuk semakin bebas mengekplorasi kata dan rangkaian kata.

Dan sayangnya, 30 April 2009 menjadi saksi dipasungnya kebebasan oleh orang-orang yang mengagungkan kebebasan itu sendiri. Kita mengenal artinya bebas dari kecil lewat petualang Bobo, Coreng (hehehehe, saat kecil kita sering mengidentikkan diri dengan tukang coret ini^_^), Upik, Nirmala, Bona, dll; bebasnya masa remaja bersama hai (di saat teman2x kita sibuk dengan gadis); sambil terus dijejalin pengetahuan setiap bulan lewat Intisari (untuk yang satu ini, mungkin hanya edisi 2 tahun terakhir ini yang belum kita baca, karena koleksi keluarga kita dari sejak intisari itu terbit). Sayangnya kebebasan yang telah meniup sayap kita jauh menapak bumi, hari itu kembali terpasung dalam satu kata: "kebebasan". "Kebebasan adalah mata rantai terkuat dari jerat yang membelunggumu". Rangkaian Gibran itu mungkin dengan jelas menggambarkan perasaan kita dengan ditutupnya kolom kita oleh yang menamakan diri "Management Kompas".

So, so long farewell; kita akan tetap membuka petualangan Agustinus di travel; membaca sambungan novel Ali Topan Wartawan Jalanan (hehehehe, hati-hati Ali kebebasan yang kamu perjuangkan mungkin akan diberangus pula) tapi jangan paksa kita membuka rubrik yang hanya menambah kerutan di jidat kita, yang sering (tidak semua) ditulis dengan penuh kearogansian.


1 comment:

Dewi Meong said...

kita KOKI is the best yaa